PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono menjadi tamu agung di Nanggroe Aceh Darussalam, awal Agustus lalu. Ia mengenakan pakaian adat Aceh, menyunggi rencong di pinggang. Kopiah meukutop juga tersemat di kepalanya, bak raja-raja Aceh dahulu kala. Membuka Pekan Kebudayaan Aceh Kelima, Yudhoyono berada di Stadion Murtala, Banda Aceh, didampingi Gubernur dan puluhan pejabat daerah.
Presiden pun dinanti dengan karpet merah untuk mengunjungi anjungan masing-masing kabupaten. Dalam jadwal, ia akan berkunjung ke anjungan Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Selatan. Ini bukan sembarang dipilih. Banda Aceh adalah tuan rumah dan Aceh Selatan adalah juara umum perhelatan tahun sebelumnya.
Anjungan Aceh Selatan sudah berbenah. Pasukan Pengamanan Presiden sudah mondar-mandir memeriksa setiap sudut. Tapi perhatian Presiden dicuri oleh ibu-ibu yang berjejer di depan anjungan Aceh Besar. "SBY-Boediono, lanjutkan!" kata mereka. Presiden tersenyum. Sang tamu agung segera dipersilakan masuk. Pejabat Aceh terperanjat karena anjungan Aceh Besar tak masuk agenda dikunjungi. Sementara itu, di anjungan Aceh Selatan, Bupati Husin Yusuf sudah menunggu. Dua "pelaminan" telah ditaruh di sana, untuk menyandingkan Presiden dan Ibu Negara.
Saat Presiden keluar, rupanya protokol alpa mengarahkan Presiden masuk ke anjungan Aceh Selatan. Presiden pun jalan terus, masuk ke anjungan Kota Banda Aceh. Anjungan Aceh Selatan, yang sudah tertinggal jauh di belakang, terus dilupakan. Panitia pun panik. Bupati marah-marah. Juru bicara Presiden, Andi Mallarangeng, berupaya menenangkan bahwa segala sesuatunya berjalan tanpa disengaja.
Tapi suasana tetap panas. Wakil Gubernur Muhammad Nazar, yang menjadi ketua panitia, berusaha membujuk petugas di anjungan Aceh Selatan. Tapi ia dicegat di pintu anjungan. Bupati Husin Yusuf, yang sedari tadi duduk termenung, lalu bangun. Dengan emosional, ia membuka baju adatnya. Tinggallah kaus dalam berwarna putih. Sebagian perempuan yang menjadi anggota panitia menangis histeris. Dandanan mereka belepotan. "Saya kecewa... saya kecewa...," kata Husin berulang-ulang, sebelum dituntun masuk mobil dan pergi meninggalkan anjungan. Malam itu juga, anjungan Aceh Selatan diberi label: "Ditutup".
Seusai pesta, Gubernur Irwandi Yusuf didemo sekumpulan mahasiswa Aceh Selatan. Irwandi berjanji menyelesaikan masalahnya dengan panitia. "Utang di lapak harus dibayar di lapak," kata Irwandi. Entah apa artinya. Yang jelas, Presiden SBY sudah kembali ke Jakarta.
Adi Warsidi (Banda Aceh)
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

