• Home
  • 31 Agustus 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 31 Agustus 2009

    Italia
    Hawa di Pucuk Mafia

    Bahkan julukannya pun berbau maskulin: si Kucing Gemuk atau si Tomboi. Julukan terakhir ini diberikan kepada seorang perempuan yang ditembak di wajah dalam sebuah penyergapan.

    Para perempuan yang tinggal di Napoli, sebelah selatan Italia, itu tak sedang bernasib nahas lantaran terjebak dalam konflik bersenjata. Mereka adalah pelaku aktif. Mereka tak tinggal diam ketika suami mereka dicokok petugas. Mereka mengisi posisi pasangannya sebagai pemimpin dalam klan kriminal tradisional ala Italia ini dan terlibat dalam baku tembak. Sudah belasan yang ditangkap kepolisian Napoli dalam bulan Juli saja.

    Belasan orang itu, di antaranya seorang ibu dan dua putrinya yang sudah dewasa, dituding melakukan sejumlah tindak kriminal, termasuk pemalakan. "Kebanyakan dari mereka entah janda entah istri dari suami yang dipenjara. Mereka memegang kendali, dengan strategi sangat bagus, bahkan lebih tajam dari suaminya," kata Jenderal Gaetano Maruccia, komandan polisi paramiliter Carabinieri di wilayah Napoli.

    Dalam tradisi Camorra, klan mafia yang kuat mengontrol dunia kriminal di Napoli, kekuasaan perempuan sudah berlangsung cukup lama. Setidaknya sejak 1950-an, ketika seorang mantan ratu kecantikan yang sedang hamil menembak seorang pria yang pernah menyuruh pembunuhan suaminya. Sejak itu, Assunta Maresca, dijuluki pupetta atau boneka kecil, menjalani kehidupan yang sarat kriminal, meski harus melahirkan di penjara.

    Sebagian besar perempuan itu pada mulanya masih sekadar menjalankan fungsi tradisional, seperti memotong dan mengemas ulang kokain dan he-roin di dapur, atau membayar anak-anak untuk mengintai polisi. Tapi belakangan sebagian dari mereka benar-benar menguasai jalanan. Mereka memalak pedagang dan pemilik toko untuk "pizzo" atau uang jatah preman dan mengendalikan bisnis narkoba ribuan kilogram. Ada yang mengatakan ini sejalan dengan kultur keluarga Italia yang lebih mempercayakan bisnis diteruskan ke kerabat perempuan daripada ke luar klan.

    Satu di antara mereka adalah Maria Licciardi, "pemenang" konflik klan yang telah beberapa tahun belakangan membuat jalan-jalan Napoli sering jadi area duel maut. "Signora Licciardi adalah madrina (godmother) sejati," kata Stefania Castaldi, jaksa Napoli, penyelidik mafia. "Dia adik perempuan pemimpin mafia, duduk satu meja dengan para bos, membuat keputusan. Dia satu level dengan mereka semua." Dijuluki a piccirella atau si mungil, Licciardi ditangkap delapan tahun lalu ketika tengah menyetir mobil di dekat Napoli. Buron sejak 1999, Licciardi masuk daftar 30 buron paling dicari di Italia. Salah satu tuduhannya adalah ia pernah menyuruh eksekusi 30-an orang dari klan pesaingnya.

    Perempuan Camorra, menurut Anna Maria Zaccaria, sosiolog Napoli, mengikuti tradisi matriarkis masyarakat Napoli, yang mengandalkan perempuan dalam mengatur rumah tangga dan membesarkan anak. Dalam klan mafia, itu termasuk menentukan bunga rentenir atau mendorong anak tumbuh dalam tradisi kriminal. Juga mengatur pernikahan yang memperkuat jaringan klan.

    Tanpa pistol, mereka bisa menekan anak-anak menjaga kehormatan keluarga dengan menyerang membabi-buta. Seperti Concetta Prestieri, ibunda klan Di Lauro. Pada 1981, sanak keluarganya menyiksa dan membunuh seorang rivalnya di gudang bawah tanah. Setelah itu, mereka naik ke dapur Prestieri. "Sambil menyimak cerita mereka, sang ibunda memasak spageti dan menghidangkannya di meja," kata anak Concetta yang kemudian menjadi informan polisi.

    Tapi ini bukan berarti mereka sepenuhnya menyamai sang suami. Sesungguhnya toh mereka hanya menjadi bayangan pengganti, bukan ratu lebah dalam arti sesungguhnya. Dalam etika Camorra, sang pemimpin pria boleh punya sebanyak mungkin kekasih, bahkan di depan umum, karena itu memperkuat citranya. Tapi perempuan Camorra tak akan dimaafkan bila melakukannya.

    Kurie Suditomo (Associated Press, Huffington Post, Telegraph)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Tari

Meleburkan Okinawa dengan Jawa

Indonesiana

Buka Baju Karena Kecewa

Pesta Dangdut di Ruang Sidang

Buku

Bukan Sekadar Terjemahan

"Ada Pemimpin yang Tak Peduli Power"

Agama

Putu Lahir Jadi Pandita

Seni Rupa

Badut Sirkus Kontemporer

Wajah yang Menyapa dan Disapa

Album

PENGHARGAAN
Rifki Febriansyah, Aditya Ashar, Dyani Primasari

Catatan Pinggir

Modernitas

TEMPO|interaktif

Metro

Buru Penembak Satpam IPB, Polisi Bentuk Tim Khusus

Olahraga

Babak I, Inter Ungguli Indonesia Selection 2-1  

Olahraga

Thomas-Uber Gagal, Pelatnas PBSI Harus Dievaluasi

Nasional

Soksi Bentuk Satuan Tugas Pemenangan Ical

Nasional

Siswa Nilai UN Tertinggi Begadang demi Barcelona  

Cawagub Didik Tolak Pengunduran Penetapan DPT  

Internasional

Senator Australia Dukung Bebas Visa bagi WNI  

Nasional

Lulus Ujian, Siswa Madrasah di Bima Bantu Korban Banjir

Metro

Berkas Satu Pengeroyok Geng Motor Dilimpahkan  

Olahraga

Inter Milan Duetkan Milito-Longo

Olahraga

Kandaskan Korea, Cina Rebut Kembali Piala Uber

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif