PARTAI Banteng dan Taufiq Kiemas tak mungkin bisa dipisahkan. Sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Pusat, pengarahan "TK"-demikian dia biasa disapa-amat menentukan warna Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Posisinya sebagai suami Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDIP, membuat pengaruhnya makin dominan.
Itulah sebabnya pernyataan TK yang memuji pidato pengantar Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang dibacakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di parlemen, awal bulan ini, langsung ditafsirkan macam-macam. Pujian hangat itu seperti sinyal pertama mencairnya ketegangan PDIP-Demokrat pascapemilihan presiden.
Isyarat TK itu langsung ditindaklanjuti oleh kader PDIP, yang kemudian menyiapkan pertemuan antara Ketua Umum Partai Demokrat Hadi Utomo dan Megawati di Jalan Teuku Umar, dua pekan lalu. Sejak itu, kabar burung bergulir makin kencang: Partai Banteng akan bergabung dengan koalisi partai pendukung Presiden SBY.
Kamis pekan lalu, Taufiq Kiemas bersedia menerima Arif Zulkifli, Wahyu Dhyatmika, dan Sunudyantoro dari Tempo untuk menjelaskan apa yang terjadi di balik layar Teuku Umar.
Mengapa PDI Perjuangan memilih merapat ke Demokrat?
Begini, ya. Kedua partai ini kan nasionalis? Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono itu sama-sama Pancasilais. Kedua partai ini sama-sama berjuang untuk pluralisme dan demokrasi. Karena itulah kami tidak boleh bertengkar. Kalau sampai kami tidak bersatu, kita semua yang akan rugi.
Ada kabar PDIP merapat ke SBY karena sudah lelah beroposisi....
Bukan itu. Ini masalah kebangsaan. Masalah ideologi di kita ternyata belum selesai. Apalagi dengan peristiwa pengeboman JW Marriott-Ritz Carlton dan ancaman terorisme seperti sekarang. Semua kaum nasionalis harus bersatu. Nanti, 2014, mau berkompetisi lagi, ya silakan....
Sejak kapan pendekatan dilakukan?
Kami sudah mulai berkomunikasi sejak sebelum pemilihan umum legislatif. Sebelum pemilihan presiden, sebenarnya pendekatan juga intensif dilakukan. Terakhir, ya... kedatangan Ketua Umum Partai Demokrat Hadi Utomo menemui Ketua Umum PDIP di Teuku Umar, dua pekan lalu.
Anda sendiri pernah berkomunikasi dengan Presiden Yudhoyono soal ini?
Belum pernah. Kami cukup menggunakan bahasa hati. SBY kan sahabat saya.
Demokrat kabarnya siap mendukung Anda menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat....
Saya sebenarnya sudah dicalonkan menjadi Ketua MPR pada 2004. Anda bisa tanya pemimpin Partai Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan ketika itu. Justru saya yang waktu itu tidak mau.
Apakah sudah dihitung bagaimana reaksi pendukung akar rumput PDIP jika koalisi ini benar terwujud?
Sudah. Tidak ada masalah. Kami sudah berkeliling ke daerah-daerah. Mereka selama ini diajak susah saja mau, kok, apalagi ini diajak senang. Masak tidak mau? (Taufiq terbahak).
Ada yang khawatir keputusan PDIP bergabung ini menyebabkan kekuasaan Presiden terlalu besar....
Tentu tidak. Di parlemen, PDIP tetap akan kritis. Kami akan menjadi loyalis kritis. Jangan takut soal itu.
Bagaimana dengan masalah-masalah selama pemilu presiden lalu? Apakah itu tidak menjadi pertimbangan?
Tidak ada itu. Kalau sudah kalah, ya kalah saja. Tidak perlu mencari alasan macam-macam.
Bagaimana bentuk kesepakatan koalisi PDIP-Demokrat kelak? Ada kontrak yang disiapkan?
Berjabatan tangan saja cukup. PDIP selalu jujur, tidak pernah menipu orang.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

