• Home
  • 31 Agustus 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 31 Agustus 2009

    Terorisme
    Dana Mengalir Sampai Jauh

    PENGAJIAN pagi itu sedianya berlangsung dua jam. Ceramah keagamaan setiap Rabu itu diisi ustad Abu Jibril di Masjid Al-Munawwarah, Pamulang, Tangerang. Pesertanya perempuan-kebanyakan berpakaian hitam dan sebagian bercadar.

    Kali ini jatah ceramah dipangkas sejam. "Karena harus memberikan keterangan kepada wartawan tentang penangkapan anak saya," kata Abu Jibril. Ketua Majelis Ta'mir Masjid Al-Munawwarah itu adalah ayah Mohamad Jibril, yang ditangkap di Pamulang, Selasa pekan lalu.

    Sejam sebelumnya, polisi menyatakan Mohamad Jibril Abdul Rahman alias Muhamad Ricky Ardhan masuk daftar pencarian orang kasus bom Hotel JW Marriott-Ritz Carlton. Ia diduga terkait pendanaan peledakan hotel bintang lima di Mega Kuningan, Jakarta, itu.

    Mohamad Jibril adalah pemilik situs Arrahmah yang dikelola PT Arrahmah Media. Portal ini tampil dengan slogan "berita dunia Islam dan berita jihad terdepan". Arrahmah rajin menayangkan berita eksklusif, seperti gambar jenazah Imam Samudra, pelaku bom Bali 2002. Mereka juga media pertama yang menayangkan surat terbuka dari orang yang mengaku Noor Din M. Top setelah peristiwa bom Marriott-Ritz.

    Dalam blog Arrahmah, Mikaiel, adik Jibril, mengatakan kakaknya ditangkap tiga orang berbadan besar di depan Perumahan Witanaharja, Pamulang. Jibril diborgol dan dibawa ke dalam mobil Honda CRV berwarna perak dengan nomor B-8190-CX. Mobil itu melesat ke arah Pondok Cabe, Jakarta Selatan. "Kami sempat ngejar, tapi kehilangan jejak," kata Mikaiel.

    Malam setelah penangkapan itu, polisi menggeledah kantor PT Arrahmah Media di Bintaro, Jakarta Selatan. Polisi menyita empat komputer, empat berkas, cakram video, serta laptop.

    Berdasarkan kartu penduduk dan paspor, Jibril memiliki data lahir berbeda, yakni Banjarmasin pada 3 Desember 1979 serta Lombok Timur pada 28 Mei 1984. Juru bicara Kepolisian, Inspektur Jenderal Nanan Soekarna, mengatakan Jibril diduga berperan dalam pencairan dana dari luar negeri dalam bom Marriott-Ritz. "Masih dalam penyelidikan," kata Nanan.

    Mohamad Jibril pernah kuliah di Pakistan, dan aktif dalam kelompok diskusi Al-Ghuraba. Kelompok ini terdiri atas mahasiswa Indonesia dan Malaysia yang kuliah di Pakistan. Mereka biasanya menggelar diskusi di asrama mahasiswa Jami'ah Abu Bakar, Karachi.

    Sumber Tempo di Kepolisian mengatakan Al-Ghuraba-meski sebagian anggotanya nonaktif-menjadi pintu masuk Al-Qaidah. Polisi Pakistan pernah menangkap enam mahasiswa, di antaranya Rusman Gunawan alias Gun-gun, adik Hambali. Gun-gun terbukti membantu mencairkan dana untuk melancarkan aksi bom di Marriott pada 2003. Ia divonis empat tahun penjara pada 2004.

    Polisi belum memastikan keterlibatan Al-Qaidah dalam bom Marriott-Ritz. Sumber Tempo mengatakan Al-Qaidah tetap memiliki peran dalam peristiwa bom tahun ini, termasuk di depan Kedutaan Australia pada 2004 dan di Bali pada 2005. "Sampai sekarang kan belum terungkap sumber dananya," kata sumber itu.

    Bom Bali 2002 dan Marriott 2003 disokong oleh dana luar negeri melalui Hambali alias Riduan Isamuddin. Informasi itu berasal dari berita acara pemeriksaan Ali Ghufron alias Mukhlas dan Rusman Gunawan. Aliran dana Al-Qaidah juga muncul dari pengakuan Mohd. Farik bin Amin alias Zubair, warga Malaysia yang ditangkap di Thailand dan kini berada di penjara Guantanamo.

    Hambali mengajukan proposal peledakan di Bali dan Marriott kepada Khalid Syah Muhammad, warga Pakistan, yang disebut-sebut sebagai tangan kanan Usamah bin Ladin. Hambali mendapat US$ 30 ribu dan 200 ribu baht. Pada bom Marriott 2003, Hambali mengajukan US$ 50 ribu.

    Dana dari Pakistan itu singgah dulu di Bangkok melalui mekanisme hawala, pencairan uang tanpa melalui bank atau transaksi elektronik antarnegara. Dari Bangkok, uang tunai dibawa menuju Indonesia melalui Malaysia.

    Setelah Hambali ditangkap di Thailand, pasokan dana untuk jaringan Noor Din tersendat. Polisi belum menemukan sumber pendanaan bom di depan Kedutaan Australia 2003. Dalam bom 2005, jaringan teroris ini disebut-sebut mengumpulkan dana sendiri dengan merampok toko emas di Serang, Banten.

    Dugaan munculnya dana asing mencuat lagi dalam bom Marriott-Ritz. Indikasi uang luar negeri itu tercium ketika Dani Dwi Permana, pelaku bom bunuh diri, membayar tunai kamar hotel. Tarif kamar itu US$ 120-210 per malam. Dani membayar dengan lima lembar US$ 100, tiga lembar US$ 20, dan dua lembar US$ 10. Nomor seri uang itu biasanya beredar di Timur Tengah.

    Adanya dugaan dana asing semakin kuat ketika polisi menangkap Al Khalil Ali di Kuningan dua pekan lalu. Inspektur Jenderal Nanan Soekarna mengatakan Jibril memiliki hubungan dengan Al Khalil Ali. Menurut dia, polisi sedang menyelidiki peran serta hubungan Ali dan Jibril.

    Ali, warga negara Arab Saudi, yang mengontrak rumah di Kuningan. Tapi paspor Arab Saudi Ali diduga palsu. Dalam beberapa kasus, jaringan teroris sering menggunakan nama palsu. Misalnya Agus Purwantoro, yang terlibat dalam peristiwa Poso, memiliki tujuh nama dengan paspor berbeda. Juru bicara Departemen Luar Negeri, Teuku Faizasyah, mengatakan kepastian identitas Ali masih menunggu konfirmasi pemerintah Saudi.

    Ali diduga menginap di kamar 1621 Hotel JW Marriott. Sumber Tempo mengatakan penghuni kamar 1621 melakukan kontak dengan kamar 1808, tempat menginap pelaku bom bunuh diri, Dani Dwi Permana. Di kamar 1808 ini polisi menemukan bom yang gagal meledak. Hubungan telepon itu berlangsung pada 15-17 Juli.

    Penasihat senior International Crisis Group, Sidney Jones, mengatakan kelompok Al-Ghuraba bisa jadi berperan sangat penting dalam pendanaan, meski belum terbukti. Al-Ghuraba berdiri atas dorongan Hambali untuk memperluas jaringan, pada 1999-2003. Hambali ditangkap di Thailand, dan kini di penjara Amerika di Guantanamo, Kuba.

    Al-Ghuraba, yang artinya "orang asing", terdiri atas mahasiswa Indonesia dan Malaysia yang sebagian besar anak atau adik anggota Jamaah Islamiyah. Abdul Rohim, anak pendiri Jamaah Islamiyah, Abu Bakar Ba'asyir, pernah aktif dalam kelompok ini. Sidney mengatakan Al-Ghuraba dekat dengan kelompok mahasiswa radikal Thailand Selatan di Karachi. "Jadi, sudah berkembang regional," kata Sidney.

    Kepala Kepolisian Jenderal Bambang Hendarso Danuri mengatakan Jibril dan Ali masih dalam proses pemeriksaan terkait dengan pendanaan. Menurut dia, masih ada mata rantai lain, termasuk kemungkinan keterlibatan Al-Qaidah. "Nanti akan kami jelaskan secara terbuka," katanya.

    Yandi M.R., Akbar Tri Kurniawan, Joniansyah (Tangerang)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Tari

Meleburkan Okinawa dengan Jawa

Indonesiana

Buka Baju Karena Kecewa

Pesta Dangdut di Ruang Sidang

Buku

Bukan Sekadar Terjemahan

"Ada Pemimpin yang Tak Peduli Power"

Agama

Putu Lahir Jadi Pandita

Seni Rupa

Badut Sirkus Kontemporer

Wajah yang Menyapa dan Disapa

Album

PENGHARGAAN
Rifki Febriansyah, Aditya Ashar, Dyani Primasari

Catatan Pinggir

Modernitas

TEMPO|interaktif

Nasional

Temui Nazar di Penjara, Nasir Terancam Sanksi  

Olahraga

14 Negara Asia Prohatin Sepak Bola Indonesia

Nasional

TPF Demokrat Soal Wisma Atlet Dianggap Akal-akalan

Olahraga

Dualisme Kompetisi, PSSI Tawarkan Dua Opsi

Metro

Jakarta Akan Diguyur Hujan Siang Ini

Olahraga

PSSI Akan Gelar Copa Indonesia

Nasional

Misteri Cadar Yulianis di Persidangan Nazar  

Inforial

Dari Yogya untuk Indonesia,dari Melia untuk Anda

Melia Purosani Hotel

Inforial

Luncurkan 360o Rewards

Standard Chartered Indonesia

Internasional

Vonis Hakim: Hukuman Kencan

Inforial

Di Sebuah Hari yang Bertabur Kasih

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif