DALAM poster berbingkai hijau, sepasang lelaki bertopi yang mengenakan kaus berkerah berciuman mesra. Salah seorang memegang sebotol anggur. Di dekat keduanya, seseorang tampak beraksi dengan kameranya. Inilah poster kegiatan bulanan para seniman lokal Wednesday Action yang berlangsung setiap Rabu minggu ketiga di Kedai Kebun Forum Yogyakarta, pada 2004.
"Lucu, ya?" kata Mira, salah satu pengunjung yang berfoto dengan latar poster itu dalam peluncuran arsip online Indonesia Visual Art Archive (IVAA)-http//:ivaa-online.org/archive-di Galeri Nasional, Jakarta, dua pekan lalu. Inilah layanan dengan wahana Internet berupa sistem database seni visual (kontemporer) yang diformat ke dalam bentuk teks, foto, audio, dan video. Dari 1996 sampai sekarang, mereka berhasil mengumpulkan 17.869.315 data.
Data tertua diperoleh dari makalah seni rupa Dewan Kesenian Jakarta pada 1969. Sejauh ini foto merupakan dokumentasi terbanyak lembaga yang sebelum April 2007 bernama Yayasan Seni Cemeti (YSC) itu. Image foto dibuat dalam bentuk low resolution untuk kemudahan diunduh ke halaman website. "Tidak bisa dicetak," kata Farah Wardani, Direktur Eksekutif IVAA. Sedangkan dokumentasi dalam bentuk audio dan video disajikan dalam durasi tiga menit. Koleksi lengkap tersedia di perpustakaan dan ruang arsip IVAA di Jalan Patehan 37, Yogyakarta.
Terinspirasi dari penyimpanan arsip di KITLV, Leiden, Belanda, kini Farah mengharapkan arsip online bisa menjadi salah satu sumber informasi, referensi, dan diskursus pengetahuan seni visual-termasuk pembentukan budaya kontemporer Indonesia. "Dengan menjadikannya online, semua orang bisa mengakses sekaligus juga menjaga perkembangan sejarahnya," katanya.
Dalam arsip online ini, pengunjung situs dipandu susunan rak database berdasarkan tema tertentu yang berhubungan dalam sebuah sistem tagging. Terbagi atas multimedia, identitas, youth culture dan industri kreatif, seni rupa dan ruang publik, seni rupa dan isu sosial, dan ruang alternatif. Juga rak berdasarkan tahun (1969-2008) dan lokasi, antara lain Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Ubud, Bali.
Pada multimedia, karya yang ditampilkan antara lain Nu Substance Festival, Pameran Seni Rupa Forbidden Zone, OK Video: Militia 3rd Jakarta International Video Festival, Pameran Senirupa dan Teater "Mata Panggung", dan Music for Public "Sound Performance".
Tema identitas menampilkan praktek seni visual yang menyinggung-bahkan menggugat-pembatasan eksistensi identitas yang mencakup antara lain teknik dan aliran seni, suku, agama, dan gender. Interpellation yang dikuratori Jim Supangkat dan kritikus luar negeri dalam CP Open Biennale pada 2003, misalnya, masuk kategori ini.
Budaya anak muda dan industri kreatif adalah ajang produksi kreatif anak muda, berikut industri seni yang melingkupinya. Seni rupa dan ruang publik menampilkan potret yang ada di lingkungan, kota, atau arsitektur seperti "Reinventing Bandung: a New Media Investigation on Urban", dan "Mencari Ruang Publik Lewat Seni Rupa Temporer". Dan tema isu sosial melibatkan diri dalam konteks sosial politik. Karya Angky Purbandono pada 2004, "Di sini akan di Bangun Mall", "4 Sehat Mo Limo Sempurna", dan "Mode Perempuan Muslim Indonesia", terekam di sini.
Sayangnya, koleksi IVAA masih dominan menampilkan aksi dan pameran seni di Yogyakarta. Mungkin karena asal mula dan lokasi lembaga ini berada di sana. "Kami masih perlu tiga tahun lagi untuk meningkatkan karya ini," kata Farah.
Martha W. Silaban
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

