Klarifikasi Universitas Islam Indonesia
DALAM majalah Tempo edisi Hari Kemerdekaan 17-23 Agustus 2009 halaman 8 terdapat berita meninggalnya Profesor Dahlan Thaib, ahli hukum konstitusi Indonesia. Namun dalam tulisan tersebut Profesor Dahlan diberitakan sebagai guru besar Universitas Indonesia.
Kami klarifikasikan, yang bersangkutan adalah guru besar Universitas Islam Indonesia. Demikian surat ini dibuat. Atas perhatian dan kerja samanya kami ucapkan terima kasih.
PROF. DR. EDY SUANDI HAMID
Rektor Universitas Islam Indonesia
Terima kasih atas pemberitahuannya. Pemuatan surat ini sekaligus sebagai ralat.
Resah Cara Pemasaran
SAYA sering terganggu dengan telepon yang menawarkan promosi bernada manis dan menggiurkan, padahal sebetulnya jebakan dan sarat penipuan. Biasanya telepon datang dari penawaran kartu kredit, keanggotaan klub fitness, asuransi, promo wisata, atau keanggotaan eksklusif sebuah kartu.
Jumat dua pekan lalu saya ditelepon seorang perempuan. Ia mengaku dari satu hotel dan mendapat nomor saya dari kartu kredit sebuah bank. Di awal pembicaraan, ia mengejutkan saya dengan mengatakan saya terpilih sebagai salah seorang yang mendapatkan voucher menginap di hotelnya untuk beberapa orang secara gratis.
Belakangan, saya digiring mendaftar menjadi anggota eksklusif untuk menginap gratis di hotel beberapa kota di Indonesia. Setelah dimintai alamat lengkap, saya sadar bahwa ada sejumlah uang yang harus dibayarkan, di atas Rp 1 juta. Semua dilakukan dengan amat manis, seakan saya benar-benar mendapat hadiah cuma-cuma. Setelah sadar, saya potong pembicaraan dan meminta katalog promosi untuk dipelajari.
Sang penelepon menunggu agar saya mengambil keputusan saat itu juga. Tentu, saya tidak mungkin segera memenuhinya. Belum selesai bicara, telepon langsung ia tutup tanpa basa-basi. Inikah wajah divisi pemasaran perusahaan di Indonesia, serba culas, menjebak, materialistis, dan tidak beretika?
ROY THANIAGO
Jl. A.M. Sangaji 25 A, Petojo,
Jakarta Pusat
Tambahan Pintu Tol
DI tengah hiruk-pikuk pembangunan tol Bogor Ring Road, saya menyimpan rasa khawatir. Bila dibuka kelak, tol ini justru menimbulkan kemacetan di pintu tol Sentul City yang selama ini lancar. Saya dan sebagian besar penduduk memilih tinggal di sana karena tidak ingin bernasib seperti penghuni perumahan lain yang sudah mengalami kemacetan di depan tol menuju kompleks perumahan mereka.
Saya memohon kelebihan yang diberikan perumahan Sentul City dipertahankan. Saya kira pihak yang berkuasa dan investor tidak keberatan menyediakan pintu tol khusus penduduk Sentul City. Mungkin juga perlu dibangun akses flyover bagi pengguna Bogor Ring Road, sehingga tidak melewati jembatan yang dibangun pengembang Sentul City. Terima kasih atas kesediaannya memenuhi permintaan ini.
FURQON HANIEF
Sentul City, Bogor
Teroris Bukan Pahlawan
TERORISME harus diberantas. Namun ada kalangan yang berlawanan bak antagonis dalam sinetron. Lihat sambutan sebagian masyarakat Surakarta, Jawa Tengah, terhadap jenazah Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono, dua tersangka teroris yang ditembak Detasemen Khusus 88 di Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat.
Di depan rumah Eko terpasang spanduk "Selamat Datang Pahlawan Islam". Bahkan, pengasuh pondok pesantren Al-Mukmin Ngruki, Abu Bakar Ba'asyir, malah mengatakan, "Insya Allah Eko mujahid."
Ini membuktikan ada masalah krusial dalam pemberantasan terorisme. Antara lain menyangkut definisi dan persepsi jihad dan terorisme. Makna jihad yang relatif disepakati adalah upaya sungguh-sungguh melawan penindasan, kezaliman, dan ketidakadilan. Kalau harus dilakukan dengan mengangkat senjata, tak bisa dilakukan dengan sewenang-wenang. Aksi teror yang bisa membunuh siapa pun jelas bertentangan dengan etika berperang dalam Islam.
MASRUR SYU'DI
Serdang, Kemayoran
Jakarta Pusat
Bayar Paten ke Malaysia
DAHULU motif batik cuma milik orang Pekalongan, Lasem, Yogyakarta, Solo, Banyumas, dan beberapa daerah lain termasuk Sunda dengan motif Cirebonan. Angklung punya orang Sunda, reog Jawa Timur, songket Sulawesi Selatan, tari pendet Bali, dan lagu Rasa Sayange punya orang Ambon. Tapi Malaysia mengklaim kesenian itu sebagai hak mereka.
Nanti jangan kaget kalau memakai hem motif batik harus bayar uang paten kepada Biro Hak Paten Malaysia. Demikian juga yang sedang pesta ulang tahun dan tiba-tiba menyanyikan Rasa Sayange. Upacara Agustusan dengan menampilkan tari pendet di Istana Negara bisa jadi harus minta izin kepada Biro Paten di Kuala Lumpur.
Bapak Menteri Jero Wacik, Anda harus berjuang habis-habisan membatalkan klaim Malaysia bahwa tari pendet adalah kreasi anak bangsa Malaysia keturunan Bali.
HASANTA
Puri Indah, Kembangan
Jakarta Barat
Ribut Hak Paten
BUKAN sekarang saja kita ribut masalah hak paten. Sebelum tari pendet, ada persoalan rendang, batik, reog, Sipadan-Ligitan, Ambalat, dan lain-lain. Meski begitu, banyak yang belum mengerti hak paten. Hak ini didaftarkan untuk mendapat perlindungan hukum. Jika di kemudian hari ada orang lain menciptakan benda dengan jenis yang sama, dia harus membayar royalti kepada pencipta pertama. Biasanya berhubungan dengan ilmu dan teknologi seperti televisi, pesawat terbang, dan listrik.
Kalau masalah budaya, biasanya merambat ke sana-kemari lalu mengalami modifikasi. Atau, sama persis dengan yang pernah ada di daerah lain. Budaya ini berkembang. Jarang yang dipatenkan. Orang juga tidak mau membayar royalti. Di Indonesia sendiri belum tumbuh rasa menghargai hak cipta dan hak paten.
Jadi, biarkan saja Malaysia membajak karya budaya bangsa Indonesia. Toh, mereka saudara kita juga. Hampir sepertiga penduduknya adalah orang Indonesia. Duta Besar Malaysia untuk Indonesia mengatakan, yang memainkan reog dan lainnya adalah orang Malaysia asal Indonesia.
PANDU SYAIFUL
Guru SMP Cendana
Riau
Seruan untuk Pemerintah Kabupaten Bogor
Komitmen Pemerintah Kabupaten Bogor dan Dinas Bina Marga dan Pengairan memperbaiki sarana jalan (transportasi) dan infrastruktur perlu dipertanyakan. Di Kecamatan Ciomas, belum lama ini ada proyek perbaikan dan pemeliharaan jalan Ciomas-Kreteg dengan nilai proyek lebih dari setengah miliar rupiah. Jalan sepanjang jalur ini diperbaiki dengan aspal hotmix. Anehnya, tak semua jalan di jalur Ciomas-Kreteg diperbaiki.
Pengaspalan hotmix hanya sampai persimpangan menuju Taman Pagelaran-Kreteg. Jalan sepanjang 100 meter lebih di dekat Rachmat Yasin Center dibiarkan saja dan tak diperbaiki sampai sekarang. Padahal kondisinya masih separuh kasar dan bolong di sana-sini.
Saya selaku pengguna jalan yang setiap hari melalui jalur itu bingung. Mengapa pengaspalan jalan tak menyeluruh? Menurut saya, pelaksana proyek serta pemerintah daerah kabupaten terkesan tak adil. Selain jalan menuju Kreteg, beberapa ruas jalan di Kecamatan Ciomas, tak jauh dari jalan ke Kreteg, juga rusak parah. Tepatnya jalan di Desa Ciapus, dekat perumahan Ciomas Permai dan Ciomas Hill. Kerusakan jalan di wilayah itu sudah lama dan tergolong parah.
Hal ini jelas sangat mengganggu pengguna kendaraan, baik sepeda motor maupun mobil, dan dapat mengakibatkan kecelakaan. Bahkan jembatan yang tak jauh dari jalan rusak pun sudah longsor sebagian tanahnya.
Selaku warga yang tinggal di kawasan ini, saya amat berharap Pemerintah Kabupaten Bogor dan Dinas Bina Marga memperbaiki jalan-jalan yang rusak tersebut. Dengan demikian, produktivitas warga setempat serta aktivitas ekonomi secara keseluruhan dapat lancar kembali.
SARTIKA DEWI
Tinggal di Perumahan Ciomas Permai, Kabupaten Bogor
Libatkan TNI Tumpas Teroris
SEPAK terjang para teroris sejak tahun 2000 begitu mengkhawatirkan. Sejauh ini, yang berperan sangat dominan dalam penanganan terorisme global adalah polisi. Padahal wewenang polisi sebatas penanganan keamanan dan ketertiban masyarakat dalam negeri. Kalau ada yang lintas negara, itu masih sebatas kejahatan antarnegara (transnational crime). Sementara dalam terorisme global, persoalannya tidak lagi urusan kejahatan semata, tetapi sudah menyangkut perang ideologi antarkawasan bahkan antarbenua.
Dengan pemahaman seperti ini, saya kira TNI semestinya dilibatkan. Tugas TNI adalah mem-backup polisi, sebab terorisme berasal dari luar negeri. Apalagi TNI memiliki tugas mengamankan obyek vital. Terorisme juga tidak lepas dari upaya makar terhadap negara. Semoga para wakil rakyat yang baru dipilih segera merumuskan mekanisme yang jelas tentang peran TNI.
SARJITO
Volunteer NGO, tinggal di Lhok SeumaweNanggroe Aceh Darussalam
Harga Naik
HARI-hari ini harga kebutuhan pokok merambat naik, proses yang dibentuk pasar. Kelompok masyarakat dengan penghasilan pas-pasan paling terkena getahnya.
Kenaikan harga yang cenderung meningkat harus disikapi dengan bijak. Tidak perlu tergiur oleh aneka produk yang kurang penting. Kita mesti mengatur keuangan dengan baik, jangan sampai pasak lebih besar dari tiang.Manajemen kebutuhan keluarga harus jadi fokus utama dengan tetap menerapkan prioritas, tidak hanya mengejar gengsi. Jangan merasa malu dengan tampilan yang ada pada pribadi kita. Niscaya hidup ini akan indah, menarik, serta tenang.
WISNU WIDJAJA
Jl. Sindoro I No. 16 Kalibuntu, Panggung Tegal
Kami hanya memuat surat yang disertai identitas lengkap.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

