DI Japan Foundation, Jakarta, Kamis, 20 Agustus lalu, seorang penari dan guru tari asal Hawaii mencoba menyatukan dua gerak: gerak dalam tarian Jawa dan Okinawa. Mula-mula ia menampilkan tiga tarian Okinawa, kemudian tiga tarian Jawa dari Yogyakarta, dan diakhiri tiga karya tari Oki-Jawa-sebutannya untuk akulturasi gerak Okinawa dan Jawa.
Dari Okinawa, Garret Kam, penari yang belajar tari Jawa sejak 1975, memilih tari Dakidun Bushi, tari seremonial Chunjun Nagari Bushi, dan jenis tarian riang Medetai Bushi. Sedangkan dari Jawa, ia menarikan bagian awal Golek Ayun-ayun, dilanjutkan Beksan Wanara yang menampilkan karakter Hanoman, dan diakhiri dengan Beksan Alus.
Nomor pertama tari Oki-Jawa ciptaannya adalah Hi, Sigh, yang judulnya diambil dari ucapan salam haisai dalam bahasa Okinawa. Mewakili makna katanya, tarian ini menyiratkan seremoni pembukaan dalam tarian tradisional di kebanyakan negara, yang kerap ditarikan para perempuan. Tak aneh, dalam karya ini, Kam menggabungkan gerakan tari perempuan dari dua negara. Ia menggunakan selendang cinde khas Jawa yang difungsikannya sebagai hiasan leher ala Okinawa.
Berikutnya tari Eisaa-ruu, yang meleburkan gerakan lincah monyet Jawa dengan gerakan kaki yang mengentak mengikuti dentuman perkusi yang menjadi ciri khas sejumlah tarian Asia Timur, seperti Jepang dan Korea. Barulah pertunjukan malam itu ditutup karya berjudul Fan-Tasy, yang mencampur gerakan alus tari laki-laki Okinawa dan Jepang dengan menggunakan properti dua kipas.
Dari ketiga tarian yang masing-masing berdurasi tak lebih dari lima menit itu, karya Garret Kam ini bisa dikategorikan sebagai tari kreasi baru-sebuah istilah yang muncul dalam masa Bagong Kussudiardja (almarhum), yang merujuk pada sejumlah karya tari baru dengan idiom gerak tari tradisional yang sedikit dimodernkan serta mencampurnya dengan sejumlah gerakan tari dari daerah lain.
Garret Kam mengakui ketiga tari ini masih dalam kategori work on progress. "Nomor Hi, Sigh saya buat dalam waktu dua minggu, lalu Fan-Tasy selama satu bulan, dan Eisaa-ruu masih selalu berubah karena masih harus dimatangkan," ujar Kam, yang mempelajari tari Okinawa sejak 1982.
Pertunjukan-atau tepatnya presentasi-yang disodorkan Kam memang masih sangat prematur untuk dijadikan sebuah karya utuh yang layak dipentaskan secara besar-besaran. Kelebihannya terletak pada pencapaian rasa. Ini tak aneh mengingat waktu panjang Kam dalam mempelajari tari Jawa dan Okinawa. Seperti kita tahu, salah satu ukuran terbaik seorang penari Jawa ada dalam soal rasa. Penghayatan serupa juga kerap dijadikan ukuran dalam sejumlah tarian tradisional dari Asia.
"Saya memang menitikberatkan feeling. Itulah yang membuat saya cukup lama menciptakan tari-tari ini, yaitu pada 2007, padahal idenya sejak 1982," kata Kam, yang pernah menjadi guru tari Jawa Maya Soetoro-Ng, saudari tiri Presiden Amerika Serikat Barack Obama, di Hawaii.
Pendekatan rasa wajar dijadikan titik tolak Kam dalam mencipta, mengingat latar belakang tari Okinawa dan Jawa yang hampir seragam. Keduanya sama-sama berangkat dari tari kerajaan. Ketika Jawa memiliki langendrian (semacam opera-tari yang diiringi tembang), Okinawa memiliki kumiodori, drama musikal. Gerakan tangan Okinawa juga mirip ukel di Jawa.
Pendekatan Kam mengingatkan kita pada sosok Rudolf Laban. Perjalanan awal tari sempat mengukir nama Rudolf Laban sebagai pionir yang menciptakan notasi gerak. Sementara musik menentukan suara dalam tipe sopran, alto, tenor, dan bas, Laban mendefinisikan gerak dalam tiga tipe: Hochtänzer (tarian tinggi) dengan gerak yang menentang gravitasi, Tieftänzer (tarian rendah) yang ditandai gerakan membungkuk dan beberapa gerakan impulsif, dan Miteltänzer (tarian menengah) dengan gerakan yang cenderung horizontal. Keberhasilan Laban menemukan notasi gerak ini merupakan bukti bahwa gerak bisa metodologis, atau bisa dijadikan arsip budaya.
Menyatukan atau meleburkan dua unsur yang mirip memang terbilang kurang menantang. Namun kita bisa melihat usaha Garret Kam ini semacam usaha Rudolf Laban dalam mencoba membaca dan merekam gerak. Inilah dialog. Pengabadian dua budaya melalui gerak yang tak sekadar cukup dilakukan dengan teknologi media rekam.
F. Dewi Ria Utari
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

