• Home
  • 07 September 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
  • Selingan
    • Intermezzo
  • Seni
    • Fotografi
    • Musik
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 07 September 2009

    Sari Pati Sang Raja

    SELAMA karier solonya, Michael Jackson menghasilkan 10 album studio. Dia memulainya sejak 1971, saat masih pada tahun-tahun awalnya bersama The Jackson 5. Kecuali menghasilkan hit (seperti Got to Be There dan Ben), album-albumnya semasa di bawah Motown tak ada yang istimewa, apalagi menembus angka penjualan fantastis. Keadaan berubah setelah pada 1978 Jackson bertemu dengan Quincy Jones, produser, komposer, dan konduktor yang sudah malang-melintang di industri hiburan. Bersama Jones-lah Jackson menghasilkan tiga album yang merupakan karya terbaiknya.

    Esensial

    OFF THE WALL
    Epic, 1979

    Bukan saja menandai awal kerja samanya dengan produser Quincy Jones, album ini juga menjadi monumen musikal pertamanya yang tak akan terlupakan; saat dirilis, ia seperti seketika menenggelamkan semua album solonya yang ada lebih dulu, yang kebetulan memang tak semengkilap album ini. Dengan bantuan Jones, Jackson berhasil memadukan entakan disko, irama gitar ala funk, melodi pop, dan unsur sentimental nan memikat. Dan karena itu, Jackson pun mengukuhkan diri sebagai artis dengan bakat luar biasa dan bintang yang cemerlang.

    THRILLER
    Epic, 1982

    Inilah album yang sukses luar biasanya sungguh tak terbayangkan-terjual 40 juta kopi pada awal masuk daftar album terlaris, dengan tujuh dari sembilan lagu di dalamnya masuk daftar 10 lagu terpopuler. Album ini menggeser rekor yang dicetak, antara lain, oleh Rumours (Fleetwood Mac), Saturday Night Fever (soundtrack film dengan judul yang sama), dan Tapestry (Carole King). Materi di dalamnya memang bisa memikat hampir siapa saja; ia digarap berdasarkan album sebelumnya, dengan membubuhkan funk yang lebih kental, hard rock, balada nan lembut, dan soul. Di sini lagu yang lembut, seperti Human Nature, bisa berdampingan dengan Beat It yang garang (dengan solo gitar oleh, ya, Eddie van Halen), juga The Girl Is Mine nan manis (berduet dengan Paul McCartney), atau dengan P.Y.T. (Pretty Young Thing) yang nge-funk.

    BAD
    Epic, 1987

    Melihat sukses Jackson berturut-turut sebelumnya, satu di antaranya merupakan rekor baru penjualan, wajar bila ekspektasinya tak berlebihan terhadap album ini. Tapi lagi-lagi Jackson berhasil memuaskan penggemarnya. Tidak melampaui Thriller, memang. Seperti yang sudah-sudah, album ini merupakan hasil pendekatan kreatif yang serupa: Jackson memanfaatkan formula dasar album sebelumnya, dengan membubuhkan sedikit bumbu tambahan-elemen rock-nya lebih keras, popnya lebih manis, dan diskonya lebih menggeletarkan. Kekurangan album ini adalah liriknya, yang terlalu artifisial dan tampaknya tak senada dengan apa yang sesungguhnya ada di kepala Jackson.

    Untuk Eksplorasi

    FOREVER, MICHAEL
    Motown, 1975

    Album terakhir Jackson bersama Motown. Seluruh materi direkam pada 1974. Tapi rilis resmi baru dilakukan pada awal 1975, menunggu redanya hit The Jackson 5 berjudul Dancing Machine. Di album inilah salah satu lagu Jackson yang paling elok terdapat, yaitu One Day in Your Life.

    DANGEROUS
    Epic, 1991

    Dengan album ini Jackson, untuk kedua kalinya, kembali ke posisi puncak di daftar 200 album terlaris versi Billboard. Sadar bahwa formula bersama Quincy Jones sudah usang, Jackson memutuskan bekerja sama dengan Teddy Riley, di samping dengan sejumlah produser lain. Langkah ini menjadikannya lebih bebas, dengan hasil yang boleh dibilang lebih baik ketimbang Bad, hampir mendekati Thriller.

    PS


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Fotografi

Footage itu (Cikal) Seni

Album

MENINGGAL
Tahir Djide

Catatan Pinggir

Yudhistira

TEMPO|interaktif

Metro

Buru Penembak Satpam IPB, Polisi Bentuk Tim Khusus

Olahraga

Babak I, Inter Ungguli Indonesia Selection 2-1  

Olahraga

Thomas-Uber Gagal, Pelatnas PBSI Harus Dievaluasi

Nasional

Soksi Bentuk Satuan Tugas Pemenangan Ical

Nasional

Siswa Nilai UN Tertinggi Begadang demi Barcelona  

Cawagub Didik Tolak Pengunduran Penetapan DPT  

Internasional

Senator Australia Dukung Bebas Visa bagi WNI  

Nasional

Lulus Ujian, Siswa Madrasah di Bima Bantu Korban Banjir

Metro

Berkas Satu Pengeroyok Geng Motor Dilimpahkan  

Olahraga

Inter Milan Duetkan Milito-Longo

Olahraga

Kandaskan Korea, Cina Rebut Kembali Piala Uber

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif