• Home
  • 21 September 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Musik
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 21 September 2009

    Berjodoh tanpa Pacaran

    KETIKA CINTA BERTASBIH 2
    Sutradara: Chaerul Umam
    Skenario: Imam Tantowi
    Pemain: Deddy Mizwar, Niniek L. Karim, Kholidi Asadil Alam, Oki Setiana Dewi

    "SAYA minta tolong, Pak Kiai. Mohon dengan sangat, Pak Kiai," Bu'e Malikatun meratap. Suaranya lirih, makin lama makin pelan, tapi tetap menyimpan asa besar. Namun Pak Kiai Lutfi berkukuh. Sebagai bapak yang putrinya sendiri tak bisa mempertahankan rumah tangga, ia malu memberikan tausiyah, atau wejangan, pada pernikahan orang lain.

    Mata Bu'e Malikatun (Niniek L. Karim) yang menatap tajam separuh berkerenyit kala kepalanya semakin menunduk secara teatrikal "diadu" dengan gurat-gurat kesal, malu, dan kecewa pada raut Pak Kiai Lutfi (Deddy Mizwar). Sungguh aduhai ditonton. Inilah adegan yang mempersatukan aktor dan aktris senior itu dalam film Ketika Cinta Bertasbih 2, yang akan diputar serentak di bioskop-bioskop Tanah Air pada 17 September.

    Terjawab sudah pertanyaan ke mana perginya sentuhan Mamang-panggilan akrab Chaerul Umam-dalam Ketika Cinta Bertasbih 1. Mamang asing dengan setting Mesir, yang mengambil alih lebih dari separuh film pertama itu. Sentuhan Mamang terasa intim pada film lanjutannya. Dengan setting Yogya, Solo, dan Magelang, sentuhan Mamang terasa hangat dalam gambar, humor, dan diksi ala kaum santri Jawa Tengah itu. Didukung penulis skenario Imam Tantowi, Mamang meramu Deddy dan Niniek menjadi sosok familiar yang mengingatkan kita lagi akan intimasi manusia dalam film-film Mamang yang tenar pada 1970-1990-an: Titian Serambut Dibelah Tujuh, Kejarlah Daku Kau Kutangkap, dan Ramadhan dan Ramona.

    Dalam film pertama, penonton mengikuti sepak terjang Abdullah Khairul Azzam (Kholidi Asadil Alam), pemuda asal Kartasura, Solo, yang harus pontang-panting jualan bakso dan tempe sembari sekolah S-1 di Al-Azhar, Kairo. Di film kedua, Azzam pulang ke Tanah Air dan berjumpa kembali dengan ibunya, Bu'e Malikatun, dan tiga adik perempuannya.

    Dan bergulirlah cerita tentang kehidupan Azzam pasca-Kairo: bagaimana ia membangun masa depan dengan berjualan Bakso Cinta dan mengajar, berkelindan dengan upayanya mencari pasangan hidup, dan bertemu kembali dengan Anna Althafunnisa (Oki Setiana Dewi), putri Kiai Lutfi, pengasuh Pesantren Daarul Quran, Desa Wangen, Polanharjo, Klaten.

    Seperti di film pertama, para pemain baru di film kedua ini tak sulit menampilkan karakter-karakter bak malaikat sesuai dengan novel jilid kedua karya Habiburrahman El Shirazi itu. Tapi bimbingan Mamang yang paling menonjol tampak justru pada Kholidi, yang mampu menampilkan raut Azzam yang manusiawi: cengeng tersedu-sedan mendengar puisi adiknya, pilon ketika berkali-kali gagal menyunting gadis, dan bergurau konyol di tepi tempat tidur sesaat sebelum memberikan "nafkah batin" yang dinafikan Furqon sahabatnya-yang ketakutan terjangkit HIV.

    Tentu saja film ini tak bergerak jauh dari cerita buku yang disebut megabestseller karena dicetak ulang belasan kali itu. Tak ada yang jahat, tak ada konflik pelik, tak ada antagonis. Yang bisa dikategorikan begitu bisa jadi cuma Furqon-yang terlihat bodoh karena kapok tes HIV lagi setelah tes pertama di Kairo dinyatakan positif. Atau Eliana (Alice Norin), yang sengaja ke Kartasura dengan gaun muslim demi meraih simpati Azzam. Atau juga orang tua dokter Vivi, yang tak sabar menunggu Azzam sembuh dan keburu menerima lamaran orang lain. Di beberapa tempat, dialog pun tak terhindarkan untuk menjadi dakwah religi-serupa dengan bukunya.

    Tapi ada setting yang familiar bagi penonton di sini: kultur penduduk desa yang sejuk dan guyub. Ada pula pengetahuan penting bagi ribuan penonton urban (yang menonton film ini lewat bioskop layar lebar di kota-kota besar) bahwa perjodohan tanpa pacaran-dengan promosi orang tua atau kerabat dan perjumpaan selintas yang dilakukan sambil menyuguhkan teh-masih dipercaya sebagai cara yang ideal mempertemukan pasangan. Dan yang penting, ada sentuhan Mamang yang kental, plus asyiknya adu lakon Deddy dan Niniek. Tak ada lagi yang kurang.

    Kurie Suditomo


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

PENGHARGAAN
Iwan Pontjowinoto

Catatan Pinggir

Nama Itu

Surat Dari Redaksi

Surat dari Redaksi

TEMPO|interaktif

Metro

Pelaku Penembak Satpam IPB Teridentifikasi

Metro

Buru Penembak Satpam IPB, Polisi Bentuk Tim Khusus

Olahraga

Babak I, Inter Ungguli Indonesia Selection 2-1  

Olahraga

Thomas-Uber Gagal, Pelatnas PBSI Harus Dievaluasi

Nasional

Soksi Bentuk Satuan Tugas Pemenangan Ical

Nasional

Siswa Nilai UN Tertinggi Begadang demi Barcelona  

Cawagub Didik Tolak Pengunduran Penetapan DPT  

Internasional

Senator Australia Dukung Bebas Visa bagi WNI  

Nasional

Lulus Ujian, Siswa Madrasah di Bima Bantu Korban Banjir

Metro

Berkas Satu Pengeroyok Geng Motor Dilimpahkan  

Olahraga

Inter Milan Duetkan Milito-Longo

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif