• Home
  • 21 September 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Musik
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 21 September 2009

    Mendadak Langsing, Mau?

    ENDY M. Bayuni sibuk menjawab pertanyaan banyak orang belakangan ini: "Habis sakit, ya?" Gara-garanya, berat badan Pemimpin Redaksi Harian The Jakarta Post itu turun drastis. Dalam sekitar lima bulan, tubuhnya melangsing dari 99 kilogram menjadi 73 kilogram. Pemicunya adalah ketika laki-laki 57 tahun ini menjalani cek kesehatan rutin perusahaan pada Maret lalu. "Setiap tahun pemeriksaan rutin, dokter selalu bilang obesitas dan harus nurunin berat badan," kata Endy.

    Agar tak penasaran, Endy bertanya kepada dokter. Disebutkan berat badan idealnya 63 kilogram. Artinya, ayah dua anak yang memiliki tinggi badan 168 sentimeter itu harus mengurangi berat badannya 36 kilogram. "Saya lempar joke kepada dokter: dengan berat badan segitu, tinggi ideal saya harus berapa? Ketimbang nurunin berat badan, mendingan ninggiin badan. Ha-ha... pasti enggak bisalah," ujar alumnus Fakultas Ekonomi Kingston University, Inggris, itu.

    Sepekan setelah pemeriksaan kesehatan, adik iparnya meninggal akibat stroke. Usianya hanya setahun lebih muda. "Saat itu saya berpikir, usia saya ini rawan stroke. Harus diet, nih, sesuai anjuran dokter," kata Endy.

    Lewat Internet, Endy mencari-cari metode yang tepat untuk dirinya. Sebelumnya, berbagai macam cara menurunkan berat badan dicoba, seperti banyak olahraga, berhenti makan nasi, tidak makan malam, dan cuma makan buah-buahan. "Memang sempat turun sebentar, tapi naik lagi," katanya. Beruntung, "dokter Google" menunjukkan jalan ke program diet dokter Robert Atkins. "Saya baca metodenya, kayaknya paling gampang. Karena paling gampang, saya ragukan efektivitasnya, tapi saya coba juga," ujarnya.

    Endy juga membeli buku karangan dokter asal Amerika Serikat itu, Dr Atkins' Diet Revolution. "Saya bener-bener ikutin kurikulumnya sesuai tahapan," ujarnya. Fase pertama, menurut Endy, tahap terpenting, karena harus benar-benar mengurangi jumlah karbohidrat. "Saya mulai enggak makan nasi sama sekali, roti, mi, kue yang bergula, juga buah-buahan, kecuali stroberi dan semangka," katanya. Namun Endy tetap makan sayur-sayuran, ayam, ikan, daging, dan telur.

    Ajaib. Baru dua minggu mengikuti program itu, beratnya turun 10 kilogram. Dalam sebulan, Endy mengurus hingga 15 kilogram. Dalam literatur dikatakan: turunkan karbohidrat yang Anda makan sampai 10 gram per hari, karena 10 gram per hari karbohidrat sudah terpenuhi dari sayur-mayur. "Sayur seperti bayam itu karbohidratnya rendah tapi tinggi dalam protein," katanya.

    Kini timbangan beratnya 73 kilogram. "Memang turun terus, tapi enggak drastis," ujarnya. Sekarang anak diplomat itu sudah mulai makan nasi, jagung, dan buah-buahan lain. "Berat badan saya kini turun satu sampai dua kilogram seminggu. Namun saya enggak punya target seperti yang disarankan dokter hingga 63 kilogram," katanya.

    Berat badan ideal memang menjadi dambaan banyak orang, sehingga tak jarang orang nekat menempuh pengaturan pola makan superketat, yang sering disebut diet ekstrem. Selain pola diet Atkins, ada South Beach diet, yang hampir serupa dengan metode Atkins, diet makanan mentah, diet tak mengkonsumsi gula, dan hanya makan sup sayuran. Masing-masing "perguruan" diet itu punya pengikut.

    Di Indonesia, Endy jelas tak sendirian. Di kalangan selebritas, banyak artis terkenal cukup berhasil menurunkan berat badan secara drastis. Artis cilik berbadan gempal Agustina Hermanto, yang terkenal dengan nama Tina Toon, turun 18 kilogram, dari 66 kilogram ke 48 kilogram.

    Batas terakhir Agustina makan adalah pukul 17.00. Porsi makannya pun dikurangi hingga separuhnya. Tiramisu favoritnya tak lagi disentuh. Tina memang cantik di usia remajanya kini. "Awal mulanya diet susah banget. Kalau melihat orang makan, jadi ngiler. Aku harus banyak berolahraga dan mengurangi makan. Selama empat bulan beratku turun 18 kilo," ujarnya.

    Penyanyi perempuan Project Pop, Tika Panggabean, lain lagi caranya. Dengan tidak makan roti, berbagai kue, dan mi instan, beratnya bisa susut 16 kilogram. "Perbanyak makan sayur dan buah," ujarnya. Pembawa acara dan penggiat pembinaan anak, Dewi Hughes, lebih hebat lagi. Dia menurunkan berat badan 26 kilogram. "Mengganti minum kopi pagi hari dengan minum jus buah dan makan terakhir pukul enam sore," ujarnya singkat.

    Tapi, turun bobot ekstrem, sehatkah? Menurut dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan gastronomi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Ari Fahrial Syam, prinsipnya diet bisa merusak tubuh jika tidak dilakukan dengan memperhitungkan asupan seimbang terhadap tubuh. "Konsep yang dianut di kalangan medis adalah komposisi zat yang masuk tubuh seimbang," ujarnya.

    Sebaiknya, dalam mengkonsumsi makanan, faktor nutrisi atau gizi dari makanan tersebut harus diperhatikan. "Konsep diet yang lengkap, prinsipnya jumlah yang seimbang, disesuaikan dengan kebutuhan, juga diperhitungkan dengan berat dan tinggi badan seseorang," katanya. Juga faktor-faktor lain, misalnya penyakit kronis yang diderita. "Konsep yang komplet dan seimbang, nutrisi harus memenuhi unsur karbohidrat sebagai sumber kalori, lemak, dan protein. Juga harus diperhatikan unsur mineral dan vitamin," ujarnya.

    Jadi, menurut dokter Ari, diet tak boleh terlalu ekstrem, seperti stop asupan karbohidrat sama sekali. "Karena nantinya ketidakseimbangan asupan makanan akan mempengaruhi keseimbangan metabolisme, sistem enzim, dan sistem hormon di dalam tubuh," katanya.

    Diet yang ideal, menurut Ari, adalah turun berat 5-10 persen dari berat badan semula dalam sebulan. Jadi, untuk Endy, seharusnya berat maksimal turun tidak sampai 10 kilogram dalam bulan pertama. "Bukan jumlahnya, tapi persentase dari berat badan sebelumnya. Cepat menurunkan berat badan tidak baik karena tubuh perlu penyesuaian," ujarnya.

    Tak jauh berbeda dengan pendapat dokter Ari, konsultan gizi dan dokter naturopatik-spesialis pada asupan makanan-Riani Susanto menyebutkan diet yang bagus adalah mengatur pola makan yang baik, seimbang, dan sehat. Kuncinya, kadar asam dan basa seimbang. "Sekitar 70 persen makanan basa, yaitu buah dan sayuran, dan 30 persen yang asam, seperti daging ikan dan gorengan" katanya.

    Menurut ahli detoksifikasi ini, jika sering muncul gejala sakit seperti flu, batuk, pilek, badan sakit-sakit, dan sakit kepala, itu berarti makanan lebih banyak mengandung asam. Kadar asam makanan yang enak di lidah memang tinggi. Yang perlu perjuangan dikunyah, seperti buah dan sayuran, berkadar basa tinggi dan lebih sehat. Pilihannya tergantung Anda.

    Ahmad Taufik

    Organ Tubuh Terdampak Diet Ekstrem

    Organ tubuh butuh penyesuaian. Setiap perubahan drastis, secara medis, selalu berdampak buruk pada organ tubuh.

  • Diet yang hanya mengkonsumsi sup dan menjauhi semua produk gula, susu, dan makanan yang digoreng mengakibatkan lemas dan tak bergairah. Jika berlangsung lama, akibatnya mual, pusing, gout (serangan asam urat), konstipasi (susah buang air besar), osteoporosis (pengeroposan tulang) dini, dan gangguan gigi.
  • Kekurangan konsumsi sayur dan buah berakibat berkurangnya zat antioksidan yang berkhasiat melawan kanker dan penyakit jantung.
  • Konsumsi serat terlalu rendah dalam jangka panjang mengakibatkan kerusakan usus.
  • Lemak tinggi memperburuk fungsi lever atau hati.
  • Diet ekstrem juga berakibat terjadinya kemandulan dan kehilangan siklus menstruasi.
  • Ginjal, sebagai organ pemroses pembuangan, sensitif terhadap asupan protein berlebihan. Asupan protein berlebih ini biasanya dilakukan oleh pelaku diet antikarbohidrat. Akibat lebih jauh asupan protein berlebih adalah hipertensi dan diabetes.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

PENGHARGAAN
Iwan Pontjowinoto

Catatan Pinggir

Nama Itu

Surat Dari Redaksi

Surat dari Redaksi

TEMPO|interaktif

Metro

Pelaku Penembak Satpam IPB Teridentifikasi

Metro

Buru Penembak Satpam IPB, Polisi Bentuk Tim Khusus

Olahraga

Babak I, Inter Ungguli Indonesia Selection 2-1  

Olahraga

Thomas-Uber Gagal, Pelatnas PBSI Harus Dievaluasi

Nasional

Soksi Bentuk Satuan Tugas Pemenangan Ical

Nasional

Siswa Nilai UN Tertinggi Begadang demi Barcelona  

Cawagub Didik Tolak Pengunduran Penetapan DPT  

Internasional

Senator Australia Dukung Bebas Visa bagi WNI  

Nasional

Lulus Ujian, Siswa Madrasah di Bima Bantu Korban Banjir

Metro

Berkas Satu Pengeroyok Geng Motor Dilimpahkan  

Olahraga

Inter Milan Duetkan Milito-Longo

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif