• Home
  • 05 Oktober 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Seni
    • Fotografi
    • Musik
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 05 Oktober 2009

    Mata Bionik

    BANYAK usaha dilakukan untuk menyempurnakan penglihatan. Jumat dua pekan lalu, dalam laporan CNET News, ilmuwan Massachusetts Institute of Technology merilis mata bionik yang bisa membantu penyandang cacat mata.

    Memakai teknologi implan elektronik, mata bionik menggantikan fungsi sel-sel retina. Satu set peralatan ini terdiri atas papan elektroda 1,2 milimeter dan kacamata khusus yang terhubung dengan video. Prosesor akan menerjemahkan informasi visual ke sinyal radio, yang akan diteruskan ke sebuah chip titanium yang dipasang di luar bola mata. Chip ini akan terhubung secara nirkabel dengan elektroda di dalam retina. Sumber dayanya adalah baterai yang dipasang di sabuk pemakainya.

    MIT mengerjakan proyek Boston Retina Implant ini selama 20 tahun. Sepuluh tahun lalu, para peneliti menguji enam elektroda pada pasien. Hasilnya, para pasien bisa melihat gambar bila dirangsang. Profesor John Wyatt, pemimpin proyek ini, mengatakan para peneliti telah menguji prototipe baru pada pasien selama tiga tahun.

    Implan bisa tertanam pada babi selama 10 bulan tanpa gangguan elektronik. “Pembuatan mata bionik ini mirip upaya menciptakan televisi," kata Nigel Lovell, profesor di University of New South Wales, Australia. MIT berkolaborasi dengan sejumlah ilmuwan di Negeri Kanguru.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Fotografi

Hitam-Putih Pengembaraan Oscar Motuloh

Album

MENINGGAL
Innisisri

DUS

RUU PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI
Beleid 'Jalan Tengah'

Catatan Pinggir

KPK

TEMPO|interaktif

Metro

Pelaku Penembak Satpam IPB Teridentifikasi

Metro

Buru Penembak Satpam IPB, Polisi Bentuk Tim Khusus

Olahraga

Babak I, Inter Ungguli Indonesia Selection 2-1  

Olahraga

Thomas-Uber Gagal, Pelatnas PBSI Harus Dievaluasi

Nasional

Soksi Bentuk Satuan Tugas Pemenangan Ical

Nasional

Siswa Nilai UN Tertinggi Begadang demi Barcelona  

Cawagub Didik Tolak Pengunduran Penetapan DPT  

Internasional

Senator Australia Dukung Bebas Visa bagi WNI  

Nasional

Lulus Ujian, Siswa Madrasah di Bima Bantu Korban Banjir

Metro

Berkas Satu Pengeroyok Geng Motor Dilimpahkan  

Olahraga

Inter Milan Duetkan Milito-Longo

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif