• Home
  • 07 Desember 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Arsitektur
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
  • Selingan
    • Layar
    • Intermezzo
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
  • Arsip
  • 07 Desember 2009

    Panggung Ucok Panggung Teater

    Ucok AKA akhirnya berhenti menyanyi untuk selamanya. Kamis pekan lalu pukul 05.30, kanker paru stadium empat menyudahi hidupnya yang bersahaja tapi penuh simbol pemberontakan.

    Andalas Datoe Oloan Harahap, begitu nama pemberian orang tuanya dulu. Rambutnya yang keriting dibiarkan tumbuh-mekar dengan bebas di atas kepalanya. Ia memberontak dengan rambutnya, aksi-aksi panggungnya yang sama sekali tidak konvensional di masanya, dan dengan pilihan hidupnya.

    Panggung Ucok adalah panggung teater. Ia terlihat begitu pas dan sensual manakala menyanyikan Sex Machine-nya James Brown, si raja soul berkulit hitam. Sex Machine lagu favorit Ucok: ritmenya terdengar mengguncang, dan dibawakan dengan teriakan-teriakan parau, geraman di sepanjang lagu. "Setiap manggung, lagu ini jadi andalan mereka dan makin membuat mereka populer," kata budayawan Remy Sylado mengenang pertunjukan-pertunjukan Ucok dengan AKA (Arthur Kaunang, Syech Abidin, Soenata Tanjung, dan Ucok). AKA kelompok musik asal Surabaya yang didirikan pada 1967.

    Terus terang saja, suara dan gaya menyanyi Ucok kadang lebih mengena untuk soul rock ketimbang rock-jenis musik yang selama ini direkatkan erat-erat dengan dirinya. Ya, musik bukan cuma rock. Ia menciptakan dan mengaransemen lagu-lagu bernada pop yang bahkan terdengar lembek, seperti Badai Bulan Desember atau Akhir Kesucian Gadis.

    Remy Sylado mengakui, rock bukan satu-satunya hal yang bersembunyi di hati Ucok: ia juga mempertimbangkan pasar. "AKA membidik penggemar yang berada di tengah-tengah, penggemar rock yang tidak anti-lagu-lagu pop. Liriknya pun tak melulu berisi pemberontakan seperti lazimnya lagu rock asing. Mereka inilah yang jadi penonton setia pertunjukan Ucok dan kawan-kawan."

    Warna rock memang tampak pada nomor-nomor di album pertamanya, Do What You Like. Namun rock yang mencorong justru kelihatan mencorong pada saat ia berduet dengan vokalis God Bless, Ahmad Albar, kombinasi dua vokalis terkenal yang kemudian menelurkan Neraka Jahanam, Tertipu Lagi, dan Pelacur Tua.

    Tapi Ucok tak berhenti pada musik. Di atas panggung ia menghadirkan "drama" yang tidak biasa: suasana horor dan sedikit sadisme. Ia menghirup darah kelinci, menyanyi di dalam peti mati, memanjat atap gedung pertunjukan, menyanyi dan berteriak dengan kepala di bawah dan kaki diikat ke atas, dan banyak lagi. Dan lelaki kelahiran tahun 1940 yang telah berbuat banyak ini kemudian menghadapi dunia di sekelilingnya berubah, juga keadaan dirinya: rock tidak lagi memukau banyak anak muda, dan rambut kribonya yang gagah mulai rebah.

    Rocker ini menjadi tua, tapi ia menerima kenyataan itu dengan pandangan dan jalan hidupnya yang tidak juga berubah: ia tidak bisa lepas dari pemberontakan. Melalui lagunya Puber Kedua yang lirih, agak kontemplatif, ia bertutur tentang renungannya di depan sebuah cermin tua. Ia tidak menampik bahwa keriput telah menghiasi wajahnya, begitu Ucok mulai menyanyi, namun ia tidak bisa menghindar dari sesuatu yang telah menyergapnya: cinta. Ia jatuh cinta lagi dan menegaskan bahwa cinta itu telah melintasi ruang dan waktu.

    Ucok yang gagah itu kini telah dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum Kebraon Tegal, Surabaya. Menikah sembilan kali, Ucok meninggalkan delapan anak, empat belas cucu, dan sebuah legasi dalam musik Indonesia.

    Idrus F. Shahab, Nunuy Nurhayati


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Seni Rupa

Spontanitas Wianta dan Makhluk-makhluk Tak Berbentuk

Sejumlah Karya yang Hangat

Layar

HONGKONG
Sebuah Rapsodi Penuh Mimpi

Mbak Lilik, Mbak Tatik, Mbak Wiwik...

Catatan Pinggir

Pintu

Album

Pengukuhan
Danny Manongga

TEMPO|interaktif

Metro

Anggota Geng Penembak Juru Kamera TVRI Tertangkap

Metro

Pelaku Penembak Satpam IPB Teridentifikasi

Metro

Buru Penembak Satpam IPB, Polisi Bentuk Tim Khusus

Olahraga

Babak I, Inter Ungguli Indonesia Selection 2-1  

Olahraga

Thomas-Uber Gagal, Pelatnas PBSI Harus Dievaluasi

Nasional

Soksi Bentuk Satuan Tugas Pemenangan Ical

Nasional

Siswa Nilai UN Tertinggi Begadang demi Barcelona  

Cawagub Didik Tolak Pengunduran Penetapan DPT  

Internasional

Senator Australia Dukung Bebas Visa bagi WNI  

Nasional

Lulus Ujian, Siswa Madrasah di Bima Bantu Korban Banjir

Metro

Berkas Satu Pengeroyok Geng Motor Dilimpahkan  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif