• Home
  • 14 Desember 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Memoar
    • Wawancara
  • Arsip
  • 14 Desember 2009

    Pantang Bermuka Dua di Depan Soeharto

    Saya bertemu dengan Soeharto dalam Seminar Angkatan Darat II pada 1967. Pertama kali bertemu, saya menganggap dia sosok angker. Sopan, tapi tak mudah cair. Setelah pertemuan itu, saya dan teman-teman ekonom yang disebut "Mafia Berkeley" diminta menjadi penasihat khusus Soeharto. Setelah itu, saya mulai melihat Soeharto dengan kacamata berbeda.

    Sebagai staf pribadi, kami sering diajak memancing ke Pulau Monyet, di Kepulauan Seribu. Ketika hubungan makin cair, kami semua sudah seperti keluarga sendiri. Setiap kali pulang dari Yogyakarta, beliau pasti mengirim salak pondoh ke rumah kami.

    Saya mungkin menjadi orang pertama yang berani menegur Pak Harto. Waktu itu ada orang ingin menjual beras tiruan dari singkong. Namanya beras tekat. Pada masa awal Orde Baru, Indonesia memang tengah menghadapi krisis beras akibat kemarau panjang. Saat orang itu menghadap, kami dikumpulkan juga.

    Setelah mendengar pemaparan dia, saya merasa orang itu tak benar. Orang ini hanya ingin menjual perkakasnya. Langsung saya bilang ke Pak Harto bahwa ini tak benar. Memang, setelah itu masalah beras tekat tak lagi terdengar. Namun Widjojo menegur saya. Saya memang masih lugu saat itu. Widjojo meminta saya agar tak terlalu blak-blakan dalam mengungkap pendapat. Sejak itu saya belajar tentang budaya Jawa.

    Selama dua puluh tahun lebih menjadi anak buah, saya terkesan pada sisi human touch Pak Harto. Pada 1982, saya dan istri berada di Nairobi, Kenya. Saat itu saya akan memimpin sidang dalam pertemuan United Nations Environment Programme.

    Tiba-tiba anak saya menelepon dari Indonesia. Rupanya ibu mertua saya sakit keras. Kami benar-benar kebingungan.

    Pada saat kepala pening, istri saya tiba-tiba menyampaikan telepon dari Pak Harto. Entah siapa yang memberi tahu ibu mertua saya sakit dan kemudian meninggal dunia. Ia berkata kepada saya, "Tenang saja di Nairobi. Tetap jalankan tugas. Semua masalah di sini akan saya urus." Dan benar. Beliau mengurus seluruh proses pemakaman mertua saya. Saya tersentuh sekali dengan perhatian ini.

    Kisah lain saat anak pertama saya, Amelia Farina Salim, menikah. Saya menyampaikan undangan secara langsung kepada beliau. Setelah membaca undangan, beliau rupanya heran. "Pernikahannya di rumah, tidak di hotel?" tanya Pak Harto. Saya jawab di rumah. Pada saat pernikahan berlangsung, dia mengirim bunga, hadiah, dan uang. Saya mungkin satu-satunya menteri yang diberi uang oleh Pak Harto saat mantu. Rupanya, karena saya menikahkan anak di rumah, Pak Harto mengira saya tak punya uang. Sampai sekarang saya masih menyimpan ucapan selamat dalam amplop yang beliau tulis sendiri. Jadi, bagaimana mau membenci beliau?

    Memang, ada kebijakan beliau yang tak sepaham dengan saya. Tapi tak berarti saya bermusuhan dengan beliau. Pada 1998 saya mencalonkan diri sebagai wakil presiden. Saat itu saya menantang preferensi Pak Harto. Dia mencalonkan Habibie sebagai wakilnya. Saya tak punya masalah pribadi terhadap Habibie. Hanya saya merasa perlu ada suara berbeda dari arus saat itu. Akhirnya saya tersingkir karena tak ada fraksi yang mendukung.

    Setelah mundur, saya tetap mengunjungi Soeharto pada saat Lebaran. Sedih hati saya. Saat sedang jaya, semua orang berebut mendekat. Ketika jatuh, semua orang pergi. Bahkan se-orang wartawan bertanya kepada saya, kok berani berkunjung ke Cendana. Pertanyaan apa itu? Kami bisa berbeda pendapat, tapi Lebaran kan momen menghargai beliau sebagai manusia.

    Ketika saya berkunjung, beliau sangat terharu. Memorinya timbul-tenggelam. Dia berucap, "Saya puasa 30 hari", tapi kemudian dia terdiam. Beliau rupanya lupa akan berkata apa. Ia kelihatan jengkel. Melihat kondisi itu, dokter dan Tutut meminta saya me-ninggalkan beliau. Kemudian setengah jam saya dipanggil lagi. Ternyata ia ingin mengatakan, "Tarawih saya juga lengkap."

    Saya juga tak takut melapor ke Pak Harto ihwal usaha anak-anaknya. Saya pernah melapor ketika sebuah perusahaan Keluarga Cendana tak memenuhi analisis mengenai dampak lingkungan (amdal). Pak Harto meminta saya menjelaskan soal amdal kepada anaknya. Mereka mendengar apa yang saya sampaikan. Kemudian keluar pengakuan dari mereka bahwa nama mereka dig-unakan oleh pengusaha yang akan mendirikan pabrik. "Kalau kata Pak Emil begini, ya kami ikuti," begitu kata m-ereka.

    Seandainya menteri lain bersikap terbuka terhadap Pak Harto, saya rasa tak perlu terjadi hal aneh-aneh terhadap Keluarga Cendana. Mungkin karena saya tahu dia, dan dia tahu saya. Kalau saya berlaku di luar normal, justru ia merasa aneh. Saya merasa harus jujur, jangan pernah bermuka dua terhadap beliau. Saya tak suka itu. Apalagi saya sudah mengenalnya hampir 30 tahun.

    Saya melihat Pak Harto marah pertama kali ketika peristiwa Malari, tatkala Perdana Menteri Jepang Tanaka tak bisa diantar ke bandara. Kami para menteri dikumpulkan di Istana Negara dengan helikopter. Saat itu beliau melabrak Pangkopkamtib dan para intelijen. Baru kali itu saya melihat beliau meledak.

    Cerita unik dengan beliau terjadi ketika saya pensiun pada 1993. Beliau memanggil saya ke Istana. Dengan gaya-nya, ia bercerita mengenai falsafah Jawa, cukup panjang-lebar. Saya agak bingung ketika itu. Rupanya seluruh cerita filsafat Jawa ini merupakan pengan-tar untuk menyampaikan bahwa saya tak diminta lagi menjadi menteri dalam kabinet.

    Jujur, saya justru merasa lega. Setelah 20 tahun lebih menjadi menteri, saya mulai merasa jenuh. Perasaan itu saya ungkapkan terus terang kepada beliau. Ternyata beliau sempat salah paham. Ia berkata bahwa Bu Tien sudah memintanya untuk lengser keprabon. Rupanya curahan hati saya beliau anggap seharusnya juga berlaku baginya. Padahal saya tak bermaksud begitu.

    Sita Planasari Aquadini


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Memoar

Pendekar Lingkungan Beralis Perak

Pisau Tumpul 'Mafia Berkeley'

Pantang Bermuka Dua di Depan Soeharto

Album

PENGHARGAAN
Onno W. Purbo dan Isak Santoso

Seni Rupa

Kotak-kotak Mimpi nan Molek

Catatan Pinggir

Recehan

TEMPO|interaktif

Metro

Anggota Geng Penembak Juru Kamera TVRI Tertangkap

Metro

Pelaku Penembak Satpam IPB Teridentifikasi

Metro

Buru Penembak Satpam IPB, Polisi Bentuk Tim Khusus

Olahraga

Babak I, Inter Ungguli Indonesia Selection 2-1  

Olahraga

Thomas-Uber Gagal, Pelatnas PBSI Harus Dievaluasi

Nasional

Soksi Bentuk Satuan Tugas Pemenangan Ical

Nasional

Siswa Nilai UN Tertinggi Begadang demi Barcelona  

Cawagub Didik Tolak Pengunduran Penetapan DPT  

Internasional

Senator Australia Dukung Bebas Visa bagi WNI  

Nasional

Lulus Ujian, Siswa Madrasah di Bima Bantu Korban Banjir

Metro

Berkas Satu Pengeroyok Geng Motor Dilimpahkan  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif