• Home
  • 21 Desember 2009
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 21 Desember 2009

    Info Hidup Sehat

    Menangkal Sinyal Lapar

    Cara yang benar menurunkan berat badan menjadi tema penelitian menarik dari waktu ke waktu. Kali ini lembaga riset medis Garvan, Sydney, Australia, menemukan obat penurunan berat badan yang bekerja dengan cara mencegah tubuh menerima sinyal tertentu dari otak.

    Berat badan bisa dicegah bila reseptor dalam tubuh ditangkal menerima sinyal lapar dari otak, yang mengarahkan energi ke jaringan lemak. Selama ini obat penurun berat badan biasanya berusaha mencegah otak mengirim sinyal lapar ke tubuh.

    Menurut kepala program ilmu saraf Garvan, Herbert Herzog, cara terapi biasa cenderung tidak efektif. Pasal-nya, orang yang sudah biasa terprog-ram untuk makan sangat sulit menghentikan kebiasaannya. Inilah yang membuat cara memblokir suatu sistem yang mempengaruhi nafsu makan tidak cukup signifikan menurunkan berat badan. Kalau dihilangkan satu sinyal, sinyal lain akan menggantikannya. Pasien yang menggunakan terapi seperti itu hanya kehilangan sekitar lima persen berat badannya.

    Penelitian Herzog mengubah cara pende-katan dengan mencegah tubuh menerima sinyal lapar dari otak. "Dari-pada mengutak-atik otak, lebih baik meneliti reseptor dalam tubuh yang menerima sinyal yang mendorong penyimpanan energi sebagai lemak," ujarnya kepada Radio Australia, pekan lalu.

    Obat yang dikembangkan tidak saja berhasil mengontrol nafsu makan tapi juga mendorong tubuh membakar lebih banyak lemak. Tubuh bisa menggunakan asam lemak atau protein untuk menghasilkan energi.

    Jadi, kalau bisa mengarahkan tubuh menggunakan lebih banyak asam lemak yang disimpan di jaringan lemak, berat tubuh pun akan semakin banyak berkurang. Itulah sasaran obat itu. Kekurangan obat ini, menurut Profesor Herzog, tidak cocok untuk orang yang sangat gemuk.

    Perokok Lebih Cepat Menopause

    Menopause atau terhentinya siklus menstruasi akan dialami setiap pe-rempuan. Masa terhentinya- datang bulan biasanya terjadi pada wanita usia 48 sampai 52 tahun. Pada usia tersebut fungsi indung telur menurun. Akibatnya, bosit dan folikel-rongga cairan yang normal terdapat dalam ovarium-habis, yang akhirnya berhenti memproduksi sel telur.

    Perempuan perokok, menurut hasil penelitian The Journal of Clinical Epidemiology yang dimuat situs BBC Health, akan mengalami menopause lebih awal dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. Perempuan yang tidak memiliki anak juga akan mengalami masa menopause satu tahun lebih cepat daripada perempuan yang memiliki tiga anak atau lebih.

    Makan Manis Karena DNA

    Kebiasaan makan permen atau makanan manis ternyata bukan hanya karena keinginan atau kebutuhan tubuh. Menurut penelitian Jurus-an Ilmu Nutrisi Universitas Toronto, Kanada, kedemenan seperti itu juga -disebabkan oleh asam deoksiribo-nu-kleat (DNA).

    DNA atau inti sel jenis glucose transporter type 2 (GLUT2) merupakan va-riasi gen yang mampu merangsang otak mengkonsumsi makanan secara berlebih-an. Para saintis lembaga itu meneliti 687 orang. Sukarelawan dibagi menjadi dua grup. Kelompok pertama terdiri atas sekumpulan orang yang memiliki variasi gen GLUT2. Rombongan lainnya tidak. Hasilnya, kelompok pertama memakan lebih banyak permen.

    Penelitian yang dimuat jurnal kesehatan Prevention itu menunjukkan pola makan seseorang dapat bersifat genetis. Hal ini menjelaskan misteri penyakit diabetes yang merupakan salah satu penyakit keturunan. Menurut tim peneliti, jika sese-orang termasuk salah satu yang memiliki gen itu, cobalah ganti camilan permen dengan cokelat hitam (dark chocolate) yang di-taburi kacang almon. Meski rasanya manis, cokelat hitam berkadar gula tidak terlalu tinggi.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Seni Rupa

Ketegangan yang Meruntuhkan Batas

Mati dan Hidup pada Citra Bantal

Catatan Pinggir

Macbeth

Album

Pengukuhan
Wiyanto dan Samsudi

TEMPO|interaktif

Internasional

Remaja Ini Pecahkan Soal Warisan Newton

Metro

Anggota Geng Penembak Juru Kamera TVRI Tertangkap

Metro

Pelaku Penembak Satpam IPB Teridentifikasi

Metro

Buru Penembak Satpam IPB, Polisi Bentuk Tim Khusus

Olahraga

Babak I, Inter Ungguli Indonesia Selection 2-1  

Olahraga

Thomas-Uber Gagal, Pelatnas PBSI Harus Dievaluasi

Nasional

Soksi Bentuk Satuan Tugas Pemenangan Ical

Nasional

Siswa Nilai UN Tertinggi Begadang demi Barcelona  

Cawagub Didik Tolak Pengunduran Penetapan DPT  

Internasional

Senator Australia Dukung Bebas Visa bagi WNI  

Nasional

Lulus Ujian, Siswa Madrasah di Bima Bantu Korban Banjir

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif