• Home
  • 11 Januari 2010
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
  • Selingan
    • Intermezzo
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 11 Januari 2010

    Tiga tentang Tubuh dan Tulang

    TUBUH, tengkorak, dan tulang berserakan. Ini bukan rumah sakit, bukan pula laboratorium biologi. Ini sebuah ruang pamer, yang diisi karya tiga perupa lulusan Institut Teknologi Bandung berbeda angkatan. Mereka, Deden Hendan Durahman, Jabbar Muhammad, dan Septian Hariyoga, disatukan dalam pameran bertajuk Critical Junction di Koong Gallery, di City Plaza, Jakarta.

    Kurator Rikrik Kusmara mengaku sengaja menampilkan mereka bertiga. Namun ide hasil cipta mereka tak sengaja dirancang, melainkan merupakan kebetulan. "Ide-ide yang sama dalam konteks teknologi sekarang. Tentang dampak kemanusiaan dan lingkungan. Lebih reflektif," katanya ketika dihubungi Tempo, Rabu sore pekan lalu. Pameran berlangsung dari 26 Desember 2009 sampai 16 Januari 2010.

    Jabbar, seniman termuda, memajang cetak digital hitam-putih pada kanvas dengan judul Immortavitue. Sebuah imaji tentang kematian. Ia memilih potret diri setengah badan tampak samping. Model rambutnya mohawk (tapi tidak terlalu menjulang), wajahnya diganti dengan tengkorak burung elang. Bagian mata, pipi, dan hidung berongga.

    Pria kelahiran Bandung, 11 Oktober, ini kemudian menampilkan paruh pada obyek perempuan muda, teman sekelasnya. Kali ini dengan memainkan warna: oranye, hijau, dan merah. "Tidak ada pertimbangan makna, hanya untuk mendapatkan kesan atraktif dan dinamis," kata Jabbar, yang tertarik pada dunia forensik. Pada 2002, ia sudah mengolah tubuh, yakni bagian gigi, dan karyanya ditampilkan di Soemardja Gallery, Bandung.

    "Perkembangan cloning, transplantasi tubuh, menjadi wilayah yang menarik buat saya," katanya. Ia mengerjakan proyek ini sekitar dua bulan. Menurut dia, isu-isu tentang tubuh, seperti pencapaian medis, ilmu rekayasa, dan mitos tentang tubuh adalah hal yang terus menjadi pertanyaan dalam dirinya. Itulah yang lalu ia tuangkan dalam gambar yang pencapaian artistiknya maksimal dengan cetak digital (digital printing).

    Bersanding dengan Jabbar adalah bekas dosennya, Deden. Ia menyuguhkan cetak digital pada kanvas sebagai versi terbaru seri lamanya. Yang dulu berupa alugrafi (cetak datar) berukuran 40 x 40 sentimeter. Antara lain Corpus; 3 Series sebagai penggambaran badan: tangan dan bahu. "Dari realis ke unrealistic. Dari real ke unreal," katanya. Menurut kurator Rikrik Kusmara, memori tentang bentuk organ tubuh pada Corpus dan Constructio dimanipulasi menjadi satu wujud visual baru.

    Adapun Construct I-01, Construct I-06 mirip foto roentgen. Deden terinspirasi hasil roentgen tulang punggungnya ketika ia mengalami kecelakaan terhantam jendela aluminium saat studi di Jerman, 2004. "Daripada merenung tidak pasti," kata master fine art dari Jerman ini mengenang.

    Tapi ia menyesalkan perkembangan digital print di Indonesia yang tak bisa tahan lama. Hasil cetaknya sudah pudar dalam dua tahun. Sebab, memang belum ada standarnya, seperti di Jerman, yang bisa tahan 50 tahun. "Di Indonesia, tintanya refill," katanya. Karena itu, ia memilih proses pencetakan di studio khusus di Bandung, termasuk untuk karya Jabbar.

    Berbeda dengan mereka, pematung Septian menampilkan, misalnya, Hanging Mind. Karya dari batu andesit berurat sedikit dan aluminium ini dipasang berhadapan jarak dua meter dengan Corpus. Terlihat padan, seperti ada pertautan di antara keduanya. "Semula saya skeptis dengan karya Septian, tapi dalam pameran ini ia lebih banyak menampilkan alam dibanding teknologi yang tinggi," kata Rikrik. Logam, bagi Septian, adalah pencapaian teknologi yang memperkuat pemaknaan pada batu sebagai representasi alam.

    Karya lainnya, Hammock, ayunan tidur gantung yang terbuat dari aluminium. Di tengahnya diletakkan sebuah batu. Adapun Mind: pajangan terbuat dari aluminium dan dural yang dipahat membentuk bongkahan lonjong mirip batu kali, tapi pada satu tepinya terlihat ada lelehan. "Saya ingin merusak persepsi orang, barang keras tidak selalu keras," kata Septian.

    Septian memilih aluminium karena bahannya tidak korosif, tahan lama, mengkilat, dan perawatannya minim. Pembuatannya tidak terlalu susah kalau dicor dengan suhu tak terlalu tinggi. Adapun batu adalah ciri khas perupa ini. Ia mencari kontras batu andesit dan aluminium. "Batu susah diajak mengkilat kecuali granit," katanya.

    Martha W. Silaban


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Seni Rupa

Melihat Kembali Mata Hitam Jeihan

Tiga tentang Tubuh dan Tulang

Album

Meninggal
Satjipto Rahardjo

Catatan Pinggir

Gus Dur

TEMPO|interaktif

Olahraga

Inter Milan Duetkan Milito-Longo

Olahraga

Kandaskan Korea, Cina Rebut Kembali Piala Uber

Seni & Hiburan

Promotor Konser Lady Gaga Belum Dapat 3 Izin

Internasional

Pakar: Iran Mampu Memproses Uranium untuk 5 Bom

Nasional

Bantuan untuk Korban Banjir di Bima Mulai Disalurkan

Nasional

Siswi SMAN 2 Kuningan Peraih Nilai Tertinggi UN

Nasional

Hasil Ujian Nasional Jeblok, DPRD Kota Malang Kecewa  

Metro

Joshua Disangka Pukul Kelasi Arifin Tiga Kali  

Nasional

Ini Cerita Siswi Nilai UN Tertinggi se-Indonesia  

Nasional

Perayaan Kelulusan dari Longmarch hingga Tawuran

Nasional

Mandi Kembang Tanda Syukur Lulus Ujian Nasional  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif