LELAKI berkimono hitam itu duduk menyamping dalam sikap waspada. Di tangan kanannya terhunus sebilah pedang samurai. Entah siapa nama lelaki yang tergambar dalam selembar potret usang dari masa lalu itu. Namun, yang menjadi istimewa, potret itu ditampilkan dalam satu komposisi yang ganjil dan mengaduk-aduk imajinasi lantaran dipadukan dengan sebungkus makanan khas Jepang, shashimi, yang terdiri atas potongan cumi segar, serutan wortel, dan seledri, lengkap dengan tempelan label harganya.
Karya visual berjudul Fighter itu hanyalah satu dari sejumlah hasil "kenakalan" imajinasi fotografer Angki Purbandono yang dapat dinikmati di Vivi Yip Art Room 2, Annexe Ciputra World Marketing Gallery, Casablanca, Jakarta Selatan, mulai 30 Januari sampai 18 Februari 2010. "Saya ingin memadukan masa lalu dengan masa sekarang," Angki menjelaskan soal karyanya itu. Masa lalu diwakili oleh potret usang, sedangkan masa depan dijabarkan dengan makanan kemasan yang dijual di supermarket.
Angki adalah lulusan Jurusan Fotografi Fakultas Multimedia Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Seperti biasa, pendiri komunitas fotografi Ruang Mes 56 Yogyakarta itu banyak bereksperimen dengan obyek yang gampang ditemukan sehari-hari dan berkesan remeh-temeh seperti mainan anak, botol bekas, tanaman, buah-buahan, dan masakan. "Aku mencoba merepresentasikan rekaman-rekaman yang sudah populer di masyarakat," kata Angki, yang pernah menjalani dua tahun masa residensi seni di Changdong, Seoul, Korea Selatan.
Dengan "kejailannya", dia lalu menggabungkan obyek tersebut menjadi bentuk yang terkadang surealistis. Tengok saja karyanya dalam album kedua kelompok musik Efek Rumah Kaca yang bertajuk Kamar Gelap. Di situ Angki merespons 12 lagu dalam album itu dengan foto-foto hasil karyanya. Salah satunya foto berjudul Shut Up, yang menampilkan kambing mainan dari plastik yang matanya terbelalak karena moncongnya dijepit oleh penjepit jemuran merah muda.
Uniknya, karya-karya visualnya itu dihasilkan dengan memanfaatkan scannography, metode rekam digital dengan menggunakan alat pemindai (scanner) yang biasa digunakan untuk memindai foto, gambar, teks, atau dokumen. Angki seolah ingin membuktikan bahwa scanner seperti halnya kamera mampu juga menciptakan karya artistik.
Dalam pameran bertajuk 2 Folders from Fukuoka itu fotografer kelahiran Semarang 39 tahun lalu ini menampilkan karya-karyanya selama menjalani program residensi seni yang diadakan Fukuoka Art Museum di Fukuoka, Jepang, pada September hingga Oktober 2009. Program itu didapat Angki setelah mewakili Indonesia menampilkan karyanya bersama 42 orang perupa dari Cina, Thailand, Burma, Vietnam, Malaysia, Singapura, Bangladesh, Pakistan, dan Korea dalam The 4th Fukuoka Asian Art Triennale.
Di Fukuoka, Angki tak cuma banyak belajar, tapi juga punya banyak waktu untuk bereksperimen, berkenalan, dan berjalan-jalan, termasuk memuaskan hobinya berburu foto tua dan suvenir di pasar barang bekas. Karya yang ditampilkan dalam pameran tunggalnya kali ini, menurut dia, semacam catatan harian selama tinggal di kota di selatan Tokyo itu.
Angki, misalnya, histeris ketika menemukan banyak mainan Doraemon asli dari Jepang. Boneka kucing lucu itu lantas diabadikannya dalam karya berjudul Circus of Doraemon. Sahabat Nobita itu terlihat membawa segunung tumpukan mobil warna-warni di kepalanya. Juga boneka kecil Crayon Sinchan. Boneka itu dipindai sehari sebelum Yoshito Usui, penciptanya, pergi berlibur ke gunung dan kemudian tewas di dalam jurang.
Obyek temuan yang beraneka rupa itu lantas dipadu-padankan dengan benda temuan lain sedemikian rupa supaya "lebih hidup". Sesuai dengan judul pameran, karya Angki dibagi dalam dua folder: Memories dan From Earth. Memories berisi kenangan masa lalu dengan frame kehidupan masa sekarang. Contohnya Fighter tadi. Foto-foto lama sejarah Jepang hasil perburuan di pasar loak di Fukuoka itu diletakkan di atas bahan makanan jadi yang dibeli di supermarket.
Tak cuma terkesan nyeleneh karena memadukan obyek yang tak biasa, gambar-gambar itu terlihat memikat karena dicetak dalam ukuran yang jauh lebih besar daripada ukuran aslinya. Hasil cetak dengan resolusi tinggi dipadukan dengan latar belakang yang hitam pekat membuat gambar tampil lebih menyala.
Untuk folder From Earth, foto-foto yang ditampilkan penuh ilustrasi dari hasil bumi dan obyek sebagai lakonnya. Selain Circus of Doraemon, termasuk dalam kategori ini adalah karya berjudul Fungi Baby Sleep, yang memvisualkan citra seorang bayi yang tertidur lelap di sela-sela jamur segar. "Apa yang dihasilkan bumi, seperti buah, tumbuhan itu bisa mewakili alam, sebagai pengganti landscape akibat keterbatasan scanner yang area rekamnya sangat sempit dan datar, tidak mempunyai ruang tajam luas seperti kamera," kata Angki.
Nunuy Nurhayati
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
