• Home
  • 15 Februari 2010
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Selingan
    • Intermezzo
  • Seni
    • Fotografi
    • Musik
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 15 Februari 2010

    MOMEN

    Gula
    Jawa Timur Blokir Impor

    Gubernur Jawa Timur Soekarwo memblokir peredaran gula impor di Jawa Timur. Ia mengklaim stok gula di wilayahnya masih cukup hingga Mei 2010. Ia bahkan meminta polisi melakukan penyegelan jika ada gula impor di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

    Soekarwo mengatakan saat ini Jawa Timur memiliki stok gula total 117 ribu ton dengan kebutuhan 40-50 ribu ton per bulan untuk industri makanan dan minuman. Selain stok gula masih cukup, dalam waktu dekat Jawa Timur akan memasuki masa giling tebu dengan rata-rata produksi 1,3 juta ton. Setiap kali berproduksi, Jawa Timur surplus 691 ribu ton, yang kemudian didistribusikan ke provinsi lain. Walaupun diprotes banyak pihak, Soekarwo berkeras tak akan mencabut keputusannya.

    Rabu pekan lalu, Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar mengatakan belum tahu gula impor ditolak di daerah. Pernyataan serupa diungkapkan Jimmy Bella, Direktur Bina Pasar dan Distribusi Direktorat Perdagangan Dalam Negeri. Kuota impor gula untuk Provinsi Jawa Timur 77 ribu ton--35,5 ribu ton dilakukan oleh PT Perkebunan Nusantara X, sisanya oleh PTPN XI.

    Aksi Korporasi
    IPO Garuda Mundur

    Penerbitan saham perdana (initial public offering/IPO) PT Garuda Indonesia dipastikan mundur. Semula, Garuda hendak masuk bursa pada awal triwulan I. Kini rencana itu ditunda sampai triwulan III. Namun kali ini bukan perkara utang-piutang dengan Bank Mandiri yang jadi sandungan. "Pengunduran dilakukan agar hasilnya maksimal," ujar Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Mustafa Abubakar di Bursa Efek Indonesia pekan lalu.

    Sebelumnya, rencana penawaran saham perdana Garuda terganjal masalah utang-piutang Rp 3,36 triliun ke Bank Mandiri. Masalah ini selesai setelah Garuda dan Mandiri sepakat menggunakan dana perolehan penjualan saham perdana nanti untuk membayar utang pokok sebesar Rp 1 triliun. Mustafa menambahkan, penawaran saham perdana ini ditargetkan menghasilkan dana segar US$ 300 juta, setara dengan Rp 2,85 triliun. Namun hingga saat ini pemerintah dan Garuda belum menunjuk penjamin emisi (underwriter). "Masih dalam proses penunjukan," katanya.

    Pada triwulan III tahun ini pemerintah juga akan menjual sebagian saham PT Krakatau Steel di Bursa Efek. Mustafa optimistis rating pabrik baja itu akan naik pada saat itu, setelah kerja sama dengan perusahaan baja Korea Selatan, Pohang Iron and Steel Corporation, terwujud.

    Migas
    Pertamina Tambah Impor

    Gara-gara operasionalisasi kilang minyak Balikpapan dan Balongan terganggu, Pertamina akan menambah impor premium dan solar. Pembelian premium sebanyak 5,5 juta kiloliter dan solar 3 juta kiloliter itu dilakukan mulai akhir bulan ini. Menurut Direktur Utama Integrated Supply Chain Pertamina Rusnaedy Johari, impor premium akan dikurangi segera setelah perbaikan kilang Balongan selesai. Pada kondisi normal, Pertamina biasa mengimpor premium 5 juta kiloliter dan solar 2 juta kiloliter.

    "Ditargetkan, Maret, kilang Balongan mulai beroperasi. Namun impor solar tak berkurang karena kilang Balikpapan masih diperbaiki," katanya. Sebelumnya, pada 16 Januari, Unit Hydrocracker A kilang Balikpapan rusak, sementara kilang Balongan mengalami penurunan kondisi. Akibatnya, produksi avtur, solar, dan elpiji menurun. Pada kondisi normal, Pertamina biasa mengimpor 32 persen kebutuhan minyak mentah domestik, yang mencapai 885 ribu barel per hari.

    Otomotif
    Recall Lagi

    Badai recall masih melanda pabrikan mobil sedunia. Toyota harus menarik kembali 8 juta Prius-mobil hibrid-sama dengan hasil penjualannya sejak 2009. Penyebabnya adalah kerusakan pada rem. Masalah Prius terdapat pada pedal akselerator yang membuat mobil ini tiba-tiba melesat tanpa kendali. Komplain paling banyak berasal dari Jepang dan Amerika Utara. Laporan media Jepang mengatakan Administrasi Keselamatan Jalan Raya Nasional di Amerika Serikat menerima lebih dari 100 keluhan tentang rem Prius baru.

    Pada saat yang sama, Honda Motor akan menarik kembali 438 ribu mobil di seluruh dunia terkait dengan dugaan kerusakan pada kantong udara (airbag). Hal ini dilakukan setelah terjadi kecelakaan dan kematian gara-gara peranti pengaman itu tak berfungsi. Seperti dilansir Reuters pekan lalu, varian mobil yang akan ditarik antara lain Accord, Civic, Odyssey, CR-V, dan Pilot keluaran tahun 2001-2002 serta seri Accura TL dan CL tahun 2002 yang dijual di Amerika Serikat. Selain itu, penarikan dilakukan pada varian Inspire, Sabre, dan Lagreat yang beredar di Jepang.

    Menurut Yoichi Hojo, Direktur Keuangan Honda Motor, pihaknya akan meminta kompensasi dari Takata, perusahaan pembuat kantong udara untuk varian mobil-mobil itu. Takata juga diminta meningkatkan kualitas produknya karena kerusakan terjadi pada proses manufaktur, bukan pada desain yang telah disetujui Honda.

    Survei
    Optimisme Bisnis Turun

    Hasil survei Badan Pusat Statistik menyebutkan Indeks Tendensi Bisnis pada triwulan keempat 2009 turun menjadi 108,45, dari 112,86 pada triwulan III. Penurunan ini menunjukkan rendahnya tingkat optimisme pelaku bisnis. Menurut Slamet Sutomo, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, hasil ini diperoleh dari survei tendensi bisnis pada 2.400 perusahaan besar dan sedang. Responden penelitian ini adalah para pemimpin perusahaan tersebut. "Penurunan ini mungkin disebabkan oleh berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat, seperti Bank Century dan kasus mafia peradilan," ujarnya di Jakarta pekan lalu.

    Dalam hasil survei disebutkan, semua sektor bisnis memiliki indeks di atas 100, kecuali pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan. Sektor transportasi dan telekomunikasi mencatat indeks tertinggi, yakni 111,32. Indeks bisnis sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan mencapai 110,05. Sedangkan sektor pertambangan dan penggalian berada di angka 103,69. Slamet mengatakan indeks bisnis diperkirakan akan naik pada triwulan pertama 2010 karena adanya peningkatan order dari dalam negeri dan harga jual produk.

    Pertanian
    Food Estate Masih Bermasalah

    Proyek lumbung pangan Food Estate di Kabupaten Merauke masih menghadapi berbagai masalah. Masalah yang dihadapi proyek seluas 1,6 juta hektare ini antara lain izin penggunaan lahan, infrastruktur, minimnya tenaga kerja, serta tidak adanya analisis dampak lingkungan dan pasar. Anehnya, pemerintah ngotot meresmikan proyek ini. Malah acara peresmian yang bertepatan dengan hari ulang tahun Kabupaten Merauke itu akan dihadiri pula oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menteri Pertanian Suswono berkilah peresmian ini masih berupa peluncuran awal untuk menarik investor datang ke Merauke.

    Investor Food Estate, PT Bangun Tjipta Sarana, meminta pemerintah membangun infrastruktur proyek tersebut. "Jika ini dibebankan pada investor, biaya yang harus dikeluarkan tidak akan mencukupi," kata Siswono Yudho Husodo, Komisaris Utama PT Bangun Tjipta Sarana, Rabu pekan lalu. Yayasan Medco, juga investor Food Estate, bahkan mengancam akan keluar dari proyek ini jika harus membangun infrastruktur. Sebelumnya, Bupati Merauke Johanes Gluba Gebze mengatakan pemerintah perlu membangun jalan dan sarana transportasi air agar investor berminat masuk.

    Terakhir, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengatakan departemennya belum mengeluarkan izin penggunaan lahan. Padahal, sebelumnya, Suswono mengklaim sudah mengantongi izin dan berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan. "Ketika Presiden ke sana, sekaligus juga bisa memberikan semacam izin usaha untuk pengelolaan lahan," katanya.

    Pertumbuhan Ekonomi
    Target 2009 Terlampaui

    Badan Pusat Statistik mengumumkan pertumbuhan ekonomi (produk domestik bruto) Indonesia selama 2009, sebesar 4,55 persen, melampaui target awal, 4,3-4,4 persen. Pendorongnya adalah konsumsi domestik yang membaik akibat mulai pulihnya perekonomian dunia. Dorongan paling besar berasal dari konsumsi pemerintah sebesar 15,7 persen, konsumsi rumah tangga 4,9 persen, dan investasi fisik 3,3 persen.

    Pada kesempatan berbeda, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah tidak akan mengubah target pertumbuhan ekonomi pada 2010, sebesar 5,5 persen. Pernyataan ini disampaikan berkaitan dengan keputusan negara-negara Eropa yang akan menjalankan exit strategy memulihkan diri dari krisis. Hal ini diperkirakan bakal menimbulkan dampak negatif bagi perekonomian dunia. "Pertumbuhan ekonomi Indonesia bersumber pada perekonomian domestik," kata Sri Mulyani di Jakarta, Kamis pekan lalu.

    Sengketa Dagang
    Siti Hardijanti Digugat Pailit

    Siti Hardijanti Rukmana digugat pailit oleh Literati Capital Investment Limited. Putri bekas presiden Soeharto ini digugat karena posisinya sebagai penjamin PT Citra Industri Logam Mesin Persada. Gugatan pailit dilayangkan Literati ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin pekan lalu. Literati menuntut Siti Hardijanti membayar utangnya pada Januari 2009, tapi tak ada tanggapan.

    Gugatan ini berawal ketika PT Citra berutang ke Bank Internasional Indonesia Rp 7,5 miliar pada 1994, yang membengkak hingga Rp 1,64 triliun pada 2004. Literati juga menuntut Siti Hardijanti sebagai penjamin Ellistar Investments Ltd. dan pemegang hak tagih utang PT Trihasra Sarana Jaya Purnama senilai Rp 1,04 triliun.

    Kuasa hukum Siti Hardijanti, Harry Ponto, menilai gugatan ini berkaitan dengan konflik antara kliennya dan Hary Tanoesoedibjo, bos PT Media Nusantara Citra (MNC). Konflik Hary Tanoe dan Siti Hardijanti bermula pada gugatan pailit PT Cipta Televisi Indonesia (TPI). Siti Hardijanti dan pemegang saham TPI lainnya menggugat Hary melalui PT Berkah karena tak terima dengan hasil rapat umum pemegang saham luar biasa pada Maret 2005 dan sahamnya menyusut hingga 25 persen. PT Berkah adalah anak perusahaan PT MNC.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Fotografi

Pecinan dalam Bingkai Visual

Album

Penghargaan
Koran Tempo

Catatan Pinggir

Benda-benda

TEMPO|interaktif

Nasional

Lulus Ujian, Siswa Madrasah di Bima Bantu Korban Banjir

Olahraga

Inter Milan Duetkan Milito-Longo

Olahraga

Kandaskan Korea, Cina Rebut Kembali Piala Uber

Seni & Hiburan

Promotor Konser Lady Gaga Belum Dapat 3 Izin

Internasional

Pakar: Iran Mampu Memproses Uranium untuk 5 Bom

Nasional

Bantuan untuk Korban Banjir di Bima Mulai Disalurkan

Nasional

Siswi SMAN 2 Kuningan Peraih Nilai Tertinggi UN

Nasional

Hasil Ujian Nasional Jeblok, DPRD Kota Malang Kecewa  

Metro

Joshua Disangka Pukul Kelasi Arifin Tiga Kali  

Nasional

Ini Cerita Siswi Nilai UN Tertinggi se-Indonesia  

Nasional

Perayaan Kelulusan dari Longmarch hingga Tawuran

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif