GLODOK, Chinatown, Yaowa-rat, Cholon, Petaling- Street, Binondo, Kreta Ayer, dan Tayote Tan. Delapan nama dalam satu wajah. Sebuah kawasan yang dipersatukan oleh satu benang merah budaya bangsa perantau keturunan Cina, yang kerap disebut sebagai pecinan. Simbol peradaban kota berisi elemen tradisi, etos kerja, dan persaudaraan yang kental dalam satu rangkaian sejarah yang panjang. Semacam "cagar budaya leluhur" sekaligus pusat pengendali bisnis di banyak negeri.
Ke kawasan yang tersebar di sepuluh ibu kota negara-negara di Asia Tenggara itulah Zhuang Wubin sendirian berkelana sepanjang 2008. Pewarta foto asal Singapura ini tertantang untuk mencari akar budaya garis darahnya sebagai seorang keturunan Cina. "Karena keterbatasan waktu, saya memi-lih satu kawasan pecinan di masing-masing ibu kota negara," kata Wubin.
Berbekal riset mendalam tentang sejarah masing-masing pecinan, dia menjelajahi kawasan yang oleh masyarakat setempat disebut chinatown di ibu kota Brunei Darussalam, Bandar Seri Begawan; Phnom Penh (Kamboja); dan Vientiane (Laos). Kawasan lain yang dirambahnya adalah Yaowarat (Bangkok, Thailand), Cholon (Kota Ho Chi Minh, Vietnam), Petaling Street (Kuala Lumpur, Malaysia), Binondo (Manila, Filipina), Kreta Ayer (Singapura), Tayote Tan (Yangoon, Burma), dan kawasan Glodok (Jakarta, Indonesia).
Berbekal kemampuannya menulis, Wubin yang kerap menulis soal Indonesia di sejumlah media massa di Singapura lantas menuangkan pengalaman-nya itu dalam buku berjudul Chinatowns in A Globalizing Southeast Asia, yang diterbitkan Chinese Heri-tage Centre pada Januari 2009. Tak cuma merangkai cerita dari ingatan warga setempat melalui kata-kata, lewat bidikan kameranya, Wubin berusaha menyaji-kan kehidupan keseharian dalam konteks struktur sosial, politik, dan ekonomi warga pecinan itu secara visual. Foto-foto karyanya dipamerkan di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Jakarta, 5-21 Februari 2010.
Tak kurang dari 30 rangkaian foto berkategori esai dalam pameran tunggal bertajuk 10 Chinatowns of Southeast Asia itu seolah mengajak penikmat pameran bertualang mata menyusuri sudut-sudut pecinan. "Melalui kamera Wubin, kita seolah mengikuti perjalanannya mencari perihal akar dalam darahnya sebagai seorang Singapura keturunan Cina," kurator pameran Oscar Motuloh menjelaskan. Oscar menyebut "petualangan" Wubin sebagai sebuah tetirah pada peradaban leluhurnya, seperti pernah ditorehkan penulis Amerika Serikat berkulit hitam, Alex Haley, ketika menemukan akarnya di Gambia, Afrika, pada tokoh Kanta Kinte dalam karya sastranya yang sangat terkenal, Roots: the Saga of An American Family (1976).
Wubin antara lain memotret bebera--pa bangunan sejarah di sejumlah pe-ci-nan yang nyaris tergerus zaman. Te-ngok saja salah satu hasil jepretannya- di kawasan Chinatown Bandar Seri Begawan, yang menggambarkan ge-dung- bioskop Hassanal Bolkiah di pinggir Jalan Sungai Kianggeh. Dalam- -pengantar foto bertajuk Bioskop Terakhir itu diceritakan bioskop satu-satunya di kawasan tersebut telah ber-operasi lebih dari 50 tahun dan pernah menjadi titik utama keramaian Bandar Seri Begawan. Tapi masa kejayaan itu tinggal kenangan. Hal itu sama seperti nasib bioskop Sri Muang di Jalan Yaowarat, daerah Samphan Thawong, Bangkok, yang terekam dalam foto berjudul Teater Terakhir. Sebelum menjadi bioskop sejak 25 tahun lalu, gedung ini awalnya digunakan sebagai tempat pementasan opera Teochiu.
Jejak sejarah juga terekam dalam foto berjudul Di Bawah Jembatan, yang memvisualkan kesibukan para pedagang di bawah Jalan Layang Pasar Pagi, Jakarta. Dari hasil perbincangan dengan para sesepuh dan riset diketahui para pendatang dari Cina ditengarai telah membangun lapak di sepanjang Jalan Petak Baru bahkan sejak masa trem masih melewati area itu. Ada sekitar 600 lapak berdesakan di sana. Sebagian besar dimiliki etnik Cina. Sekitar 20 tahun lalu mereka tergusur karena akan dibangun Asemka Jembatan Batu-yang sekarang dikenal sebagai jalan layang Pasar Pagi.
Tentu saja, pecinan tak lepas dari aktivitas warganya, keturunan Cina yang di kawasan Asia Tenggara populasi-nya mencapai 80 persen dari seluruh orang Cina perantauan di dunia. Wubin mencoba menceritakannya dengan menangkap sejumlah momen tertentu. Misalnya keriuhan menjelang peraya-an -Imlek, ke-giatan ibadah yang bukan melulu di kelenteng tapi juga di gereja tua. Kege-maran berbelanja, bersolek, hingga bertaruh pun tak luput dari bidikannya. Dalam Rumah Judi, misalnya, Wubin memotret sebuah rumah judi swasta di Jalan 53 hingga selatan pusat Pasar Phsar Thmev, milik keluarga Cina-Vietnam dari Ha Tien, sebuah kota di perbatasan.
Lain lagi dengan Lorong Maut. Foto dengan pencahayaan muram ini bercerita tentang sebuah lorong sempit di Bangkok. Ada cerita muram di balik gambar. Bagi warga Bangkok, lorong itu dikenal dengan sebutan "Hanging Throat Alley" (Jalan Tempat Menggantung Leher). Menurut Wubin, jalan itu sering dijadikan tempat bunuh diri imi-gran Cina yang gagal meraih sukses di Bangkok.
Meskipun fotografi yang ditawarkan Wubin sesungguhnya menjadi lebih semacam ilustrasi dalam bukunya, menurut Oscar, komposisi yang diabadikan Wubin dirancang kembali sebagai suatu kesatuan yang mengemukakan warga pecinan Asia Tenggara sebagai unit besar. "Sebentuk penekanan pada fungsi fotografi sebagai gerbang ke dalam pecinan Asia Tenggara dan komunitasnya," kata Oscar. Ada benang merah yang serupa dalam keseharian, karakter, permainan, kuliner, ibadah, dan tentu pembauran yang terjadi di masing-masing negara dengan budaya lokalnya yang kuat.
Kekuatan karya-karya Wubin memang pada cerita di balik gambar yang terekam. Dari segi visual, foto-fotonya terasa tak istimewa. Mungkin pengambilan foto yang dilakukan Wubin di luar pakem fotografi yang patuh pada aturan komposisi atau angle. Wubin banyak bermain pada eksplorasi warna dan cahaya (backlight). Fotonya yang didominasi warna gelap, fokus yang kadang mengabur, atau bagian tubuh yang terpotong membuat foto sedikit susah dipahami.
Nunuy Nurhayati
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
