• Home
  • 15 Februari 2010
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Selingan
    • Intermezzo
  • Seni
    • Fotografi
    • Musik
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 15 Februari 2010

    Philharmonie Orkest dan Pemain Obo

    Jauh hari sebelum orang mencoba membangkitkan kembali Orkes Simfoni Jakarta, di Jakarta sudah ada sebuah orkes simfoni. Namanya Philharmonie Orkest. Kelompok musik ini dipimpin seorang Belanda bernama Ivone Baarspul. Pemainnya kebanyakan orang asing, ditambah satu-dua orang pribumi yang mungkin pernah mengenyam pelajar-an musik klasik. Permainan mereka pun di atas rata-rata. Orkes ini tidak muncul di tempat umum, tapi di tempat eksklusif, untuk kalangan eksklusif pencinta musik klasik. Terbilang rutin, seminggu sekali permainan mereka disiarkan radio kolonial saat itu.

    Lama tak terdengar setelah hiruk-pikuk revolusi berlangsung, personel mereka, terutama para pemusik asing, tampil kembali lewat dua wadah: Orkes Radio Djakarta dan Orkes Studio Djakarta. Radio Djakarta masih memanfaatkan para pemain asing dari Philharmonie Orkest, sedangkan Studio Djakarta mulai mencari pemain pribumi. Orkes yang disebut belakangan ini dipimpin Syaiful Bahri, dan karena sifat pribuminya itu, mereka tak sepenuhnya berkiblat ke Barat. Malah lebih sering memainkan komposisi Indonesia atau yang populer sebagai lagu seriosa.

    Cita-cita untuk tetap ada orkes simfoni di Jakarta terus dihidupkan kalangan pemusik pribumi yang pernah mengenal masa jaya Philharmonie Or-kest. Adidharma, yang sejak 1957 sudah menjadi concert master di Orkes Radio Djakarta, akhirnya pada 1961 mengambil inisiatif: mendirikan Orkes Simfoni Jakarta (OSJ), sebagian pemainnya orang asing.

    Tapi, setelah pemusik asing kembali ke negeri mereka, konser macet. Lantas, mengumpulkan pemusik muda lulusan AMI (Akademi Musik Indonesia) Yogya, OSJ kembali latihan dengan mengambil markas RRI studio Jakarta. Kesulitan lain, untuk mengadakan pementasan rutin sebulan misalnya, muncul lagi. Tentu saja perkara uang.

    Sebuah ibu kota negara tanpa orkes- simfoni? Sindiran para pemusik jenis- klasik ini tampaknya menggelitik Ali Sadikin, Gubernur DKI waktu itu. Ia menantang OSJ berpentas rutin sebu-lan sekali. Soal biaya urusan DKI. Maka, diperkenalkan sistem donatur-antara lain perusahaan asing seperti Caltex dan Stanvac. Sebagai imbal-an, donatur menerima sejumlah karcis. Namun pada akhirnya orang sering menonton pertunjukan musik mereka tanpa karcis. Gratis.

    Ketika Ali Sadikin pensiun dari Gubernur DKI Jakarta, sistem donatur itu pun ikut terhenti, meski usaha menghidupkan orkes ini jalan terus. Pemusik pendukung OSJ ini, yang sebelumnya berstatus pegawai honorer RRI, diangkat menjadi pegawai negeri bersamaan dengan pengangkatan sejumlah pegawai honorer kesenian daerah.

    Dengan penghasilan kecil itu, kelangsungan OSJ yang beranggota 50 orang itu tak terlalu punya harapan hidup tinggi. Pentas sebulan sekali semakin merupakan tekad ketimbang reali-ta. Pemainnya banyak yang lari mencari tambahan di luar, misalnya mendukung pergelaran Orkes Telerama. Bahkan ada yang ke klub malam, memainkan musik dan alat yang tidak biasanya dipegang di OSJ.

    Tentu saja ini mempengaruhi pementasan, terutama sekali konsentrasi pemain pada alat itu. F.X. Sutopo, salah satu yang pernah menjadi konduktor tamu OSJ, sering mengaku kesal menghadapi pemain yang tak lagi menyimpan disiplin orkes simfoni. Satu lagi yang memudarkan masa depan orkes ini adalah tiadanya pemain obo.

    "Pemain obo memang sangat langka. Sebab, dalam penerimaan siswa baru, paling hanya satu atau dua orang yang berminat. Kalau diperbandingkan, peminat belajar obo dan biola di SMM, 3 dibanding 40. Itu pun mainnya belum tentu baik. Bahkan terkadang putus di jalan karena tidak kuat atau tidak mampu membeli alat yang harganya sangat mahal," kata Sapta Ksvara.

    Selain alatnya mahal, pemain obo harus mempunyai musikalitas yang tinggi karena pemain obo tergolong pemain double reed, sebagaimana permainan saksofon, Frech horn, dan fagot- (basun). Obo, French horn, dan basun itu sangat langka.

    Sang pemain pun secara fisik juga harus kuat, tidak boleh punya penyakit asma dan penyakit pernapasan lainnya. Selama ini andalan SMM memang orkestranya, sehingga setiap penerimaan siswa baru, setting-nya orkestra, setiap angkatan harus menjadi satu orkestra, agar berkesinambungan.

    Dalam orkestra, obo yang berfungsi sebagai pembawa melodi, pemberi fil-ler (isi-isian). Itu sangat penting karena bunyinya sangat spesifik. Begitu ada suara obo, langsung bisa tembus. Sa-yangnya tidak banyak pemain obo andal di Indonesia. Beberapa pemain obo andal sudah hijrah ke luar negeri, seperti Haryanto yang kini di Malaysia, atau Ria Merdeka yang juga tinggal di Malaysia dan belakangan di Singapura dan Jepang.

    Haryanto pemain obo era 1990. Dia bukan dari SMM tapi dari SMA lalu ke ISI, meskipun tidak sampai lulus. Tapi permainan obonya hebat. Kete-rampilannya itu karena dia sering pergi ke luar negeri, lalu nyantrik ke pemain-pemain internasional. Karena itu, kemampuannya betul-betul matang.

    Ada juga Juhad Ansori. Dia pernah bermain di OSJ pada waktu konser Indonesia Emas. Juhad juga lulusan SMM, sekarang tinggal di Jakarta. Jadi, kalau kita telisik, yang memperkuat OSJ itu sebetulnya juga SMM.

    Sedangkan Ria Merdeka berkiprah sebelum Haryanto. Pada waktu itu dia menjadi dosen ISI. Generasi awal pemain obo itu murid Pak Kusbini, namanya C. Tuwuh, yang kemudian menelurkan orang-orang itu. Hampir semua orang RRI yang bermain orkestra itu pernah nyantrik di Pak Kusbini. Masih ada lagi pemain obo, flute, dan klarinet yang masuk orkestra RRI, namanya Yudianto.

    Untuk pemain basun atau fagot, pemain andalnya bernama Siswanto,- yang sekarang dosen ISI. Dia sering bermain di Twilight Orchestra. Sis-wanto menurunkan Hendri Waskito dan Slamet, yang kini menjadi guru SMM. Sedangkan Amir Katamsi menguasai kontrabas.

    Di Indonesia, kemampuan bermain musik langka dalam sebuah orkestra itu kurang dihargai. Sebagai negara besar yang sudah masuk dunia globalisasi, seharusnya Indonesia punya orkestra. Malaysia dan Jepang juga punya. Karena itu, sangat wajar bila orang seperti Haryanto atau Ria Merdeka lebih memilih tinggal di luar negeri, karena di sana mereka dihargai tinggi.

    Dulu pernah ada Nusantara Symphony Orchestra, yang bernaung di bawah yayasan, dibentuk Mochtar Kusumaatmadja, dan dilanjutkan Fuad Hassan, sekarang tidak muncul lagi. Itulah kalau di bawah yayasan. Kalau pengurusnya tidak aktif, ya sudah pasti bubar.

    "Indonesia ini seharusnya punya orkestra milik negara yang anggotanya permanen, digaji negara, khusus untuk bermain orkestra, seperti OSJ yang personelnya digaji RRI. Kalau demikian, regenerasi bisa berjalan. Sayangnya, di RRI regenerasinya tidak ada," kata Sapta Ksvara.

    Idrus F. Shahab, L.N. Idayanie (Yogyakarta)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Fotografi

Pecinan dalam Bingkai Visual

Album

Penghargaan
Koran Tempo

Catatan Pinggir

Benda-benda

TEMPO|interaktif

Nasional

Lulus Ujian, Siswa Madrasah di Bima Bantu Korban Banjir

Olahraga

Inter Milan Duetkan Milito-Longo

Olahraga

Kandaskan Korea, Cina Rebut Kembali Piala Uber

Seni & Hiburan

Promotor Konser Lady Gaga Belum Dapat 3 Izin

Internasional

Pakar: Iran Mampu Memproses Uranium untuk 5 Bom

Nasional

Bantuan untuk Korban Banjir di Bima Mulai Disalurkan

Nasional

Siswi SMAN 2 Kuningan Peraih Nilai Tertinggi UN

Nasional

Hasil Ujian Nasional Jeblok, DPRD Kota Malang Kecewa  

Metro

Joshua Disangka Pukul Kelasi Arifin Tiga Kali  

Nasional

Ini Cerita Siswi Nilai UN Tertinggi se-Indonesia  

Nasional

Perayaan Kelulusan dari Longmarch hingga Tawuran

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif