Lupakan alunan lembut-pelan atau lagu cinta ala Tohpati Ario Hutomo, salah satu gitaris kelas satu negeri ini. Bersiaplah menyambut gaya musiknya yang berbeda melalui album grup baru, Tohpati -Ethnomission. Dibanding tiga album solo Tohpati terdahulu, It's Time, Tohpati, dan Serampang Samba, 10 lagu dalam album berjudul Save the Planet-yang akan diluncurkan saat pergelaran Java Jazz awal Maret mendatang-itu ber-atmosfer lebih keras.
Nuansa musik Ethnomission yang juga berpersonel Indro Hardjodikoro (bas), Endang Ramdhan (kendang), Diki Suwarjiki (suling tradisional), dan Demas Narawangsa (drum) sangat beragam. Aura rock yang cukup kental kerap bercampur musik etnik dan keluwesan fusion jazz. Perubahan tempo permainan, kadang sangat tiba-tiba, ada di semua lagu.
Sabtu dua pekan lalu, Teater Salihara, Jakarta Selatan, menjadi tempat pertama Ethnomission unjuk keahlian. Mereka mengentak sejak awal. Meski sempat kurang menyatu di awal, penampilan band yang mulai berlatih sejak September 2009 ini sangat menarik. Sekitar 250 penonton yang berjubel dibuat terkesima. Berkali-kali tempik sorak dan tepuk tangan membahana meski lagu belum selesai.
Dalam intronya, Tohpati menulari penonton dengan variasi akor miring, yang kemudian sering muncul dalam lagu-lagunya. Petikan cepat dawai yang menghasilkan nada mayor berganti minor terus berulang. Barulah empat pemain lain yang juga mengenakan kemeja putih dan celana motif batik masuk. Di atas panggung beralas rumput ke-ring, lima musisi itu beraksi lebih dari 90 menit.
Lagu pertama, Etno Funk, langsung menghadirkan gaya rock Tohpati. Dibuka dengan stacatto singkat, permain-an cepat gitar lalu menyusul, diikuti tabuhan snare, simbal, dan bas drum berpedal ganda. Tohpati mengeksekusi lengkingan nada tinggi dari fret 12 ke atas Fender Stratocaster-nya. Ia menyi-sipkan pembukaan lagu Mahabarata dari album Serampang Samba dengan gaya rock.
Sekitar delapan menit irama rock diselingi sedikit permainan jazz memanjakan kuping penonton. "Jiwa rock saya memang tidak bisa hilang," kata gitaris 39 tahun ini. Gaya serupa juga muncul pada Rain Forest. Meski sempat menampilkan bossa nova di awal, irama rock berputar lagi setelah interlude hingga akhir lagu.
Ethnomission mampu mengombinasikan skill tiap personelnya. Slab cepat bas enam senar Indro diikuti iring-an kendang Endang dalam lagu New Inspiration. Duet Demas dengan Endang selama lebih dari satu menit dalam Perang Tanding pun berlangsung dalam teknik dan tempo tinggi. Keduanya mampu saling mengisi dan menjaga kestabilan tempo.
Adapun Diki, selain bisa mengimbangi kecepatan jemari Tohpati, menghadirkan nada-nada kromatis melalui buka-tutup lubang toleat, seruling khas Sunda, dalam lagu terakhir, Pesta Rakyat. Endang dan Tohpati yang sama-sama personel kelompok jazz Simak Dialog tak kesulitan berduet dalam Gegunungan, nomor beritme cepat sepanjang sekitar empat menit.
Tohpati tetap mempertahankan unsur etnik-minatnya sejak dulu. Let the Birds Singing, misalnya, menonjolkan nada-nada khas Sumatera Barat dari alunan suling ditambah dengan tabuh-an gembyung Papua. Permainan harmoni Tohpati juga menambah lembut lagu ini. Adapun corak Sunda dan Jawa terdengar jelas dalam lagu Drama dan Bedhaya.
Suasana alam juga tergambar. Melalui keyboard-nya, Diki mengalirkan suara angin, tetes air, dan kicau burung. Tohpati bereksperimen dengan memunculkan efek suara laser ataupun suara robot tahun 1980-an dalam lagu Save the Planet.
Tohpati mengaku album yang merupakan impiannya sejak dulu ini jauh berbeda dengan album sebelumnya. Sangat mungkin gaya baru yang ditonjolkannya kurang menjual. "Ini bukan musik komersial seperti sebelumnya, tapi untuk apresiasi diri," katanya. Mantan gitaris terbaik se-Jawa pada usia 14 tahun ini bahkan rela berpisah sementara waktu dengan Sonny Music Entertainment Indonesia dan menempuh jalur indie label. Meski tak mudah mencerna lagu-lagu baru ini, penonton tetap memberikan sambutan meriah.
Bintang pada konser perdana Ethnomission ini bukan hanya Tohpati. Perhatian penonton cukup tersedot oleh penampilan Demas Narawangsa. Belum berusia 17 tahun, musisi serba bisa ini makin menunjukkan kematangan bermusik. Energi seperti tak habis mengalir ke tangan dan kakinya dalam tempo teratur. Semua rekannya di Ethnomission memuji penampilannya. "(Demas) luar biasa," kata Endang.
Pramono
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
