• Home
  • 15 Februari 2010
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Selingan
    • Intermezzo
  • Seni
    • Fotografi
    • Musik
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 15 Februari 2010

    Tersangkut pada Ketuk

    Tragedi itu berawal dari musik. Letnan Jenderal Komtur (diperankan Carolus Daris Gatot Rahmadi) tertarik pada musik yang dimainkan sekelompok pemusik di jalan. Dia mendekati kelompok itu dan menari-nari menikmatinya. Tak lama. Ketika matanya tak sengaja mengarah ke balkon rumahnya, pemandangan yang terpampang membakar dirinya. Putrinya, Donna Elvira (Lilies), berada dalam pelukan Don Juan (Yayu A.W. Unru).

    Sang ayah yang ingin menegakkan kehormatan keluarganya itu pun menantang Don Juan berduel. Mereka berkejar-kejaran ke sana-kemari dan berputar-putar membentuk lingkaran. Dua pedang pun ber-adu, berdenting-denting, ditingkahi musik dari harpsichord, semacam piano kuno, yang dimainkan Budi Utomo Prabowo dari sudut kanan panggung. Tapi adegan duel maut ini tampak tersandung-sandung, antara bergaya lambat yang tanggung dan bergaya alami yang tak tercapai. Para pemain seakan-akan menunggu suatu momentum untuk mengadu pedang mereka agar bertepatan dengan bunyi "tring" dari harpsi-chord.

    Walau begitu, pertarungan mereka yang bergaya Srimulat berhasil menggelitik saraf penonton pantomim Don Juan di Gedung Kesenian Jakarta pada Kamis dan Jumat malam dua pekan lalu. Tawa pun berderai. Pertarung-an berakhir ketika pedang Don Juan menusuk tubuh Komtur. Namun Komtur yang sudah berkelojotan itu masih mengelilingi panggung cukup lama sebelum akhirnya tergelintang di tanah. Lagi-lagi tawa penonton berhamburan. Pada detik-detik akhir hayatnya, Komtur bersumpah akan membalas dendam kepada si perayu perempuan itu, sum-pah yang menjadi pengikat kisah ini.

    Adegan-adegan ini membuka pertun-jukan Don Juan, yang juga dipentaskan di Taman Budaya Jawa Barat, Bandung, pada Selasa dan Rabu pekan lalu. Pertunjukan pantomim ini disutradarai Milan Sladek, maestro pantomim kelahiran Slovakia pada 1938. Pentas ini digelar dalam rangkaian peringatan 40 tahun Institut Kesenian Jakarta dan mengenang (almarhum) Sena Utoyo, pantomimer dan pengajar di institut itu.

    Don Juan diangkat dari musik karya Christoph Willibald Ritter von Gluck (1714-1787), komposer opera klasik asal Jerman. Gluck menciptakan Don Juan sebagai karya awalnya di genre opera komik dan kemudian mengubahnya menjadi opera balet. Di tangan Sladek, karya itu berubah menjadi pertunjukan pantomim yang tetap mempertahankan drama dan unsur komedinya. Sladek menulis sendiri libreto pertunjukan ini.

    Alur kisah pertunjukan Don Juan ini tak jauh beda dari legenda Don Juan yang sudah dikenal umum. Don Juan digambarkan sebagai bangsawan pe-rayu wanita. Dia ke mana-mana didampingi Laporello (Pungkas Banon Gautama), pelayannya yang setia dan sebenarnya sering memperingatkannya soal kebiasaan buruknya itu.

    Hobi merayu Don Juan dimunculkan dalam beberapa adegan, seperti ketika dia menggoda seorang gadis penjual bunga (Milan Taro Sladek). Karakter playboy-nya ini diurai lebih jelas dalam adegan-adegan di pedesaan. Di situ dia merayu dua perempuan desa sekaligus (A. Rahman dan Andri Fellani Sidiq), tapi ketika seorang gadis desa lugu (Michael Norris Kurniawan) lewat, perhatiannya langsung pindah dan mengejar si gadis.

    Sang gadis lalu mengajak Don Juan mojok di semak-semak. Masalah datang ketika Donna Elvira tiba-tiba muncul dan dua perempuan, yang dicampakkan Don Juan, memberitahukan tempat persembunyian sang perayu. Setelah melihat perselingkuhan Don Juan itu, Donna Elvira sadar bahwa dia selama ini keliru memilih orang yang patut dicintai. Donna dan para perempuan korban rayuan Don Juan kemudian bersekongkol untuk membalas dendam.

    Kegilaan Don Juan lebih dari itu. Dia memaksa Donna menciumnya ketika sang gadis sedang berada di makam ayahnya. Patung ayahnya yang tegak di kepala makam itu bahkan belum lagi dibuka selubungnya. Pergumulan antara Donna, yang menolak mencium Don Juan, dan sang perayu itu membuat selubung patung tersingkap. Di sana tegaklah sebuah patung dengan tangan kiri melintang di depan perut dan jari tangan kanan menunjuk ke atas.

    Menurut legenda, sang patung adalah jelmaan roh Komtur. Don Juan menan-tangnya untuk makan malam bersama. Sang patung menerimanya dan benar-benar hadir dalam acara makan malam itu. Patung itu lalu mengajak Don Juan berjabat tangan. Ketika Don Juan -mengulurkan tangan, sang patung langsung menggenggamnya erat-erat, lalu menyeretnya ke neraka.

    Dalam pertunjukan Sladek, kisah ini diwarnai persekongkolan para perempuan korban rayuan Don Juan-yakni Donna dan tiga gadis desa-untuk membalas dendam. Mereka datang ke pesta itu dengan memakai topeng dan berusaha mempermalukan sang tuan rumah. Ketika topeng mereka terbuka, Don Juan terkejut dan berusaha mengendalikan situasi. Namun pesta dengan acara puncak makan-makan itu semakin bertambah buruk ketika sang patung benar-benar datang dan ikut berpesta!

    Sladek menutup pertunjukan ini dengan adegan Don Juan terbakar di ne-raka. Don Juan berada di balik sebuah papan bergambar api dan di belakangnya berdirilah sang patung. Satu per satu korban rayuannya datang, tapi kemudian pergi, seakan-akan menolak menolong sang playboy. Dendam telah terbalas.

    Sladek telah beberapa kali berpentas di sini. Saat berulang tahun ke-70, dia berpentas di Salihara dan Goethe Institut. Namun selama ini dia lebih banyak tampil sebagai pemain, dan penonton pun menikmati pantomimnya yang seperti bunglon itu-yang dapat memunculkan dan menghilangkan karakter- tokoh secara cepat. Bahkan banyak seniman Indonesia yang jatuh hati pada pantomim dan berguru padanya, termasuk Sena Utoyo, Didi Petet, dan Jemek Supardi.

    Kini Sladek menunjukkan kemampuannya sebagai sutradara. Dia sudah mementaskan 47 produksi sejak 1960 dan Don Juan pernah dipentaskannya pada 1978. Saat itu judulnya Kefka Don Juan dan dipentaskan oleh Teater Kefka, kelompok pantomim yang didirikannya pada 1974 dan menjadi satu-satunya teater pantomim permanen di Eropa pada masa itu.

    Menurut Sladek, musik dan sebagian libreto Don Juan kali ini sama dengan produksi pada 1978. "Tapi, kalau Anda pernah melihat rekaman videonya dan membandingkannya dengan yang sekarang, pasti Anda akan menemukan karakter yang sama sekali berbeda. Yang ini lebih bebas, lebih banyak bermain, dan lebih lucu," katanya.

    Dalam berkarya, Sladek juga dikenal sebagai seniman yang terbuka. Sejak awal kariernya, dia bereksperimen dengan semua kemungkinan yang diberikan teater dan pantomim: topeng, tari, gaya badut, dan sebagainya. Dia juga terbuka terhadap pengaruh dari berbagai kebudayaan. Dia, misalnya, menyerap opera Cina, kabuki, dan tarian India, hingga menghasilkan versi pantomim dari Die Hochzeit des Figaro karya Wolfgang Amadeus Mozart.

    Selama di Indonesia, sejak keda-tangannya pada 1980-an, Sladek telah menyaksikan beragam pertunjukan negeri ini, dari ketoprak sampai wa-yang kulit. Tapi dia tak bisa dengan tegas mengatakan sudah berusaha menggunakan unsur-unsur itu dalam karyanya. "Saya hanya berharap hal itu akan muncul dari bahasa tubuh dan gestur masing-masing pemain. Namun, bila produksi ini dipertontonkan di hadap-an penduduk Eropa, mereka pasti berkata, 'Oh, kok, sangat Asia!'" kata pantomimer yang memprakarsai Festival Pantomim Internasional Gaukler di Koln, Jerman, sejak 1976 ini.

    Penonton, yang malam itu didominasi orang Indonesia, dapat menikmati kelucuan-kelucuan yang disajikan, yang terkadang mirip Srimulat, kadang membuat kita terkenang akan ketoprak. Salah satu unsur yang paling jelas terlihat sumbangannya dalam Don Juan adalah ludruk. "Ludruk dari Surabaya menggunakan semua pemain laki-laki, termasuk untuk peran perempuan. Saya mendapat inspirasi dari situ, kecuali satu pemain perempuan untuk pemeran Donna Elvira," kata Sladek.

    Nah, bila penonton kadang melihat gerak-gerik para tokoh perempuan itu ganjil, sebenarnya ini alamiah, karena mereka memang pada dasarnya laki-laki. Namun, dalam pantomim, "tipuan" ini lebih sukar terungkap, kecuali disengaja, karena semua pemain berpupur tebal seperti badut dan tak ber-suara.

    Bila kelucuan sudah bisa diraih Sla-dek, ada satu aspek lain yang tampaknya belum sempurna, yakni kesesuaian antara gerak dan musik. Dalam beberapa adegan terlihat gerakan para pemain mendahului atau tertinggal dari ketukan dalam irama musiknya. "Dalam pentas ini, gerak mengikuti musik. Partitur musiknya dijaga betul. Biasanya, dalam pantomim kita, musik yang mengikuti gerak," kata Didi Petet, yang juga menonton pertunjukan itu.

    Para pemain telah berlatih keras untuk mencapai harmoni gerakan dan mu-sik ini. Didi beberapa kali menelepon- Yayu di masa-masa latihannya dan dari se-berang sana terdengar musik Don Juan bergema keras. "Jadi, kamu mende-ngar-kan terus musik itu?" tanya-nya. "Iya, Mas. Ngapalin ketukannya," kata Yayu.

    Sladek sempat khawatir soal harmoni ini. "Pertanyaan besar dari saya ketika hendak membawa Don Juan kemari adalah bagaimana mereka (para pemain) bisa bekerja sama dengan musiknya. Ternyata fantastis. Ternyata mereka bisa masuk ke dalam ritmenya, melodi-nya, dan suasana musiknya," katanya.

    Menurut Sladek, ketika datang dan bertemu dengan para penari, dia berkesimpulan kualitas mereka sama dengan para pantomimer Eropa. Dia juga mengakui bahasa tubuh para pemain bisa berbeda-beda. "Tapi formulasi gerak-gerik tubuh mereka berasal dari saya, yang kelihatan pada detail-detailnya, jadi tidak karena spontanitas atau improvisasi," katanya.

    Kalaupun ada kekurangan yang justru membuat lucu pertunjukan ini adalah tarian para pemainnya. Menurut Didi, gerak pantomim Sladek berbasis pada balet. Repotnya, para pemain rupanya tak pandai menari balet. "Anak-anak berusaha, tapi enggak bisa juga. Kesannya jadi sok dibalet-baletin," katanya.

    Lepas dari segala kekurangan itu, Didi menggarisbawahi soal komunikasi lintas budaya yang terjadi. "Ini kan soal pemahaman budaya. Kalau masih terbata-bata, saya kira biasa," ujarnya.

    Adapun Sladek menyimpulkan bahwa proyek ini seperti anggur yang baik. "Dia punya kesempatan untuk menjadi matang suatu saat nanti," katanya.

    Kurniawan


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Fotografi

Pecinan dalam Bingkai Visual

Album

Penghargaan
Koran Tempo

Catatan Pinggir

Benda-benda

TEMPO|interaktif

Nasional

Lulus Ujian, Siswa Madrasah di Bima Bantu Korban Banjir

Olahraga

Inter Milan Duetkan Milito-Longo

Olahraga

Kandaskan Korea, Cina Rebut Kembali Piala Uber

Seni & Hiburan

Promotor Konser Lady Gaga Belum Dapat 3 Izin

Internasional

Pakar: Iran Mampu Memproses Uranium untuk 5 Bom

Nasional

Bantuan untuk Korban Banjir di Bima Mulai Disalurkan

Nasional

Siswi SMAN 2 Kuningan Peraih Nilai Tertinggi UN

Nasional

Hasil Ujian Nasional Jeblok, DPRD Kota Malang Kecewa  

Metro

Joshua Disangka Pukul Kelasi Arifin Tiga Kali  

Nasional

Ini Cerita Siswi Nilai UN Tertinggi se-Indonesia  

Nasional

Perayaan Kelulusan dari Longmarch hingga Tawuran

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif