Menjadi pengekspor nomor wahid sedunia-dalam tempo 30 tahun saja-Cina ibarat raksasa yang bangun dari tidur panjang lalu menjalar-jalar dengan perkasa, dan membikin orang -ternganga karena kedigdayaannya membetot pasar dunia. Negeri itu merontokkan Jerman, yang selama enam tahun bertahan di posisi puncak.
Banyak negeri mengeluhkan serbuan barang buatan Negeri Panda itu, tak terkecuali Amerika. Di Indonesia, produk made in China bahkan telah membanjiri segala penjuru jauh sebelum ASEAN-China Free Trade Agreement resmi dilangsungkan pada Januari 2010.
Bebasnya perniagaan Cina-ASEAN membikin banyak yang waswas tak keruan. Produk Cina yang di masa lalu masih tertahan oleh berbagai ta-rif, kini melaju bebas hambatan ke pasar jumbo nan empuk bernama Indonesia. Sebagian pelaku industri dalam negeri yang terancam memekik-mekik, meminta pemerintah menunda pelaksanaan perdagangan bebas ini.
Alhasil, Duta Besar Cina untuk Indonesia, Zhang Qiyue, harus meredam kecemasan berbagai pihak. Pengetahuannya tentang hubungan kedua negara, terutama dari segi budaya, menjadi modalnya untuk meyakinkan semua orang: bahwa perdagangan bebas sesungguhnya bermanfaat bagi seluruh kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara.
Dia menunjuk contoh keuntungan kerja sama lewat investasi Cina di bidang minyak, pembangkit listrik, dan telekomunikasi yang menggunakan tenaga kerja Indonesia. "Mungkin sekitar 25 ribu tenaga kerja yang terserap, dengan paket beasiswa dan pelatihan dari perusahaan," ujarnya.
Persaingan dalam perdagangan -bebas dia yakin akan menggembleng pengusaha Indonesia menjadi pebisnis tangguh. Dia mengingatkan, pasar Cina dengan penduduk 1,3 miliar bisa digarap oleh pengusaha Indonesia. "Kalian mesti percaya diri untuk masuk ke pasar Cina," ujar perempuan yang murah senyum ini.
Zhang Qiyue adalah bekas atlet dan tak pernah meninggalkan olahraga di tengah kesibukannya sebagai diplomat. Kedisiplinan berolahraga itu tecermin dari posturnya yang langsing, lentur, dan segar-bugar. Rabu dua pekan lalu, di ruang tamu Kedutaan Besar Republik Rakyat Cina di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Zhang Qiyue menerima Yophiandi, Sapto Pradityo, Eka Utami Aprilia, dan Faisal Assegaf dari Tempo. Perbincangan mengalir dari isu perdagangan hingga hak asasi manusia di Cina.
Apa sesungguhnya yang diharapkan Cina dari perdagangan bebas dengan Indonesia?
Setiap negara punya keunggulan. Indonesia juga punya banyak produk, seperti buah salak. Salak sudah ada di Cina, tapi kami cuma punya beberapa buah tropis. Di Beijing hanya ada apel dan pir, selebihnya dari Selatan. Sekarang di Cina ada hampir semua buah tropis, seperti durian dari Thailand. Orang Cina berpikir semua buah tropis dari Thailand. Maka mereka selalu tanya apa Indonesia punya durian, punya ini dan itu? Saya jawab, tentu saja, Indonesia punya segalanya. Mereka tak pernah dengar buah asal Indonesia. Cina adalah pasar potensial, dan Indonesia harus percaya diri untuk masuk ke pasar itu.
Banyak yang mengeluh, perdagangan bebas ini akan menekan usaha kecil dan menengah di Indonesia....
(Tersenyum) sebetulnya dukungan terhadap kerja sama ini sangat kuat. Pihak yang khawatir jumlahnya kecil, tapi lebih vokal. Kami paham kesulitan usaha kecil dan menengah karena terjadi di seluruh dunia yang juga melawan krisis. Pasar di Amerika dan Eropa menjadi lebih kecil, karena usaha kecil-menengah (UKM) di sana juga menghadapi tekanan. Tapi kesulitan UKM bukan ditimbulkan langsung oleh perdagangan bebas. Ini bisnis, dan bisnis selalu kompetitif. Belum ada data kesulitan UKM lantaran kawasan perdagangan bebas, karena ini baru berjalan sekitar 20 hari. Kompetisi selalu ada, dengan perdagangan bebas ASEAN-Cina, atau tidak. Sekarang antarnegara ASEAN pun mulai bersaing. Sebab, sejak Januari juga berlaku perdagangan bebas antarnegara ASEAN. Jadi, meski antara ASEAN dan Cina tak ada perdagangan bebas, kompetisi pasti ada.
Apa keuntungan yang bisa diraih Indonesia dari perdagangan bebas dengan Cina?
Mari kita lihat ini dari sudut berbeda. Ini kesempatan besar untuk Indonesia dan ASEAN. Investasi Cina akan berdatangan. Jika Indonesia tak menggunakan kesempatan, investasi itu akan lari ke negara lain. Indonesia mesti melihat kompetisinya dengan negara ASEAN. Sebab, kalau tidak menggunakan investasi, teknologi, dan kesempatan yang datang dari kawasan perdagangan bebas, tetangga Anda akan tumbuh lebih dulu.
Lalu apa manfaatnya buat ASEAN?
Daya saing produk antaranggota ASEAN kuat karena tarif rendah dan biaya produksi telah jauh berkurang. Tak hanya komoditas dan perdagangan, tapi juga jasa dan investasi. Misalnya, pariwisata. Turis Cina yang datang ke wilayah ini pada 2003 sekitar 1 juta, sekarang lebih dari 4 juta dan masih terus meningkat.
Anda tentu mendengar hal ini: orang cemas perdagangan bebas hanya akan membuat ASEAN jadi pasar produk Cina.
Sebetulnya, bila mau diperhatikan, ASEAN dan Indonesia khususnya, bukan pasar utama ekspor Cina, karena jumlahnya kurang dari 20 persen. Sejak awal, pasar utama Cina adalah Eropa dan Amerika. Jadi perdagangan bebas ini bukan serangan dari Cina, sehingga bisa membikin situasi berdarah-darah (di Indonesia dan ASEAN).
Adakah keluhan dari investor Cina tentang aturan penanaman modal di sini?
Saya pikir pengusaha Cina yang mengeluh karena ingin melihat iklim investasi lebih baik, termasuk peraturan yang lebih jelas dan transparan. Pemerintah Indonesia telah melakukan pekerjaan rumahnya untuk memperbaiki iklim investasi. Hasilnya, seperti saya lihat di koran hari ini, untuk memulai usaha di Indonesia semula butuh waktu 70 hari, sekarang hanya 17 hari.
Apa saja target investasi Cina di Indonesia?
Sejauh ini investasi dari Cina ber-asal dari swasta, pemerintah, dan institusi pendanaan. Kami pikir Indonesia harus membangun lebih banyak infrastruktur dan pembangkit listrik. Beberapa tahun terakhir investasi Cina masuk ke sektor konstruksi, pembangkit listrik, pembangunan Jembatan Suramadu, dan bendungan.
Penanaman modal di sektor pembangkit listrik akan terus berlanjut?
Saya sudah ke proyek pembangkit listrik di Labuan, Banten. Itu tahap pertama pembangunan pembangkit listrik 10 ribu megawatt. Dalam waktu dekat akan ada satu atau dua proyek pembangkit lagi. Memang sedikit terlambat, tapi tahun ini dan tahun depan lebih banyak lagi pembangkit listrik dibangun.
Menurut Anda, apa manfaat perdagangan bebas ASEAN-Cina bagi kawasan ini?
Jika kita implementasikan dengan baik, akan memperkuat posisi ASEAN dan Cina. Dalam 10-20 tahun lagi, ASEAN-Cina dan Asia Timur akan tambah kuat. Jadi tak perlu bergantung pada pasar lain. Sebab, kita punya pasar dan produksi yang kuat bagi kawasan sendiri.
Bukankah ASEAN masih lemah setelah krisis 2008?
Sejak 2003 kawasan ini telah berkembang sangat baik. Tahun lalu, misalnya, Cina, India, dan Indonesia adalah tiga negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi positif. Dengan demikian, kita yakin perjanjian dibuat karena kita kuat. Kami tak ingin mengambil semua, sedangkan anggota lain kehilangan. Beberapa industri Anda mungkin akan menderita, kami juga. Tapi kami terbuka untuk diskusi, bagaimana melewati situasi ini.
Ekonomi Cina dulunya tertutup, sekarang terbuka dan membuat dunia ternganga. Apa komentar Anda?
Jangan berpikir semua perusahaan di Cina kuat. Banyak perusahaan tertekan. Namun persaingan baik untuk jangka panjang. Cina punya pengalaman mirip. Sebelum masuk World Trade Organization, kami takut menghadapi industri asing ke pasar Cina. Kami saat itu hanya punya industri TV hitam-putih. Kami takut TV berwarna Jepang dan Eropa mengakhiri industri kami. Tapi kami sadar, cepat atau lambat badai ini harus dihadapi. Kami mencari solusi, seperti joint venture dengan perusahaan asing, sampai punya industri mobil yang bisa mengekspor.
Beberapa produk Indonesia akan ditunda masuk perdagangan bebas. Bagaimana perundingan mengenai soal ini?
Proses ini baru saja dimulai, jadi sampai saat ini belum ada data khusus tentang industri yang bermasalah setelah diterapkannya perdagangan bebas. Kesulitan yang kita hadapi sekarang sudah selayaknya didiskusikan dengan baik. Memang pihak yang berkaitan telah berdiskusi mengenai dampak perdagangan bebas, tapi tidak formal. Begitu juga kementerian telah bertemu rutin, membandingkan situasi, dan mencapai kesepahaman.
Beberapa produk Cina disorot karena berpengaruh buruk terhadap kesehatan manusia. Apakah sudah ada daftar produk seperti itu yang dilarang masuk ke Indonesia?
Tentu saja. Kami punya peraturan ketat produk yang tak berkualitas. Beberapa tahun terakhir memang banyak kasus. Tapi itu individual, bukan negara. Ini hal yang terjadi di negara berkembang. Bahkan Amerika dan Jepang saat membangun juga punya kasus. Mereka berkembang dari produk yang berpengaruh buruk juga. Tapi itu kela-laian perusahaan atau mereka yang hanya ingin menghasilkan uang dengan cepat.
Bagaimana dengan produk selundupan?
Kami sudah menyiapkan orang-orang khusus di bagian cukai untuk mengatur keluar-masuknya barang. Sejauh ini, penegak hukum Indonesia sudah bekerja sama dengan Cina untuk menangani penyelundupan.
Indonesia mengalami defisit dalam perdagangan dengan Cina. Negara lain pun mengalami hal serupa....
Baru dua tahun belakangan Indonesia dan negara ASEAN lain mengalami sedikit defisit perdagangan. Tapi, selama lebih dari 15 tahun berdagang dengan ASEAN, kami selalu defisit. Dan kami tak pernah mengeluh. Kami tidak bersuara: "Ah, kerja sama dengan ASEAN ini tidak bagus dengan kami. ASEAN mengambil seluruh pasar kami dan kami tidak dapat apa-apa."
Mengapa Cina melempar produk dengan mutu berbeda ke negara berbeda, misalnya ke Jepang dan Indonesia?
Standar kami sekarang standar internasional, ISO 9000. Tapi, jika mengincar pasar yang lebih luas, pebisnis menggunakan standar lebih tinggi. Misalnya, ke Eropa menggunakan standar Belanda agar produk mereka bisa diterima di Eropa. Jika sudah se-suai dengan standar Eropa, bisa masuk ke belahan dunia lain.
Cina sukses dalam ekonomi, tapi masih dikritik soal hak asasi manusia dan hak cipta. Bagaimana Anda menjelaskan ini?
Negara kami besar, jadi kami punya masalah lebih banyak. Betul, ada masalah dan sedang diperbaiki, baik ekonomi maupun politiknya, termasuk hak asasi manusia. Tapi mesti dipisahkan, kebijakan dengan kasus. Kebijakan negara menghormati hak asasi, melin-dungi hak cipta, dan dijamin hukum. Hukum sebagai dasar kami mempertahankan stabilitas menjalankan pembangunan. Kami pun sudah meratifikasi berbagai kovenan internasional menyangkut hal-hal tersebut. Dan kami terbuka kepada Barat, apa pun masalah yang didiskusikan.
Tapi negeri Anda punya persoalan etnis, seperti Uighur dan Tibet, yang menyita perhatian dunia?
Banyak kasus, seperti di Urumqi, sekelompok orang melakukan kekerasan. Barat memandangnya sebagai mayoritas menindas minoritas. Bukan itu yang terjadi. Negeri kami terdiri atas 56 suku bangsa, yang terbesar Han, kemudian Mongolia, Tibet, Uighur, dan Thai (bukan Thailand). Mereka menjalankan sistem otonomi bagi suku besar, yang diperintah orang lokal untuk keseimbangan. Sedikitnya ada 20 juta muslim di Cina dan 100 juta orang yang memiliki keyakinan lain, dan dijamin bebas beribadah.
Apakah Anda merasa masih ada kecurigaan terhadap Cina di Indonesia?
Indonesia termasuk negara yang awal mengakui Cina, pada 1950. Dulu hubungan sudah erat, tapi kemudian ada masalah. Sekarang saatnya dimulai hubungan lagi, dengan perasaan baik. Sebab, terasa saat ini belum hangat seperti dulu. Maka perlu diadakan pertukaran budaya untuk bisa saling mengenal. Cina bisa lebih mengerti Indonesia, begitu juga sebaliknya. Ini saya pikir khususnya, karena kita adalah dua negara besar, yang bisa bersahabat baik untuk stabilitas kawasan. Dalam waktu dekat, di Shanghai Expo, saya pikir presiden Anda akan meresmikan gerai Indonesia di sana.
Zhang Qiyue
Tempat dan tanggal lahir : Beijing, 1959
Pendidikan :
Pekerjaan :
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
