ALICE IN WONDERLAND
Sutradara: Tim Burton
Skenario: Linda Woolverton
berdasarkan novel karya Lewis Carroll
Pemain: Mia Wasikowska, Johnny Depp, Helena Bonham Carter, Anne Hathaway, Stephen Fry, Alan Rickman
DI usianya yang ke-19, Alice (Mia Wasikowska) sudah pada sebuah tahap ketika dia harus mengikuti peta hidupnya. Sebuah peta hidup yang sudah ditata hidupnya. Di hadapan ratusan pasang mata tamu yang menatapnya saat Lord Hamish (Leo Bill), pemuda dungu yang luar biasa angkuh, melamarnya, Alice yang menolak mengenakan korset dan selalu dihampiri serangkaian mimpi yang sama-mimpi aneh yang selalu membuat dia merasa gila-permisi meninggalkan keriuhan itu. Matanya sibuk mengikuti kelebatan kelinci berjas yang melompat dari satu pokok perdu ke rerimbunan pohon lainnya. Dan Alice, yang kita kenal sebagai sosok rekaan Lewis Carroll yang tentu saja jatuh cinta pada berbagai sosok yang ganjil-antara binatang dan manusia-tentu saja hidup dan bernapas di dalam mimpinya sendiri.
Alice yang sudah berusia 19 tahun-dalam tafsir sutradara Tim Burton-itu kabur dari "takdir" yang sudah diukir ibunya untuk menikah, dan menghampiri "takdir"-nya untuk menghajar Jabberwocky dengan pedang sakti. Demikianlah ramalan yang sudah tertulis untuk Alice. Dan karena itu, Alice dewasa kembali ke dunia Underland, dunia di bawah tanah (atau di bawah alam sadar, karena "ini semua seharusnya mimpiku, bukan?" demikian kata Alice, yang mencoba mencubit-cubit dirinya, tapi tak kunjung berhasil bangun).
Alice bertemu dengan berbagai sosok ganjil dalam mimpinya selama ini: Tweedledee dan Tweedledum, si kembar yang berbentuk seperti telur yang kerjanya bertengkar; Mad Hatter (Johnny Depp), orang bermata besar yang memperlakukan topinya sebagai perpanjangan kepalanya; Cheshire Cat (Stephen Fry), seekor kucing yang mahir menghilang dan menjadi penunjuk jalan bagi Alice di dunia mimpinya yang baru itu; Red Queen (diperankan dengan bagus oleh Helena Bonham Carter), gabungan kekejian dan kejahatan, seorang ratu berkepala besar bukan buatan yang memperlakukan rakyatnya sewenang-wenang; Abosolom, ular bulu (Alan Rickman), yang mewakili kebajikan; White Queen (Anne Hathaway), adik Red Queen, yang istananya dibalut salju dan bersumpah akan melawan kekerasan dalam bentuk apa pun.
Tujuan utama dalam seluruh film ini adalah upaya mengembalikan pedang sakti yang disandera Red Queen dan menghajar Jabberwocky, sang makhluk raksasa keji penjaga Red Queen, agar mahkota kekuasaan kembali ke White Queen.
Bagi mereka yang hanya mengenal Alice in Wonderland yang diciptakan pada 1865 dan diangkat Disney ke film animasi pada 1951, film versi Tim Burton ini tentu saja sebuah tafsir yang merombak kisah asli. Sebetulnya yang dilakukan Burton adalah menggabungkan buku Alice in Wonderland dan sekuelnya, Through the Looking-Glass. Sinopsis film ini adalah sebuah "kunjungan kembali" atau sebuah napak tilas ke dunia Alice di dunia mimpinya di masa kecil. Tapi tokoh-tokoh dari buku pertama dan kedua bercampur-baur.
Gabungan tafsir yang mencampur-baur buku Alice in Wonderland dan Through the Looking-Glass ini, menurut saya, adalah ide yang unik (yang ternyata tidak disukai oleh banyak penonton yang mengharapkan bertemu dengan kisah klasik Alice in Wonderland). Tapi kekecewaan penonton dan kritikus yang utama adalah kegelapan dan keunikan Tim Burton yang lazim kita temukan dalam karya-karya sebelumnya, seperti Edward Scissorhands, Ed Wood, Planet of the Apes, dan Sweeney Todd, yang selalu berhasil mengawinkan dunia yang penuh warna (terkadang sekaligus menampilkannya dengan kekuatan animasi) dan gua gelap dalam diri manusia.
Cerita Alice in Wonderland sebetulnya sebuah cerita yang sangat cocok digauli oleh tangan sutradara seperti Tim Burton. Dia memiliki kemampuan visual dan penyuntingan yang luar biasa; dan dia sutradara gila yang bisa menjungkirbalikkan berbagai logika yang toh bisa meyakinkan penonton (contoh: Edward Scissorhands dan Ed Wood). Kisah karya Lewis Carroll ini, meski dinyatakan sebagai novel anak-anak, sebetulnya menampilkan karakter yang keji dan penuh kekerasan (ingat adegan sang Ratu yang menggunakan leher angsa untuk bermain? Ingat betapa gemarnya dia memenggal siapa pun yang melawannya?).
Tapi perkawinan Tim Burton dengan novel Lewis Carroll ini seharusnya jangan dibiayai oleh Disney, yang gemar menyajikan gulali. Paruh akhir film ini terasa mulai mengarah pada selera Disney. Alice keluar menjadi pahlawan feminis di dunia underland dan di dunia nyata. Visi itu tak bermasalah, karena saya selalu mendukung segala niat kesetaraan gender. Tapi gaya penyajian dan eksekusinya tak lagi unik, tak lagi Tim Burton. Seorang Alice yang tampil dengan musik yang menderu-deru itu adalah resep yang sudah terlalu kita kenal dalam film-film produksi Disney sebelumnya.
Bagaimanapun, dengan catatan itu, Alice in Wonderland versi Tim Burton tetap menjadi film yang unik di antara lautan film animasi dan CGI yang sedang menjamur 10 tahun terakhir.
Leila S. Chudori
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
