• Home
  • 29 Maret 2010
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Selingan
    • Intermezzo
  • Seni
    • Fotografi
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 29 Maret 2010

    Pegawai Negeri Gemah Ripah

    BELAKANGAN ini Dayu Permata, 54 tahun, sering terganggu dan termalu-malu. Rumahnya di Jalan Cempaka Nomor 7, Rawabadak, Jakarta Utara, kerap disambangi pemburu berita. Mereka mencari menantu Dayu. Gayus Halomoan Tambunan namanya. Anak ini ramai dibicarakan terlibat kasus kepemilikan rekening Rp 28 miliar.

    "Seharusnya Ibu menikmati masa menjelang pensiun," kata adik ipar Gayus, Raditya Wibisana, Kamis pekan lalu. Mengenai Gayus, "Dia punya tiga anak dan sayang sekali kepada anak-anaknya," ujar Raditya.

    Mungkin kepemilikan itu tidak akan jadi perkara jika Gayus tetap menyimpannya di kamar, dalam bentuk dolar Amerika. Karena tergiur fluktuasi bunga bank, Gayus memindahkan uangnya ke Bank Panin dan BCA. Jejak kepemilikan uang itu akhirnya tercatat dan dinilai janggal oleh kepolisian.

    Soalnya, Gayus cuma pegawai negeri sipil golongan IIIa di Direktorat Keberatan dan Banding Direktorat Jenderal Pajak, dengan gaji tak lebih dari Rp 12 juta per bulan. Sebagai sampingan, ia menjadi agen asuransi mobil Garda Oto. Istrinya, Meliana Anggraieni-biasa disapa Rani-pegawai negeri juga di kantor DPRD dan memberikan les bahasa Inggris di luar jam dinas.

    Dengan penghasilan yang "bisa diukur" itu, keluarga ini gemah ripah loh jinawi. Mereka punya sebuah rumah seharga Rp 3 miliar di Kelapa Gading Park View, sebuah apartemen di lantai 11 Blok I-A Cempaka Mas, satu mobil Honda Jazz, satu Kijang Innova 2008, dan tiga sepeda motor.

    Padahal Gayus sendiri baru berkarier sepuluh tahun. "Begitu lulus dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, dia langsung bekerja di Ditjen Pajak," kata Raditya, 27 tahun. Lulusan STAN 2000 ini memang terkenal pintar. Menurut salah satu seniornya di STAN, Gayus pintar membaca laporan keuangan dibanding teman-teman seangkatannya di Direktorat Jenderal Pajak.

    Dengan kepandaian itulah Gayus aktif menawarkan diri membantu wajib pajak membereskan persoalan pajaknya. Dengan kepandaian itu pula, pada 2002, Gayus ditempatkan sebagai pelaksana petugas pajak yang mengurusi keberatan pajak dan banding di large tax officer, yaitu kantor pajak yang khusus mengurusi wajib pajak kakap.

    Lahir pada 9 Mei 1979 di antara lima bersaudara, Gayus menghabiskan masa kecilnya di Jalan Warakas I Gang 23, RT 11 RW 8, Kelurahan Papanggo, Jakarta Utara. Ayah Gayus, Amir Syarifudin Tambunan, adalah pelaut dan almarhumah ibunya, Chairiyah, ibu rumah tangga.

    Sejak ramai diberitakan, Gayus tak pernah terlihat lagi. Rumahnya di Kelapa Gading Park View, Jalan Puspa 3 Blok ZE 6 Nomor 1, tidak ada yang menunggu. Pagar cokelat di depan rumahnya memang terbuka, tapi pintu garasi dan semua pintu rumah terkunci rapat.

    Gayus membeli rumah itu seharga Rp 3 miliar dari Garwati pada 22 Agustus 2008. Rumah itu pernah sekali direnovasi, pada Desember 2008-Mei 2009, dengan biaya sekitar Rp 400 juta. "Tapi itu sudah lama," kata Ignatius Wibowo, desainer interior yang pernah mendandani rumah Gayus.

    Rumah lama Gayus di Jalan Warakas juga kosong. Bahkan, menurut seorang tetangga, Kholil, rumah itu sudah tidak ditinggali lagi. "Sudah lima tahun mereka pindah dari sini," kata pria 40 tahun itu.

    Kini Gayus bak sosok jadi-jadian. Tiga nomor telepon selulernya membisu. Di kantornya, Gedung Kantor Pajak Pusat, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, sudah beberapa hari Gayus tak muncul.

    Cheta Nilawaty, Sofyan

    Percikan Duit Abang

    SETELAH blokir atas rekeningnya dibuka pada 26 November 2009, Gayus Halomoan Tambunan membagi-bagikan uangnya. Ada yang ditransfer, sebagian ditarik tunai. Total uang yang dia alirkan pada November 2009-Maret 2010 berjumlah Rp 26,59 miliar. Tapi Andi Kosasih, pengusaha yang menurut pengakuan Gayus merupakan pemilik dana mencurigakan di rekening-rekening itu, malah hanya kebagian Rp 1,95 miliar. Yang mendapat paling banyak adalah PT Perdana Karya Perkasa Tbk., kontraktor tambang yang berkantor pusat di Samarinda, Kalimantan Timur.


    Rp 28 miliar
    GAYUS HALOMOAN TAMBUNAN
    Bank Panin

    Uang dari 18 wajib pajak ditampung di 23 rekening milik Gayus. Perinciannya: 11 rekening di BCA, 10 di Bank Panin, 1 di Bank Mandiri, dan 1 di BRI. Ada yang menyetor uang itu langsung ke rekening Gayus, misalnya PT Megah Jaya Citra Garmindo. Yang lain menyetor melalui konsultan-di antaranya Roberto Santonius. Sebagian besar uang itu lalu dikumpulkan di Panin.

    a. Rp 825 juta
    YENI MARTAULI
    BCA

    b. Rp 1 miliar
    NOMOR REKENING 120112043138
    Bank Panin

    c. Rp 900 juta
    MELIANA ANGGRAIENI
    BII

    Dicurigai ini istri Gayus. Dalam berita acara pemeriksaan polisi, namanya dicatat sebagai Milana Anggraieni.

    d. Rp 1,95 miliar
    ANDI KOSASIH
    BCA

    Mengaku memberikan US$ 2,81 juta, sekitar Rp 25,6 miliar, kepada Gayus untuk biaya pembangunan rumah toko di Jakarta Utara. Anehnya, kuitansi serah-terima uang yang mestinya dipegang Andi malah disita polisi dari Gayus. Setelah beberapa hari dicari polisi, Andi menyerahkan diri Jumat pekan lalu.

    d.1. Rp 1,2 miliar
    ERLIN KOSASIH
    BCA

    Diduga ini istri Andi.

    I. Rp 12,15 miliar
    SELLY AMALIA
    Bank Mega

    Istri Raditya Wibisana, adik ipar Gayus. Menurut Raditya, uang Gayus ini dipakai untuk membantunya memenuhi target kantornya. Sebagai karyawan baru Bank Mega (mulai bekerja pada November 2009), dia harus bisa menarik simpanan minimal Rp 6 miliar. "Abang mau bantu, tapi tidak mau pake namanya," katanya. Tapi selanjutnya penjelasan Raditya tak sesuai dengan fakta. Dia mengatakan uang hanya mengendap seminggu di rekening istrinya. Nyatanya, uang itu (terakhir masuk 19 Desember 2009) mengendap hingga berbulan-bulan. Pada 12 Februari 2010, masih ada transfer keluar dari rekening itu ke PT Etrading Securities. Rekening ini pun masih meninggalkan saldonya.

    I.a. Rp 9,394 miliar
    PT PERDANA KARYA PERKASA TBK.
    Bank Mega

    Kantor pusat Samarinda meminta Tempo menghubungi seseorang bernama Tonny Widjaja di kantor PT Perdana Jakarta untuk kon-firmasi. Tapi Tonny tak bisa dihubungi.

    I.b. Rp 2 miliar
    PT ETRADING SECURITIES
    Bank Niaga

    Perusahaan investasi milik pengusaha Jepang dan Korea.

    I.c. Rp 490 juta
    PT AMANDA PANCASATRIA
    Bank Mega

    Menurut Raditya Wibisana, perusahaan general supplier ini dimiliki Gayus dan temannya.

    II. Rp 10 miliar
    GAYUS HALOMOAN TAMBUNAN
    Bank Mandiri

    II.a. Rp 1 miliar
    BUKA TABUNGAN BARU
    Bank Mandiri

    II.b. Rp 2,77 miliar
    MELIANA ANGGRAIENI
    5 kali transfer

    II.c. Rp 50 juta
    KANDA RUKANDA
    Bank Mandiri

    II.d. Rp 6,2145 miliar
    3 KALI TARIK TUNAI


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Fotografi

Dialog Dua Lensa-Dua Dunia

Album

Meninggal
Johana Sunarti

Catatan Pinggir

Di Yerusalem

TEMPO|interaktif

Metro

Umar Kei: Kami Jadi Tumbal

Nasional

Mujianto Minta Maaf pada Keluarga Korban

Bisnis

Boeing 787 Dreamliner Rawan Retak

Olahraga

Timnas U-23 Belum Kompak Hadapi Bahrain  

Nasional

KPK Sepakat Dana Hibah Diperketat

Gaya Hidup

Memahami Psikologis Anak, Kunci Belajar Menyanyi  

Olahraga

Pelatih Timnas U-21 Cemaskan Mental Pemain  

Internasional

Korea Utara Buka Perundingan Perlucutan Nuklir  

Bisnis

Pasar Modal Bisa Jadi Pesaing Perbankan  

Metro

Menyaru Biksu, Tiga WNA Jadi Peminta-minta

Olahraga

City Bidik Final Europa  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif