• Home
  • 05 April 2010
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Iqra
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
    • Sosok
  • Arsip
  • 05 April 2010

    Paskah

    Setelah Maria menemukan makam itu kosong dan kemudian ia melihat Yesus berdiri di belakangnya dan ia berseru, "Rabuni!", dan sejak Sang Guru menampakkan diri di depan beberapa murid yang berkumpul di ruang tertutup, dan kemudian menampakkan diri lagi beberapa kali, agama Kristen merayakan Paskah sebagai hari kebangkitan kembali: tubuh yang telah mati disalib itu bangkit dari kubur. Ia kekal.

    Orang-orang Arab Kristen di Nazareth terkadang menyebut Paskah sebagai , 'Îd al-Qiyâmah, "Pe-rayaan Kebangkitan Kembali".

    Tapi Yesus yang bangkit kembali itu tak berada di bumi untuk seterusnya. Ia telah berpamit kepada Maria: "sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu". Dalam salah satu kitab disebut, 40 hari setelah penampakan pertama itu, tubuh Yesus naik ke surga. Pa-lestina pun senyap. Saya bayangkan para murid yang tak banyak itu hidup dengan harapan-harapan yang tak jarang guncang.

    Namun sebenarnya di situ pula akhir tak terjadi. Hegel pernah me-ngatakan bahwa "kebangkitan kembali adalah universalisasi dari penyaliban". Jika sakit dan kematian di Golgotha itu ditafsirkan sebagai tauladan dari pengorbanan diri secara habis-habisan untuk orang lain yang dekat dan jauh, untuk siapa saja yang dikenal dan tak dikenal, jika penyaliban itu dianggap contoh bahwa sengsara dan kematian mampu untuk ditanggungkan tanpa benci dan dendam (meskipun dengan kepedihan dan kesunyian yang menusuk), maka penyaliban itu sendiri sudah merupa-kan kebangkitan kembali. Itu juga momen yang universal: sang korban bisa menggugah bahkan mereka yang tak berada di sekitar kejadian itu, berabad-abad kemudian, termasuk mereka yang bukan Kristen.

    Mungkin itu sebabnya, disebutkan dalam kisah dan sejarah, para murid tetap setia, dan pengikut bertambah meluas. Keyakinan yang dilahirkan dari ajaran baru yang kemudian membedakan diri dari doktrin Yahudi itu-ajaran justru yang pada dasarnya berdasar hampir sepenuhnya pada kata dan laku Yesus, bukan pada hukum yang tersusun lengkap-malah semakin kuat ketika Yesus tak ada lagi.

    Agaknya itulah sebabnya, yang terjadi di hari Paskah, ketika para murid melihat Sang Guru bangkit dari kematian, bukanlah cuma sebuah kejadian penghibur buat yang berkabung.

    Ada satu bagian yang menarik dalam The Monstro-sity of Christ: sebuah tukar pikiran antara John Millbank dan Slavoj Zizek. Zizek, yang mengambil posisi sebagai seorang atheis yang menawarkan sebuah "theologi materialis", menunjukkan bahwa kebangkitan kembali Kristus tak terjadi dengan lenyapnya tubuh dari makam. "Tubuhnya yang disiksa tetap selamanya sebagai pengingat yang bersifat zat," kata Zizek. Tapi sementara jasadnya demikian, Kristus "bangkit kembali dalam kebersamaan orang-orang yang mukmin", the collective of believers.

    Zizek mengambil contoh lain. Ada sebuah lagu dari tahun 1925 tentang Joe Hill, seorang aktivis buruh Amerika yang mati dibunuh. Penyanyi Joan Baez pernah melagukannya:

    I dreamed I saw Joe Hill last night
    Alive as you and or me.
    Says I, "But Joe, you're ten years dead"
    "I never died," says he.

    "The copper bosses killed you, Joe.
    They shot you, Joe," says I.
    "Takes more than guns to kill a man".
    Says Joe, "I didn't die."

    And standing there as big as life,
    And smiling with his eyes.
    Joe says, "What they forgot to kill
    Went on to organize."

    "Joe Hill ain't dead," he says to me,
    "Joe Hill ain't never died.
    Where working men are out on strike,
    Joe Hill is at their side."

    Joe Hill tak pernah mati, tapi bukan sebagai sosok yang ada di luar ruang dan waktu para buruh itu. "Ia hidup di sini, persis dalam jiwa para pekerja yang mengingatnya dan melanjutkan perjuangannya," kata Zizek.

    Dengan kata lain, "pahlawan tak mati-mati", seperti kata H.R. Bandaharo-tapi bukan sebagai patung yang dipuja kapan saja di mana saja, melainkan sebagai yang hadir dalam laku yang konkret. Bagi Zizek, kesalahan para pengikut Kristus ialah ketika mereka terjatuh ke dalam "reifikasi" (katakanlah: pemberhalaan) dan melupakan kata-kata Yesus yang terkenal: "Jika akan ada kasih di antara kalian berdua, aku akan ada di sana."

    Kasih, dalam konteks ini, adalah laku yang menempuh hidup dengan tubuh yang lemah, yang kadang-kadang kesakitan atau tergoda, tapi tiap kali bisa mengatasi diri karena laku itu tak hanya untuk diri sendiri. Di situlah kebangkitan kembali akan selalu berupa kebangkitan, bukan pengulangan.

    Goenawan Mohamad


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Sengkarut Tesaurus Bahasa

Indonesia di Mata Orang Jerman

Seni Rupa

Sekelebat Pedang Komik Indie

Jejak Rembrandt dan Degas yang Absen

Album

Penghargaan
Zukirah dkk

Catatan Pinggir

Paskah

Surat Dari Redaksi

Surat Dari Redaksi

TEMPO|interaktif

Bisnis

Kekhawatiran Pelambatan Ekonomi Tekan Indeks Saham

Bisnis

BUMN Strategis Khusus Produksi Peralatan Perang  

Metro

2 Korban Jembatan Cihideung Mengapung di Tangerang

Metro

Umar Kei: Kami Jadi Tumbal

Nasional

Mujianto Minta Maaf pada Keluarga Korban  

Bisnis

Boeing 787 Dreamliner Rawan Retak

Olahraga

Timnas U-23 Belum Kompak Hadapi Bahrain  

Nasional

KPK Sepakat Dana Hibah Diperketat

Gaya Hidup

Memahami Psikologis Anak, Kunci Belajar Menyanyi  

Olahraga

Pelatih Timnas U-21 Cemaskan Mental Pemain  

Internasional

Korea Utara Buka Perundingan Perlucutan Nuklir  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif