• Home
  • 24 Mei 2010
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Digital
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 24 Mei 2010

    Sulitnya Bahasa Indonesia

    Agus R. Sarjono*

    Setiap orang asing yang pernah tinggal di Indonesia dengan cepat akan dapat bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Di Bonn, Jerman, para mahasiswa semester awal di jurusan bahasa Indonesia selalu bikin cemburu mahasiswa jurusan bahasa Cina, Arab, dan Jepang. Sebab, saat mereka masih terbata, para mahasiswa jurusan bahasa Indonesia sudah mulai pandai bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Namun, begitu mereka lulus dan makin memperdalam bahasa Indonesia, tahulah mereka betapa peliknya bahasa ini.

    Untuk mengenal situasi mutakhir di Indonesia, Berthold Damshauser, dosen kawakan bahasa Indonesia di Universitas Bonn, membagikan kliping teks wawancara tokoh terkemuka Indonesia. Ia tercengang melihat nyaris tak satu pun mahasiswanya mampu memahami teks itu.

    Ada dua kesulitan, ternyata. Pertama, mereka kesulitan memahami kalimat-kalimat sang tokoh yang kerap kehilangan subyek atau predikat, diselingi ungkapan daerah dan ungkapan asing. Ini masih ditambah dengan logika kalimat yang sulit ditangkap serta pernyataan-pernyataan yang bersifat umum. Mengungkapkan sesuatu dengan taksa (clear and distinct) memang bukan kelaziman bagi para tokoh Indonesia.

    Saya yang nasionalis Pancasilais dengan tegas menolak untuk membahasnya. Jika kita akui bahwa para tokoh pun tidak mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, apa alasan para mahasiswa dan sarjana asing untuk belajar bahasa Indonesia? Maka segera saya larikan kesulitan itu pada persoalan kedua, yakni sistem bahasa Indonesia yang pada dasarnya cukup berbeda dari bahasa-bahasa Eropa.

    Salah satu perbedaan dasar adalah masalah penanda waktu. Bahasa-bahasa Eropa-Inggris, Jerman, dan Belanda, misalnya-memiliki penanda waktu yang jelas sehingga dari bentuk kalimatnya segera dapat diketahui apakah sesuatu terjadi pada masa lampau, masa kini, atau masa depan. Bahkan, dapat segera diketahui pula apakah kegiatan itu sedang terjadi, telah terjadi, akan terjadi, sedang terjadi tapi belum selesai, telah terjadi tapi masih terus berlanjut, dan sebagainya. Pada bahasa Indonesia, semua itu tidak segera dapat diketahui. Jika ada kalimat: "Agenda utama pemerintah adalah memberantas korupsi", tidak segera menjadi jelas apakah memberantas korupsi itu sedang dijalankan dan sudah beres, sedang dijalankan dan masih terus berproses, akan segera dijalankan di masa depan, atau bahkan masih rencana belaka yang sama sekali belum diketahui kapan akan dilaksanakan.

    Apakah dengan demikian bahasa Indonesia tidak lengkap dan gawat dibanding bahasa lain, tentu saja tidak dapat disimpulkan segegabah itu. Sebuah bahasa selalu saja lahir, mencerminkan, dan bahkan kompatibel dengan budaya yang melahirkannya. Budaya Indonesia sejak berabad lalu memandang waktu sebagai sesuatu yang sirkuler, dengan masa silam, masa kini, dan masa depan masih (dianggap) bersatu. Pengenalan masyarakat Indonesia atas waktu nonsirkuler baru dimulai dengan masuknya Islam ke Indonesia yang membagi hari dalam lima waktu ibadat. Karena masuknya Islam ke Indonesia disambut hangat dalam haribaan mistik yang berakar kokoh di masyarakat, waktu nonsirkuler itu pun lebur dalam jagat waktu sirkuler. Tradisi Kristiani yang datang kemudian serta memiliki perspektif waktu nonsirkuler juga hanya memberikan dampak tipis dalam mengubah perspektif atas waktu pada masyarakat karena ia pun dilebur pula dalam tradisi mistik di masyarakat.

    Masalah lain yang membuat orang asing pusing dalam belajar bahasa Indonesia adalah urusan imbuhan. Kesaktian imbuhan dalam bahasa Indonesia demikian luar biasa sehingga ia dapat mengubah makna kata hingga batas tak terduga. Membicarakan pembicaraan dan cara berbicara para pembicara dalam urusan imbuhan memerlukan pembicaraan tersendiri agar dapat terbicarakan dengan baik.

    Alhasil, para mahasiswa Jerman jurusan bahasa Arab, Cina, atau Jepang yang pada semester pertama wajahnya pucat, setelah lulus, wajah mereka mulai berseri-seri. Sementara itu, wajah mahasiswa jurusan bahasa Indonesia yang berseri-seri di semester awal, begitu lulus, segera menjadi pucat. Kepucatan ini kian bertambah seiring makin dalamnya mereka mempelajari bahasa Indonesia.

    "Nah, tahu rasa kalian," demikian bisik hati saya. Jangan remehkan bahasa Indonesia, man! Negara-negara Arab boleh saja kaya, negara Jepang boleh saja makmur dan canggih berteknologi, negara RRC boleh saja sukses memberantas korupsi dan tumbuh menjadi raksasa yang membanjiri dunia dengan barang-barang murahnya; tapi maaf, sejauh menyangkut bahasa, bahasa Indonesialah yang paling sulit dipelajari.

    Saya pun meninggalkan mahasiswa Jerman dengan kebanggaan luar biasa. Saya tidak bisa berbahasa Arab, Jepang, atau Cina. Meskipun bahasa-bahasa itu mudah dipelajari, saya belum berniat mempelajarinya. Jika kita sudah menguasai bahasa yang rumit seperti bahasa Indonesia, bahasa lain tidak menjadi prioritas utama.

    *) Penyair


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Seni Rupa

Manifesto Pergumulan Dua Generasi

Album

Pengukuhan
Purnomo dan Ainin Niswati

Catatan Pinggir

Tertib

TEMPO|interaktif

Nama Korban Tewas dan Luka Bus Maut Cisarua

Nasional

KPK Serius Sikapi Nazar-Nasir Ketemu di Rutan  

Olahraga

Chelsea Tak Anggap Remeh Everton

Nasional

Alasan Patrialis 'Bikin' Kartu Akses Khusus DPR di Penjara  

Bus Doa Ibu Akan Santuni Korban Cisarua

Nasional

Pengakuan Politik Uang Pintu Masuk Buat Depak Anas  

Nasional

Hatta Ali: Hakim Jangan Coba Main-main

Olahraga

Ferguson Jagokan Redknapp Latih Timnas Inggris

Nasional

Mega: Ayam Termasuk Gratifikasi Tidak?

Olahraga

Henderson Optimistis Liverpool Menang dari MU

Nasional

Rabu Depan, Angie-Koster Bersaksi untuk Nazar

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif