• Home
  • 24 Mei 2010
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Digital
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 24 Mei 2010

    Tertib

    Saya tak tahu benarkah Tuhan hanya menghendaki dunia yang tertib.

    Ada sebuah cerita detektif yang ganjil yang ditulis G.K. Chesterton, The Man Who Was Thursday. Buku ini lain dari cerita detektif biasa: ujungnya mirip sebuah renungan tentang Tuhan-bermula dari ketegangan antara anarkisme dan ketertiban, dengan tokoh seorang agen Scotland Yard yang menyamar sebagai penyair.

    Cerita dibuka dengan senja di Saffon Park, sebuah wilayah di tepi Kota London. Di lingkungan rumah-rumah berbatu bata warna terang itu hidup sebuah "dukuh artistik", artistic colony. Buku ini tak menyebutnya "dukuh seniman", sebab tempat itu tak pernah memproduksi karya seni apa pun. Keistimewaannya: enak dipandang.

    Tapi kita diantar untuk tak menyukai suasana di sana. Terutama karena penghuninya. Ada orang bertampang penyair yang semenarik syair, tapi ia sendiri bukan penyair. Atau si Fulan yang berlagak filosof tapi sebenarnya sosok yang bisa membuat filosof merenung. Para wanitanya menyatakan diri bebas, tapi suka memuji para lelaki dengan berlebihan. Orang yang memasuki atmosfer sosial tempat itu akan merasa seperti "memasuki sebuah komedi yang telah ditulis".

    Tokoh sentral di sini bernama Lucien Gregory. Ia seorang penyair berambut merah yang dibelah tengah, dengan keriting kecil bak rambut perawan dalam lukisan Eropa kuno. Chesterton menggambarkan parasnya "lebar dan brutal" dengan dagu yang menjorok ke depan dan dengan perilaku seperti "sebuah campuran malaikat dengan monyet".

    Gregory seorang anarkis dengan suara keras. Ia gemar mengulang kecek lamanya tentang seni sebagai kehidupan yang tak mengakui hukum dan tentang seni (atau kiat) untuk tak mematuhi hukum, "the lawlessness of art and the art of lawlessness". Baginya, seorang seniman identik dengan seorang anarkis: ia melawan kekuasaan negara dan lembaga lain, ia bahkan bebas dari aturan seni sendiri.

    Gregory selalu didengar; tak seorang pun di dukuh itu yang membantahnya.

    Tapi senja di Saffon Park itu berubah ketika ke sana datang Gabriel Syme, seorang berambut sedikit kuning berkulit pucat langsat, dan digambarkan sebagai sosok yang menebarkan "bau kembang leli di sekitarnya".

    Bertentangan dengan Gregory, Syme menyebut diri "seorang penyair hukum, seorang penyair ketertiban". Syahdan, kedua penyair yang berbeda sikap itu pun berdebat.

    Bagi Gregory, dunia akan mandul dan membosankan bila tertata seperti jaringan kereta api di bawah tanah. Rel dan stasiun-stasiun itu tampak murung, tak ada yang asyik, tak ada kejutan: semuanya sudah diperhitungkan, persis + tepat.

    Bagi Syme, justru ketepatan itu puisi. Lihat, katanya, betapa menakjubkan ("epical", katanya) seorang pemanah burung terbang yang mengenai sasarannya. "Khaos itu membosankan," kata Syme. "Tiap kali kereta api masuk, saya merasa ia telah menerabas deretan para pengepung, dan manusia telah memenangkan satu pertempuran melawan khaos."

    Dari sini, kisah Syme kian aneh. Untuk menunjukkan bahwa dirinya seorang anarkis yang serius, Gregory membawa Syme ke sebuah tempat pertemuan rahasia para tokoh anarkisme. Sebaliknya, Syme mengaku, ia sebenarnya anggota dinas rahasia Scotland Yard. Ia dapat perintah khusus dari seorang bos yang super-rahasia, pemegang peran paling penting dalam cerita ini: seorang yang yakin bahwa dunia seni dan ilmu "diam-diam bergabung dalam perang suci melawan Keluarga dan Negara".

    Bahkan bagi sang bos, ancaman juga datang dari para filosof. Baginya, "penjahat paling berbahaya sekarang adalah filosof modern yang sama sekali tak mengakui hukum". Dibandingkan dengan para filosof, para maling malah manusia bermoral. Sementara para filosof tak mengakui hak milik, para maling menghargainya; hanya milik itu harus diambil jadi kepunyaan mereka. Para pembunuh juga lebih baik, karena sebenarnya mereka secara tak langsung menghargai hidup. Sebaliknya para filosof benci hidup itu sendiri.

    Dengan pandangan macam itu, para detektif spesial dikerahkan. Mereka harus datang ke pertemuan seni, "guna mendeteksi para pesimis". Mereka juga harus bisa melihat dari buku-buku sajak bahwa kejahatan akan dilakukan. "Kita mesti menelusuri asal-usul pikiran yang mengerikan itu, yang setidak-tidaknya mendorong orang ke arah fanatisme intelektual dan kejahatan intelektual."

    Demikianlah Syme berangkat bertugas. Dan setelah ia dibawa Gregory ke tempat pertemuan rahasia para anarkis hari itu, ia dengan cepat menyusup. Ia diangkat jadi salah satu anggota Central Anarchist Council, organisasi rahasia yang akan menghancurkan peradaban. Untuk menjaga kerahasiaan, tiap anggota disebut dengan nama hari. Syme jadi "Thursday", Kamis. Pemimpin dewan itu disebut "Sunday", Ahad.

    Kisah ini jadi tambah ajaib ketika akhirnya diketahui, tiap anggota dewan kaum anarkis itu ternyata detektif dari kantor yang sama-dan bahwa Ahad adalah sang bos yang memerintahkan mereka. Dan klimaks yang paling mengejutkan: Ahad itu sesungguhnya Tuhan.

    The Man Who Was Thursday lebih rumit dan kaya ketimbang yang saya ringkaskan. Tapi tanpa lebih jauh kita sudah didorong menjawab: benarkah Tuhan berpihak kepada ketertiban? Benarkah dunia seni, ilmu, dan filsafat-yang menerabas batas-sebuah ancaman, bagian dari khaos?

    Di Saffon Park, Syme berbicara tentang pemanah yang berhasil membidik burung. Baginya keakuratan itu "epikal". Tapi tidakkah ia melihat: sejak saat anak panah lepas dari busur, khaos menyertainya? Senjata itu punya sasaran, tapi angin bisa menyebabkannya gawal. Khaos menegaskan manusia sebagai makhluk yang dengan dan dalam cemas membangun sejarah. Tak adanya garis lurus antara arah dan akhir adalah bagian dari kemerdekaannya. Itu nasib Adam di luar surga.

    Goenawan Mohamad


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Seni Rupa

Manifesto Pergumulan Dua Generasi

Album

Pengukuhan
Purnomo dan Ainin Niswati

Catatan Pinggir

Tertib

TEMPO|interaktif

Cawagub Didik Tolak Pengunduran Penetapan DPT  

Internasional

Senator Australia Dukung Bebas Visa bagi WNI  

Nasional

Lulus Ujian, Siswa Madrasah di Bima Bantu Korban Banjir

Metro

Berkas Satu Pengeroyok Geng Motor Dilimpahkan  

Olahraga

Inter Milan Duetkan Milito-Longo

Olahraga

Kandaskan Korea, Cina Rebut Kembali Piala Uber

Seni & Hiburan

Promotor Konser Lady Gaga Belum Dapat 3 Izin

Internasional

Pakar: Iran Mampu Memproses Uranium untuk 5 Bom

Nasional

Bantuan untuk Korban Banjir di Bima Mulai Disalurkan

Nasional

Siswi SMAN 2 Kuningan Peraih Nilai Tertinggi UN

Nasional

Hasil Ujian Nasional Jeblok, DPRD Kota Malang Kecewa  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif