• Home
  • 24 Mei 2010
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Digital
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 24 Mei 2010

    Manifesto Pergumulan Dua Generasi

    RADEN Saleh Sjarif Bustaman duduk santun di atas kursi ganjil yang bagian bawahnya berupa semacam kereta beroda dua. Di lantai dekat roda itu tergeletak potret hitam-putihnya dari masa muda. Seperti dalam potret-potret lamanya, kali ini dia juga tampil dengan beskap hitam berhias tiga bintang di dada kiri dan blangkon. Di belakangnya ada dua tirai tergulung.

    Tapi lukisan Raden Salehsaurus karya Heri Dono ini bertabur keganjilan. Sebuah gambar seperti kepala naga atau dinosaurus menempel di sisi kanan kepalanya, dan sebuah bohlam muncul di atas kepalanya. Di dada kirinya juga terpatri gambar kepala badut kecil-potret diri Heri Dono. Adapun di lengan kanannya terpasang emblem gambar bungkus rokok merek tertentu dan di lengan kirinya ada emblem bersimbol burung garuda.

    Lukisan akrilik dan cat minyak di atas kanvas itu merupakan tafsir Heri Dono terhadap beberapa lukisan Raden Saleh, termasuk Badai (1851) dan beberapa lukisan singanya. Lukisan itu kini terpajang dalam Pameran Besar Seni Rupa Indonesia Manifesto 2010 di Galeri Nasional Indonesia, Jalan Medan Merdeka Timur 14, Jakarta Pusat. Pameran bertema "Percakapan Masa" itu dibuka oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, yang diwakili Direktur Kesenian Sulistyo Tirtokusumo, pada Selasa malam pekan lalu, dan akan berlangsung hingga 31 Mei.

    Pameran yang serangkai dengan peringatan 102 tahun Hari Kebangkitan Nasional ini memamerkan 118 karya perupa masa kini dari sembilan provinsi. Berbeda dari umumnya pameran bersama, "Pameran ini merupakan hasil dari tanggap kreatif seniman atas karya para maestro seni rupa Indonesia," kata Kepala Galeri Nasional Tubagus "Andre" Sukmana.

    Menurut kurator Rizki A. Zaelani, pameran ini diilhami pameran De Paris A Jakarta pada 2008. Kegiatan Pusat Kebudayaan Prancis Jakarta dan Galeri Nasional Indonesia itu memamerkan 55 karya seniman Prancis yang di sumbangkan ke Indonesia pada 1950-an dan karya 21 seniman Indonesia masa kini yang terinspirasi karya seniman Prancis itu. "Bedanya, pameran itu melibatkan jumlah seniman yang terbatas," kata Rizki, yang saat itu juga menjadi kurator pameran.

    Rizki ingin mempertemukan seni-man masa lalu dengan seniman periode kini, dengan batasan angkatan 1990-an. Istilah angkatan merujuk lebih pada masa produktif sang seniman ketimbang kelulusannya dari sekolah seni rupa. Batasan ini dipilih karena, "Saya asumsikan angkatan 1990 dekat dengan perubahan. Karena masa itu ada ledakan ekonomi, makar, dan sebagainya, yang berbeda dari hal yang dialami angkatan sebelumnya," kata lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung ini.

    Dia lalu mengundang 130 seniman muda yang dianggap menonjol untuk jadi peserta, meski beberapa gagal ikut karena berbagai masalah teknis, seperti lupa pada tenggat atau sibuk berpameran solo. Selain itu, "Ada sepuluh seniman yang diundang khusus, seperti Tisna Sanjaya, Heri Dono, dan Nyoman Erawan, yang sebenarnya tergolong angkatan 1980-an," kata Rizki.

    Para peserta diberi foto lukisan para empu seni rupa, seperti Badai karya Raden Saleh, Pertemuan karya Otto Djaja, Cap Go Meh karya Sudjojono, Menguliti Pete karya Hendra Gunawan, dan Tiga Kawan karya Srihadi Soedarsono. Mereka diminta melukis berdasarkan "percakapan" mereka dengan karya para maestro itu.

    Proses ini dimulai pada awal Januari lalu dan karya mereka diharapkan sudah masuk Galeri pada awal Mei, tapi beberapa karya melewati tenggat itu dan bahkan ada yang baru sampai pada Selasa pagi, 12 jam sebelum pameran dibuka.

    Karya para seniman muda itu merentang dari lukisan dan patung hingga seni video dan instalasi. Hasil pergumulan seniman muda dan empu tua, yang kebanyakan sudah almarhum, itu sebagian terlihat jejak-jejaknya pada karya mereka, tapi beberapa karya nyaris sudah tak terlihat lagi sangkut pautnya dengan karya seniman lama.

    Karya mereka umumnya berupa tanggapan terhadap lukisan sang empu, empu itu sendiri, atau meminjam lukisan sang empu sebagai inspirasi untuk menanggapi dunia masa kini. Heri Dono, misalnya, memilih Raden Saleh, yang pernah digelutinya secara mendalam hingga tahun lalu menghasilkan Salah Tangkap Diponegoro, yang terinspirasi Penangkapan Diponegoro karya Raden Saleh.

    Menurut Heri, dia ingin menggambarkan Raden Saleh sebagai raja di lukisan Raden Salehsaurus. "Dia seperti seorang raja, seorang yang halus tetapi segarang singa," kata perupa Yogyakarta yang pernah berkunjung ke bekas rumah peristirahatan musim panas sang empu di Dresden, Jerman ini.

    Dalam lukisan itu Heri membiarkan sosok sang empu menonjol, tapi tetap mempertahankan ciri khasnya, baik dalam sapuan kuas maupun permainan simbol. Sosok kepala naga seperti dalam pewayangan di lukisan itu jadi bagian dari upayanya untuk mempertahankan unsur kelokalan dalam karya seni kontemporer.

    Lukisan Badai Raden Saleh ditanggapi secara berbeda oleh seniman lain. Deddy P.A.W. menempatkan karya sang empu sebagai bagian dari lukisannya, Badai Pasti Berlalu, Raden..., seolah perluasan dari karya tersebut. Dia menambahkan apel besar yang terseret ombak dan beberapa apel kecil yang terapung-apung di laut yang tenang, yang bertentangan dengan badai besar yang mengguncang-guncang dua kapal di lukisan Raden Saleh.

    Sedangkan Dadan Setiawan mengubahnya menjadi Badai Visual. Lukisan cat minyak di kain linen ini mengaburkan Badai, seperti proses blur di pengolah gambar digital Photoshop, menjadi sekumpulan kotak hitam, putih, dan abu-abu. Dipandang dari jarak agak jauh, lukisan Dadan ini akan membentuk bayangan Badai.

    Lukisan Agus Djaja, Dunia Anjing (1965), juga ditafsirkan berbeda-beda oleh para perupa. Nus Salomo menciptakan Anjing Dunia, berupa lukisan berbentuk manusia berkepala anjing. Adapun Hilman Hendarsyah menghasilkan Hey!?, yang menggambarkan berbagai jenis anjing sedang menatap ke arah pengamat.

    Ibu Menjahit (1935) karya Sudjojono juga menghasilkan karya bermacam-macam. Triyadi Guntur membuat Ibu Menjahit dalam tiga panel yang menggambarkan seorang ibu-yang mirip lukisan Sudjojono-sedang menyulam dan pada panel terakhir menunjukkan hasil sulamannya, berupa tulisan "Punks Never Die".

    Rizki mengakui tak semua seniman mencapai hasil seperti yang diharapkan, karena idealnya mereka sebelumnya memperoleh pengetahuan yang memadai mengenai karya dan sosok sang empu. Tapi beberapa karya, katanya, menunjukkan keberhasilan perupa dalam berinteraksi dengan sang empu tanpa kehilangan gaya atau jalan kekaryaannya.

    Pameran Manifesto akan menjadi kegiatan besar dua tahunan di Galeri. "Dua tahun lagi, kami akan membikin Manifesto lagi," kata Rizki, yang tak menampik bahwa kegiatan ini sebenarnya akan menjadi pameran dua tahunan atau biennale seni rupa Indonesia berskala nasional, melengkapi berbagai biennale yang sekarang sudah ada.

    Kurniawan


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Seni Rupa

Manifesto Pergumulan Dua Generasi

Album

Pengukuhan
Purnomo dan Ainin Niswati

Catatan Pinggir

Tertib

TEMPO|interaktif

Cawagub Didik Tolak Pengunduran Penetapan DPT  

Internasional

Senator Australia Dukung Bebas Visa bagi WNI  

Nasional

Lulus Ujian, Siswa Madrasah di Bima Bantu Korban Banjir

Metro

Berkas Satu Pengeroyok Geng Motor Dilimpahkan  

Olahraga

Inter Milan Duetkan Milito-Longo

Olahraga

Kandaskan Korea, Cina Rebut Kembali Piala Uber

Seni & Hiburan

Promotor Konser Lady Gaga Belum Dapat 3 Izin

Internasional

Pakar: Iran Mampu Memproses Uranium untuk 5 Bom

Nasional

Bantuan untuk Korban Banjir di Bima Mulai Disalurkan

Nasional

Siswi SMAN 2 Kuningan Peraih Nilai Tertinggi UN

Nasional

Hasil Ujian Nasional Jeblok, DPRD Kota Malang Kecewa  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif