• Home
  • 07 Juni 2010
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
  • Selingan
    • Intermezzo
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 07 Juni 2010

    Gambar Berguncang Mengejutkan Dunia

    DI antara semua film yang diputar pada Festival Film Hak Asasi Manusia di Jenewa, Burma VJ mendapat tempat istimewa karena menjadi bagian dari Geneva Summit for Human Rights. Film ini mempresentasikan kekuatan penyampaian pesan yang luar biasa mengenai hak asasi manusia. Banyak pihak berpendapat, apabila The Cove, film tentang pembantaian lumba-lumba di Jepang besutan Louis Phisoyos, memenangi Oscar untuk film dokumenter, Burma VJ pantas mendapat Oscar untuk film dokumenter hak asasi.

    Mengamati plot Burma VJ, terlihat bahwa naskah makin mendapat tempat dalam film-film dokumenter masa kini. Naskahlah yang merekonstruksi potongan dokumentasi dan menyusunnya menjadi drama kisah nyata yang mengguncang emosi. Plot disusun, alur diatur, dan suasana hati penonton pun terbawa. Gaya film-film dokumenter dengan cara berkisah yang makin diatur tahun lalu mendunia dengan kemenangan The Cove.

    Film Burma VJ bercerita tentang perjuangan hak asasi manusia dengan penyiaran televisi gerilya yang dikenal sebagai Democratic Voice of Burma (DVB). Siaran ini berpusat jauh dari Burma, tepatnya di Oslo, Norwegia. Di sana, file digital hasil pengambilan gambar para jurnalis video (VJ) yang telah menempuh risiko diolah untuk disiarkan via satelit ke berbagai penjuru dunia, dan Burma terutama.

    Catatan pembuka film ini menunjukkan risiko itu. Beberapa adegan direkonstruksi agar tempat, wajah, dan beberapa fakta tak bisa dikenali untuk melindungi para VJ yang terlibat. Perubahan dilakukan dengan supervisi para pelakunya dan membuka peluang pula bagi Anders Ostergaard, sang sutradara, untuk membingkai film ini dan menempatkan posisi naratornya yang disebut dengan "Joshua".

    Joshua adalah VJ yang tumbuh dalam bayang-bayang penindasan rezim militer di Burma. Di bagian awal film ia digambarkan sebagai VJ yang terlalu bersemangat hingga tertangkap intelijen militer Burma. Namun, setelah ditahan, hanya kamera yang disita, ia boleh pulang.

    Para aktivis DVB sadar, hal semacam itu sebetulnya taktik intelijen saja. Intelijen seolah berbaik hati, tapi Joshua akan dikuntit hingga menunjukkan pusat gerakannya. Joshua lalu kabur ke Thailand. Dari Chiang Mai, Thailand (rasanya tempat aslinya disamarkan), ia bertindak sebagai koordinator lalu lintas material video yang akan disiarkan.

    Dari posisi itulah dia menuturkan drama pada 2007 tentang gelombang demonstrasi besar di Burma. Rangkaian peristiwa itu dan kesiapan jaringan VJ dari DVB-lah yang kemudian mengangkat peristiwa penindasan itu ke pentas media dunia.

    Peristiwa September-Oktober 2007 dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar minyak di Burma. (Ini mengingatkan kita pada gerakan reformasi di Tanah Air.) Protes bermunculan dan mendapat momentum dengan bergabungnya biara dan para biksu, yang membuat gerakan ini mendapat julukan Revolusi Safron, sesuai dengan warna safron.

    Awalnya, harapan membubung tinggi; gelombang demonstrasi makin besar. Rombongan demonstran bahkan sempat lewat rumah tahanan tokoh oposisi Aung San Suu Kyi, yang memberikan dukungannya. Situasi berbalik ketika tindakan tentara mulai keras. Media dunia lalu terguncang oleh rekaman para VJ DVB, yang menunjukkan terbunuhnya Kenji Nagai, VJ "resmi" dari Jepang. Kredibilitas DVB pun naik.

    Anders Ostergaard dan editornya dengan piawai menggabungkan cuplikan gambar yang berguncang-guncang-karena diambil sembunyi-sembunyi dari dalam tas-diredam oleh gambar penuturan Joshua yang lebih terstruktur dengan harapan, semangat, kekhawatiran, dan putus asanya selama ia memantau rekan-rekannya meliput di lapangan.

    Saat-saat ketika vihara diserbu dan para biksu diangkut oleh militer menjadi petunjuk akhir gerakan itu. Para biksu memutuskan untuk menarik diri. Gerakan mahasiswa seperti layangan kehilangan angin, kocar-kacir dan padam, mirip kondisi di awal film. Di bagian itu Joshua menceritakan masa kecilnya ketika gerakan prodemokrasi mahasiswa dan Aung San Su Kyi terpatahkan oleh rezim militer Burma.

    Bo Kyi, aktivis demokrasi Burma pada 1990-an yang hadir di Jenewa untuk menuturkan kisahnya sebagai tahanan politik, membenarkan hal itu. "Namun yang terjadi pada 2007 itu lain dari segi media. Pemerintah Burma-walaupun sudah memberangus Internet-terkejut dan terancam ketika bukti-bukti pelanggaran hak asasi tersiar ke seluruh dunia oleh para VJ," katanya.

    Ancaman itu juga mengundang represi baru dari junta militer. Pemerintah Burma membuat Undang-Undang Elektronik, yang melarang pengiriman informasi digital, termasuk foto dan video, yang dapat merongrong kewibawaan pemerintah. Pada Desember 2009, Hla Hla Win dan Myint Naing, dua orang VJ, dihukum 26 tahun karena tertangkap saat mencoba menyelundupkan rekaman gambar ke luar Burma. Mereka tak sendirian. Menurut Bo Kyi, saat ini ada paling tidak 43 jurnalis dan blogger yang dipenjara.

    Mengamati Burma melalui Burma VJ dalam dua masa gerakan pada 1990 dan 2007 terasa ada satu elemen yang kurang tergarap: militer. Militer Burma sepertinya tak punya celah keretakan, yang bisa menyebabkan salah satu faksi-terlepas dari agendanya-akan mendukung gerakan demokrasi. Biasanya, gerakan demokrasi damai akan menghadapi tantangan amat berat bila tak bermain mata dengan kaum berseragam hijau. Burma akan menghadapi pemilu sebentar lagi, mungkinkah ada cerita lain dari sana?


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Seni Rupa

Keindahan Berserak dalam Abstrak

Kesakitan Usai Booming Itu

Album

Penghargaan
Ahmad Heryawan

Meninggal
Andi Meriem Matalatta

Catatan Pinggir

Untuk Rachel Corrie

TEMPO|interaktif

Bisnis

BUMN Strategis Khusus Produksi Peralatan Perang  

Metro

2 Korban Jembatan Cihideung Mengapung di Tangerang

Metro

Umar Kei: Kami Jadi Tumbal  

Nasional

Mujianto Minta Maaf pada Keluarga Korban  

Bisnis

Boeing 787 Dreamliner Rawan Retak

Olahraga

Timnas U-23 Belum Kompak Hadapi Bahrain  

Nasional

KPK Sepakat Dana Hibah Diperketat

Gaya Hidup

Memahami Psikologis Anak, Kunci Belajar Menyanyi  

Olahraga

Pelatih Timnas U-21 Cemaskan Mental Pemain  

Internasional

Korea Utara Buka Perundingan Perlucutan Nuklir  

Bisnis

Pasar Modal Bisa Jadi Pesaing Perbankan  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif