MODAL cekak bukan hambatan bagi animator Malaysia. Mohammad Nizam Abdul Razak bisa menjadi contoh. Animator ini semula ikut merintis Upin & Ipin di Les' Copaque. Belakangan ia keluar dan mendirikan Animonsta meski tidak memiliki cukup uang. Ia mengajukan permohonan dana ke pemerintah Malaysia pada 2009. "Kami mendapat dua juta ringgit (sekitar Rp 5,6 miliar), yang hanya cukup untuk modal usaha," ungkap Nizam, yang sekarang sedang memproduksi seri animasi BoBoi Boy.
Meski kecil, dana "pemancing" ini merupakan kebijakan pemerintah Malaysia mengembangkan animasi. Hasilnya sudah tampak. Saat ini ada sekitar 30 perusahaan animasi di negeri jiran itu, dengan produksi selama 15 tahun terakhir mencapai lima film animasi bioskop dan sekitar 60 seri televisi.
Awalnya, dunia animasi Malaysia nyaris tak bersuara. Sampai awal 1980-an, animasi yang ada di Malaysia hanya kartun-kartun penerangan pendek produksi Filem Negara Malaysia-produser film pelat merah semacam Pusat Produksi Film Negara di Indonesia. Kartun Malaysia yang disiarkan adalah Sang Kancil & Monyet produksi pemerintah pada 1984.
Loncatan produksi terjadi setelah Mahathir Mohamad membangun infrastuktur Multimedia Super Corridor di Kuala Lumpur dan sekitarnya mulai 1996. Itu merupakan kawasan dengan fasilitas jaringan Internet cepat, yang diharapkan menjadi "sarang" tumbuhnya perusahaan yang menggunakan teknologi multimedia. Pemerintah juga menyediakan bantuan modal bagi yang hendak memulai bisnis teknologi informasi.
Nizam Razak, saat mendirikan Animonsta, termasuk yang mendapat bantuan ini karena animasi yang dibuat menggunakan teknologi digital. Begitu pula dengan Les' Copaque. Meski sudah dibeking pengusaha kaya, Les' Copaque tetap meminta bantuan dana pemerintah. Mereka memperoleh satu juta ringgit (sekitar Rp 2,8 miliar).
Sayang, meski dari sisi jumlah melonjak, produk animasi Malaysia belum untung. "Baru kami yang bisa untung," kata Haji Burhanuddin Mohammad Radzi, Direktur Pengelola Les' Copaque Production Sdn. Bhd, yang memproduksi Geng: Pengembaraan Bermula.
Nasib film seri animasi juga setali tiga uang. "Di beberapa musim awal kami rugi," kata Wong Kuan Loong, Presiden Direktur Animasia yang memproduksi Bola Kampung. "Kami menghabiskan banyak waktu untuk memperbaiki cerita." Untunglah sekarang mereka mulai untung.
NK
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
