• Home
  • 26 Juli 2010
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Selingan
    • Intermezzo
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
    • Sosok
  • Arsip
  • 26 Juli 2010

    Minimalisme

    Qaris Tajudin

  • Wartawan Tempo

    Dalam sejumlah kesempatan memberikan pelatihan menulis di sekolah dan kampus, ada satu hal yang selalu menjadi ganjalan. Para siswa dan mahasiswa itu selalu punya kendala dalam mengungkapkan apa yang mereka pikirkan atau rasakan. Walhasil, sebelum bicara tentang teknik menulis dan pernak-perniknya (termasuk membenarkan kesalahan eja yang parah), saya harus menghabiskan setengah waktu untuk memotivasi mereka mengungkapkan sesuatu dengan cara beragam.

    Mereka adalah siswa pandai, bahkan beberapa di antaranya siswa berprestasi dari sekolah unggulan. Otak mereka berisi. Hanya, mereka seperti botol saus yang segelnya baru dibuka: penuh isinya, tapi susah sekali dikeluarkan. Macet. Ketika dipaksa, daya ungkap mereka miskin, kaku, dan kadang rumit. Anehnya, untuk mahasiswa, kerumitan itu seakan dianggap sebagai simbol intelektuali tas. Semakin susah dimengerti, semakin intelek.

    Semula saya menganggap kegagapan mereka karena para siswa jarang menulis. Mungkin mereka perlu sedikit latihan agar daya ungkap mereka menjadi lancar. Tapi anggapan ini ternyata salah. Saat diminta mengungkapkan sesuatu secara lisan, mereka juga gagap.

    Hal ini sebenarnya sudah lama saya curigai. Setiap menonton liputan konser musik pop di televisi, para penonton remaja selalu mempunyai jawaban yang seragam.Ketika dita nya bagaimana konsernya, mereka menjawab: "Keren banget," "Bagus banget." Saya tidak mempermasalahkan kata-kata keren dan banget,tapi soal adjektiva yang dipakai. Selain itu-itu saja, mereka ternyata amat jarang bisa menjelaskan apa bagusnya, apa keren-nya. Mendeskripsikan sesuatu tampaknya lebih sulit daripada soal ujian akhir nasional.

    Penyakit ini kemudian dibawa hingga tua. Mulai dosen, pengacara, peneliti, sampai polisi dan pejabat selalu kesulitan menerangkan sesuatu. Jangankan memudahkan sesuatu yang rumit, menerangkan hal sederhana saja harus berputar-putar tak keruan. Saat saya meminta selebritas mendeskripsikan diri sendiri untuk melengkapi tulisan profil mereka, mereka selalu memulai jawabannya dengan: "Hem... apa ya?" Lalu jeda lama dan diakhiri dengan jawaban yang klise. Lebih dari separuh mereka akan berkata, "Saya itu orangnya mengalir seperti air." Membosankan.

    Bahasa dicipta kan untuk mengungkapkan apa yang kita pikir dan rasa. Tapi kenyataan di atas menunjukkan bahwa ada kegagalan berbahasa di banyak kalangan. Saya kemudian bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan pelajaran bahasa Indonesia? Kenapa teori-teori yang pelik itu tidak mampu membuat mereka lebih mudah menggunakan bahasa ini? Kalau mau menyalahkan pendidikan bahasa di sekolah, gampang saja. Selain itu, soal itu sudah berkali-kali dibahas di kolom ini.Jarangnya pelajaran membaca karya sastra dan praktek mengarang memang masalah utama dalam hal ini. Tapi, selain itu, ada soal lain.

    Tampaknya, bahasa Indonesia bagi suku selain Melayu belum benar-benar menjadi bahasa ibu. Tentu saja, bisa dikatakan semua orang Indonesia kini bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Tapi itu sangat terbatas. Daya ungkap itu kaku dan miskin gaya. Tidak luwes. Hal ini berbeda dengan saat orang-orang Melayu bicara.Mereka lebih fasih dan luwes. Mengobrol dengan mereka, kita akan menemukan banyak daya ungkap, amsal, dan peribahasa yang keluar bertaburan.

    Padahal, ketika memakai bahasa daerah, mereka tak kesulitan memasukkan pepatah atau amsal dalam perbincangan sehari-hari. Misalnya, saat menunggu sesuatu yang mustahil terjadi, orang Jawa Timur dengan santai berkata: "Ngenteni linggis kambang," atau menunggu linggis mengambang. Seperti menunggu Godot. Atau, orang Madura biasa berkata, "Poteh tolang ango poteh mata," lebih baik berputih tulang daripada berputih mata. Lebih baik mati daripada menanggung malu.

    Kekakuan kita berbahasa Indonesia tidak hanya terjadi dalam bahasa cakap yang informal, tapi juga dalam bahasa tulis. Coba perhatikan koran dan majalah kita. Hampir semua ungkapan ditulis dengan kalimat yang langsung pada inti permasalahan. Amsal dan peribahasa adalah barang langka. Kalaupun ada, pasti dijelaskan maksudnya. Bisa dibilang, gaya berbahasa kita adalah gaya yang minimalis. Sayang, keminimalisan ini bukan karena pilihan (ingin lebih efisien), melainkan karena keterpaksaan dan kemalasan berpikir.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Seni Rupa

Mendaras Cat Diatas Air

Wayang Orang di Mana-mana

Catatan Pinggir

Anak

Album

Juara
IPB dan Universitas Brawijaya

Surat Dari Redaksi

Surat dari Redaksi

TEMPO|interaktif

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif