• Home
  • 26 Juli 2010
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Selingan
    • Intermezzo
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
    • Sosok
  • Arsip
  • 26 Juli 2010

    Bukan Sakit Kepala Biasa

    Rita Sutanti kedatangan "tamu" tetap setiap dua minggu sekali, yaitu sakit kepala. Kejadian itu rutin menyerangnya selama tiga bulan belakangan. Padahal perempuan 44 tahun itu tidak sedang mengurangi makan untuk berjuang menurunkan berat badan, atau terkena penyebab puyeng lainnya, seperti stres akibat tekanan hidup. "Sakit kepala separuh, kadang sakitnya mulai pundak, leher, sampai ubun-ubun," katanya. Kalau sudah tak tertahankan, obat instan sakit kepala yang dijual bebas di warung pun ditenggaknya, kadang bisa sampai tiga butir sekali minum.

    Dua pekan lalu, ibu rumah tangga itu memeriksakan diri ke dokter. Sebab, dia merasakan ada kebas dari ujung lengan sampai pundaknya. Lalu dipin dailah kepalanya dengan CT scan. Ternyata beberapa pembuluh darah ke otaknya tersumbat. Ibu tiga putra itu hampir terserang stroke karena sumbatan tersebut.

    Belajar dari pengalaman Rita, kita memang wajib lebih waspada terhadap sakit kepala. Meskipun sebagian besar pusing tidak merupakan pertanda kehadiran penyakit lain biasa disebut sakit kepala primer (primary headache) (lihat "Bukan Selalu Gejala Stroke"), jangan pula anggap enteng sakit kepala. Jika tak awas, bisa menyebabkan kematian.

    Inilah yang kini menjadi perhatian serius para ahli saraf dan pembuluh darah. Mereka lebih memperhatikan soal sakit kepala sekunder (secondary headache), yaitu pusing yang dipicu oleh gangguan kesehatan lain, seperti tekanan darah tinggi, kelainan pembuluh darah, tumor, bahkan stroke itu sendiri. Masalah ter sebut didiskusikan di Rumah Sakit Siloam Karawaci, Tangerang, Ban ten, akhir bulan lalu, bersama dua ahli bedah saraf dari University of California San Francisco Medical Center, Randall T. Higa shida dan Nerissa U. Ko.

    Hasil pembahasannya bisa menjadi dasar penanganan rumah sakit yang bersangkutan agar lebih waspada terhadap pasien dengan keluhan sakit kepala sekunder. Sebab, bisa jadi sakit kepala itu merupakan stroke mini atau transient ischemic attack. Dan alang kah baiknya bila pasien dengan sakit kepala bisa terselamatkan dari stroke seperti Rita. Sebab, bila tidak, risiko yang jauh lebih serius niscaya menanti.

    Kewaspadaan serupa juga dilakukan di Inggris sejak pekan lalu. Lembaga yang bertanggung jawab atas pelayan an bedah pembuluh darah (Vascular Surgical Society) melakukan audit pe nanganan pasien sakit kepala di rumah-rumah sakit. Lembaga tersebut ingin memastikan pasien seperti itu langsung memperoleh pelayanan cepat dan tepat. Sebab, penanganan yang paling baik antara 48 jam dan tidak boleh lebih dari 14 hari setelah gejala muncul.

    Kebanyakan kasus stroke, menurut dokter spesialis radiologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Prijo Sidipratomo, berawal dari gejala ringan seperti sakit kepala, yang di sertai bingung, pandangan kabur, kesemutan, dan hilang keseimbangan. "Sakit kepala memang gejala stroke yang minimal tapi tak bisa dianggap biasa. Karena itu, harus ada pemeriksaan lanjutan, mungkin ditemukan kelainan," ujarnya.

    Pemeriksaan lebih lanjut biasanya dilakukan bila sakit kepala sampai kronis, seperti yang terjadi pada Rita: berlangsung selama tiga bulan. Menurut Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia itu, jika terkena stroke, seseorang masih bisa diselamatkan jika langsung dibawa ke rumah sakit kurang dari tiga jam setelah kejadian.

    Menurut dokter spesialis saraf Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, Ahmad Rizal Ganiem, sakit kepala sekunder bisa juga disebabkan oleh stroke.Pembuluh darah di otak sudah pecah, yang biasanya karena tekanan darah tinggi (hipertensi) yang tidak ditanggulangi secara tuntas.

    Stroke secara umum disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak dan penyumbatan pembuluh darah otak. Stroke bisa datang kapan saja tanpa disadari. Orang biasanya baru sadar ketika sudah pingsan atau terjadi kelumpuhan di salah satu sisi tubuhnya. Kejadian stroke akibat perdarahan di kelompok pasien orang Eropa sebesar 15 persen. Adapun di Asia, kejadian perdarahan sebagai penyebab stroke lebih banyak dari itu. Di Rumah Sakit Hasan Sadikin, lebih dari 40 persen kasus pasien stroke datang dengan keluhan pecahnya pembuluh darah.

    Namun dokter Nerissa U. Ko, neurointensivist dari University of California San Francisco Medical Center, berpendapat kudu hati-hati dalam menangani setiap kasus stroke yang disebabkan oleh sakit kepala. "Janganlah dilakukan tindakan agresif," ujarnya. Maksudnya, jika ada seseorang yang mengalami stroke, segera lakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebabnya, apakah bekuan darah atau perdarahan yang tidak bisa diatasi dengan obat penghancur bekuan darah. "Untuk masing-masing penyebab itu, akan diambil tindakan berbeda," katanya. Kalau masih bisa ditangani dengan obat penghancur darah beku, tak perlu diambil tindakan operasi (bedah).

    Ahmad Taufik, Anwar Siswadi (Bandung)


    Mengapa Pusing Rasanya Sakit

    1.Informasi tentang sentuhan, sakit, suhu, dan getaran di kepala serta leher dikirim ke otak oleh saraf trigeminal, yaitu satu dari 12 pasang saraf tengkorak (cranial) yang letaknya bermula dari dasar otak.

    2.Saraf-saraf tersebut memiliki tiga cabang yang berfungsi menimbulkan sensasi dari batok kepala, pembuluh darah di dalam dan luar tengkorak, garis yang melingkari otak (meninges), serta wajah, mulut, leher, telinga, mata, dan tenggorokan.

    Jaringan otak sebenarnya minim saraf sensitif rasa sakit alias tidak merasakan sakit. Sakit kepala terjadi bila ujung saraf sensitif rasa sakit (nociceptor) bereaksi terhadap pemicu pusing (seperti stres, makanan tertentu, bau menyengat, atau penggunaan obat) dan mengirimkan pesan melalui saraf trigeminal ke thalamus-bagian otak yang berfungsi "memancarkan" sensasi sakit-lalu ke seluruh tubuh. Thalamus yang juga mengontrol sensitivitas tubuh terhadap cahaya dan suara mengirimkan pesan ke bagian otak yang mengatur rasa sakit dan emosi. Namun bagian otak lain bisa juga ikut berproses sehingga menimbulkan rasa kebingungan, mual, tidak dapat berkonsentrasi, dan gejala reaksi saraf lain.

    Bukan Selalu Gejala Stroke

    Sembilan puluh persen sakit kepala tergolong nyeri kepala primer. Dua di antara tiga orang dewasa pasti pernah mengalami sakit kepala jenis ini sepanjang hidup. Menurut dokter spesialis saraf dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, Ahmad Rizal Ganiem, secara umum sakit kepala primer terbagi atas nyeri kepala akibat ketegangan, migrain, dan kluster.

    Migrain

  • Rasa nyeri kepala di separuh kepala umumnya disertai mual, muntah, dan rasa silau di mata saat serangan terjadi.
  • Dirasakan dalam jangka waktu lama, tapi tidak terjadi pertambahan intensitas nyeri kepala.

    Ketegangan (tensi)

  • Jenis nyeri kepala yang paling sering terjadi.
  • Pencetusnya antara lain telat atau tidak makan, kepanasan, juga kecemasan.
  • Terjadi kontraksi otot-otot kepala dan tengkuk secara terus-menerus. Saraf menjadi tegang sehingga menimbulkan kekejangan otot di belakang leher. Kekejangan otot ini akan menarik jaringan-jaringan pada permukaan tengkorak sehingga akan terasa nyeri yang bukan hanya terasa di belakang leher, melainkan juga di atas dan di depan kepala.

    Kluster

  • Biasanya menimpa lelaki pertengahan umur.
  • Rasa sakitnya hanya meliputi sebagian kepala dan biasanya terjadi di belakang mata serta menyerang secara tiba-tiba tanpa ada penyebabnya. Rasa sakit memuncak dalam waktu lima sampai sepuluh menit dan akan berangsur pulih dalam beberapa jam.
  • Biasanya terjadi ketika baru bangun tidur. Dalam beberapa kasus, seseorang bisa mengalaminya beberapa kali dalam seminggu.
  • Sakit kepala seperti ini juga bisa disebabkan oleh tersumbatnya rongga hidung sehingga membuat mata berair.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Seni Rupa

Mendaras Cat Diatas Air

Wayang Orang di Mana-mana

Catatan Pinggir

Anak

Album

Juara
IPB dan Universitas Brawijaya

Surat Dari Redaksi

Surat dari Redaksi

TEMPO|interaktif

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif