TEKNOLOGI komunikasi telah melahirkan aneka jejaring maya. Teknologi media ini menciptakan bermiliar citra dalam hitungan detik. Dalam masyarakat informasi citra beralih menjadi yang nyata. Sebaliknya, apa yang nyata hanya dapat dipahami melalui proses pencitraan.
"Provokasi" mengenai raibnya yang nyata (the real) dalam seni rupa kontemporer muncul dalam pameran Floating Horizon yang dikuratori oleh Agung Hujatnikajennong di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung. Karya-karya "media baru" umumnya menggunakan unsur digitization. Ada sesuatu yang dapat diprogram dan dijelaskan secara formal-matematis.
Lihatlah tiga tirai berwarna putih yang terpasang pada selapis kaca pemisah di salah satu ruang pamer. Pemasangan itu tampak tak mencolok. Tapi perhatikan beberapa saat, tirai itu menyingkap dan menutup dengan sangat perlahan. Karya Mothball (2006) Takao Minami, perupa dari Jepang, menggunakan alat kontrol yang memprogram dengan cermat gerakan tirai begitu rupa. Teknologi media menjadi kode "sublim" yang seakan menengarai batas-setipis apa pun-antara sang subyek dan (representasi) kenyataan.
Perupa tekno, Daito Manabe, menampilkan karya video kanal tunggal, Face Visualizer (2010). Kabel-kabel penghantar listrik yang dipasang di beberapa titik pada sejumlah wajah merangsang reaksi pada saraf, melahirkan berbagai gerak-gerik raut muka. Apakah mimik merepresentasikan emosi yang sesungguhnya? Manabe sering menggunakan "kejutan tekno" pada wajah manusiawi ini untuk program-program musiknya.
House of Natural Fiber (Honef), grup perupa media baru dari Yogyakarta, menyuguhkan Intelligent Bacteria (2010), karya instalasi yang "memproduksi" ragi untuk pembuatan alkohol. Tabung, botol, dan galon besar berisi bermacam cairan tersambung oleh kabel-kabel listrik yang melahirkan gelembung-gelembung udara yang diubah menjadi kode-kode bunyi.
Perupa Jompet dari Yogya menampilkan karya instalasi dengan serangkaian obyek mirip lebah dengan sayap-sayap yang bergerak mekanis (Java's Machine: the Third Realm, 2010). Obyek-obyeknya menyandang sejumlah simbol mirip tanda kerajaan di masa silam serta nama-nama pelabuhan terkemuka di masa kolonial, dari Batavia sampai Amsterdam. Sepasang sepatu bot memberikan asosiasi kehadiran sosok manusia. Inilah tafsir simbolik yang menggunakan elemen media baru.
Adapun karya Widianto Nugroho hanya menyajikan sebuah laptop dan proyeksi citra bergerak di dinding. Komputer itu sudah diprogram guna mentransmisikan bebunyian di sekitar menjadi kode-kode visual. Bersuaralah di sekitar karya Responsive Painting (2009) ini, maka akan terbentuk komposisi "lukisan" abstrak berwarna-warni yang baru pada layar. Dikotomi pada seni media baru semacam ini bukan lagi antara "isi" dan "bentuk", melainkan lebih sebagai "isi" dan "interface".
Kiranya inilah tanda hadirnya "komunikasi pascasimbol". Teknologi media meneguhkan anggapan perihal isomorfisme, yakni kesesuaian antara representasi mental dan efek-efek visual yang berasal dari luar. Tapi yang sesungguhnya berlangsung adalah pengguna komputer tanpa sadar mengikuti trayektori mental dari perancang media itu sendiri.
Ada juga karya video Prilla Tania, seniman muda dari Bandung. Prilla membuat performa dengan "melukis" image tertentu menggunakan kuas dan air di atas dinding hitam. Pada layar video dokumentasinya tampak sang seniman seakan menganggap bahwa yang virtual itu nyata.
Forum Lenteng /Akumasa/ Jurnal Footage menampilkan sejumlah karya video (2010) hasil pelatihan bersama sejumlah komunitas anak muda di berbagai kota. Di tangan mereka, seni (media baru) berkembang sebagai interaksi sosial yang nyata, bahkan berguna sebagai perekam peristiwa sehari-hari yang tak selalu teramati. Sesungguhnya, tidak sepenuhnya realitas raib dari seni rupa mutakhir ini.
Hendro Wiyanto
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
