• Home
  • 25 April 2011
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 25 April 2011

    Air Mata pun Darah

    Mimisan bagi Gita Maharani sungguh menyiramkan trauma. Berulang kali terjadi, darah mengucur dari lubang hidung tak berhenti beberapa hari. Padahal, bagi kebanyakan orang, dengan sumbatan kapas atau bisa juga daun sirih, darah pun mampet dalam hitungan menit. "Kalau ada orang bilang menangis darah, dia benar-benar mengalaminya," kata Onny, ibunda Gita, di rumahnya di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, pekan lalu. Saat ditemui Tempo, Gita duduk diapit ibunya dan Muhammad al-Amin, ayahnya.

    Keluarnya darah dari pelupuk mata Gita terjadi pada awal ia masuk sekolah menengah pertama, empat tahun lalu. Saat itu, dua lubang hidung Gita sudah ditutup dengan tampon kapas dan diperban. Tapi darah dari hidungnya mencari jalan keluar lain. Gita pun dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. "Itu pengalaman yang paling susah aku lupakan," kata Gita, kini 16 tahun.

    Perdarahan ekstra juga terjadi saat Gita mengalami haid pertama pada usia 13 tahun, dan pada tiga kali haid berikutnya. Banjir darah yang bergumpal-gumpal lebih dari sepekan terus terjadi hingga Gita harus dirawat di rumah sakit. Bahkan ia sempat mengalami koma lantaran haid ini. Derita Gita baru berhenti setelah dokter memasukkan cairan pembeku darah (cryo) ke tubuhnya.

    "Berdasarkan hasil laboratorium, dokter mendiagnosis Gita menderita penyakit Von Willebrand," kata Al-Amin. Penyakit ini terjadi, menurut Profesor Djajadiman Gatot, Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Hemofilia RSCM, jika seseorang kekurangan protein di dalam darah yang lazim disebut faktor Von Willebrandnama dokter asal Finlandia (Erik von Willebrand) yang mengurai masalah ini pada 1925.

    Dunia medis menyebut Von Willebrand sebagai penyakit keturunan, meski dalam sejumlah kasus, dugaan itu tak selalu benar. Gita misalnya. Onny dan Al-Amin mengaku tak mengidap penyakit itu.

    Federasi Hemofilia Dunia menyebut prevalensi Von Willebrand adalah 1 per 1.000. Lantaran gejalanya sangat ringan, banyak orang tidak tahu bawa dirinya mengidap penyakit ini. Von Willebrand lebih banyak menyerang wanita daripada pria.

    Lantaran kasusnya terhitung berat, tiap kali Gita diopname, baik saat mimisan maupun haid, Al-Amin, pegawai swasta di bidang pengerahan tenaga kerja Indonesia, harus merogoh koceknya puluhan hingga ratusan juta rupiah. Untuk mencegah agar gadis hitam manis itu tak mengalami haid yang tak kunjung rampung, dokter menyuntikkan hormon leuprorelin acetate. Kini, meski hormon itu sudah berhenti disuntikkan, kata Gita, siswa kelas I SMA Negeri 71 Jakarta, "Aku tak haid lagi."

    Sebagai pengidap Von Willebrand, Gita sejak kecil juga gampang mengalami lebam dan bengkak jika tubuhnya terbentur sesuatu. Kalau dia terlalu lelah, pembengkakan dan nyeri di persendian, seperti di siku atau lutut, juga acap muncul. Agar penderitaannya tak makin hebat, ia cepat-cepat meminum obat asam traneksamat dan mengompres sendinya dengan es (icepack). Setelah nyeri dan bengkaknya hilang, Gita pun bisa beraktivitas lagi. Di sekolah, semua pelajaran dia ikuti, kecuali olahraga.

    Menurut Onny, sejak SMA, Gita tak lagi mimisan, sedangkan haidnya belum juga muncul. Ia berharap kondisi anaknya itu makin kuat. Sebab, jika Gita harus diopname lagi, biayanya lumayan besar, apalagi tanpa bantuan sepeser pun dari pemerintah. "Kami berharap pemerintah bisa membantu atau malah membebaskan biaya bagi penderita Von Willebrand dan hemofilia," kata Onny.

    DW


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

28 April

Buku

Pemberontakan yang Meletihkan

Tari

Sebuah Tanda Tanya untuk Kita

Asri, Tubuh, dan Eksperimen Video

Seni Rupa

Nostalgia Advertising Batavia

Album

Meninggal
Enoch Atmadibrata

TEMPO|interaktif

Olahraga

Thomas-Uber Gagal, Pelatnas PBSI Harus Dievaluasi

Nasional

Soksi Bentuk Satuan Tugas Pemenangan Ical

Cawagub Didik Tolak Pengunduran Penetapan DPT  

Internasional

Senator Australia Dukung Bebas Visa bagi WNI  

Nasional

Lulus Ujian, Siswa Madrasah di Bima Bantu Korban Banjir

Metro

Berkas Satu Pengeroyok Geng Motor Dilimpahkan  

Olahraga

Inter Milan Duetkan Milito-Longo

Olahraga

Kandaskan Korea, Cina Rebut Kembali Piala Uber

Seni & Hiburan

Promotor Konser Lady Gaga Belum Dapat 3 Izin

Internasional

Pakar: Iran Mampu Memproses Uranium untuk 5 Bom

Nasional

Bantuan untuk Korban Banjir di Bima Mulai Disalurkan

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif