• Home
  • 25 April 2011
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Internasional
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 25 April 2011

    Asri, Tubuh, dan Eksperimen Video

    Diiringi lagu India, Chaiyya Chaiyya, yang kini sedang populer, dua perempuan berbalut gaun mini setengah paha dan sepatu hak tinggi itu langsung mengundang perhatian. Dengan gaya kenes, mereka merayu penonton agar membeli telepon seluler terbaru, yang gambarnya terpampang pada layar monitor, lengkap dengan tulisan "Tekan *666# (Call/Yes)".

    "Hand phone yang saya pegang ini bodinya sangat ramping, sama seperti saya. Bisa dibuka, ditutup, juga bisa ditidurin, lo," kata mereka berpromosi, layaknya gadis-gadis sales promotion girl."HP ini juga sangat tahan lama. Ayo, Saudara, tinggal ketik bintang enam enam enam pagar, saya akan melayani Anda. Kita tunggu yaˇ¦ daah."

    Kehadiran dua pramuniaga seksi dengan ucapan-ucapan setengah menjurus ini menjadi sajian pembuka pentas tari Image karya Asri Mery Sidowati, yang digelar di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu dan Ahad dua pekan lalu.

    Penata tari ini ingin berbicara mengenai betapa susahnya perlawanan tubuh perempuan atas konstruksi sosial masyarakat. Ia menghadirkan adegan-adegan cukup berani di panggung. Empat penari perempuan dengan pakaian yang lebih mirip gaun tidur yang minim. Mereka tidur telentang, bergerak sesuka hati mereka, tak peduli bila baju yang dikenakan tersingkap.

    Di sudut panggung, seorang perempuan tampak berdiri bertolak pinggang sambil mengembuskan asap rokok. "Memangnya kenapa kalau perempuan mengenakan baju seksi, merokok, atau pulang malam?" katanya. Tapi ke mana pun para perempuan itu bergerak, sorot lampu panggung yang membentuk segi empat membatasi ruang gerak mereka.

    Asri menggunakan empat kamera video, yang diletakkan di setiap sisi panggung, sebagai properti utama pementasannya kali ini. Kamera itu merekam seluruh adegan di atas panggung, dan hasilnya langsung tersaji pada layar monitor raksasa yang melatari panggung. Ini merupakan upaya Asri mengandaikan tubuh-tubuh perempuan yang mengalami fragmentasi. "Itu untuk menunjukkan bagaimana tubuh digunakan untuk kepentingan-kepentingan di luar fungsi tubuh itu sendiri," ujarnya.

    Untuk membangun dramaturgi, pada awal pementasan, penonton disuguhi adegan pemotretan. Salah seorang penari berperan layaknya seorang fotografer memotret tiga penari lainnya dalam berbagai pose. Para penari yang menjadi obyek foto dituntut tampil cantik meskipun sejatinya mereka sudah lelah. Jadi, begitu fotografer menghilang ke balik panggung, tubuh ketiganya langsung terkulai di lantai, dan berusaha tampil seprima mungkin begitu sang fotografer muncul kembali. "Ups," teriak seorang penari sambil merapatkan kakinya. Dia seolah sadar, bagi perempuan, haram hukumnya duduk mengangkang. Di akhir sesi pemotretan itu, sang fotografer dengan gaya centil malah sibuk memotret dirinya sendiri. Dengan kameranya itu, berkali-kali dia juga memotret para penonton.

    Asri juga menggunakan sebuah kamera mini yang dipegang seorang penari. Dengan kamera itu, dia menelusuri inci demi inci lekuk tubuhnya, mulai jari-jari kaki, perut, belahan dada, sampai isi mulutnya. Di layar monitor kita bisa menyaksikan bagian pangkal lidah dan anak tekak yang bergoyang-goyang. "Ini bagian dari eksperimenku dengan kamera," tuturnya.

    Image sangat berbeda dengan karya Asri sebelumnya: Merah (2008). Merah, hanya ditarikan dua orang, tanpa banyak melakukan gerak, demikian sederhana tapi sublim. Sedangkan Image cerewet.

    Meskipun demikian, sebagai sebuah tontonan, Image menarik. Di akhir pertunjukan berdurasi sekitar satu jam itu, kita menyaksikan, perlahan-lahan para penari itu melepaskan rok yang mereka kenakan.

    "Tubuh yang kita miliki adalah hak prerogatif kita. Kita bebas melakukan apa saja terhadap tubuh yang kita miliki," kata Asri pede.

    Nunuy Nurhayati


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

28 April

Buku

Pemberontakan yang Meletihkan

Tari

Sebuah Tanda Tanya untuk Kita

Asri, Tubuh, dan Eksperimen Video

Seni Rupa

Nostalgia Advertising Batavia

Album

Meninggal
Enoch Atmadibrata

TEMPO|interaktif

Olahraga

Thomas-Uber Gagal, Pelatnas PBSI Harus Dievaluasi

Nasional

Soksi Bentuk Satuan Tugas Pemenangan Ical

Cawagub Didik Tolak Pengunduran Penetapan DPT  

Internasional

Senator Australia Dukung Bebas Visa bagi WNI  

Nasional

Lulus Ujian, Siswa Madrasah di Bima Bantu Korban Banjir

Metro

Berkas Satu Pengeroyok Geng Motor Dilimpahkan  

Olahraga

Inter Milan Duetkan Milito-Longo

Olahraga

Kandaskan Korea, Cina Rebut Kembali Piala Uber

Seni & Hiburan

Promotor Konser Lady Gaga Belum Dapat 3 Izin

Internasional

Pakar: Iran Mampu Memproses Uranium untuk 5 Bom

Nasional

Bantuan untuk Korban Banjir di Bima Mulai Disalurkan

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif